Jika prinsip Rawlsian ini kita dialogkan dengan esensi homili tentang Roti Pemberi Hidup, maka orientasi utama dari setiap lembar kebijakan publik haruslah dialokasikan bagi kaum Anawim- mereka yang miskin, tersingkir, dan tak punya kuasa untuk melobi elite.
Kebijakan penganggaran negara maupun daerah harus didesain dengan moralitas ekaristis: seberapa banyak post anggaran yang sengaja dipecah dan didistribusikan untuk mengentaskan kemiskinan ekstrem, menekan angka stunting, dan membebaskan rakyat dari kebodohan?
Jika anggaran publik lebih banyak terserap untuk membiayai fasilitas kemewahan birokrasi dan proyek seremonial yang hampa dampak, maka kekuasaan tersebut telah kehilangan basis legitimasi etisnya.
Perayaan ini sekaligus melempar kritik profetik yang menohok bagi para teknokrat yang terbiasa melihat keberhasilan pembangunan hanya dari angka-angka pertumbuhan ekonomi makro yang beku dan impersonal.
Pembangunan sejati, dalam perspektif filsafat kepemimpinan, harus menyentuh kedalaman eksistensial manusia; ia harus memberikan “hidup” dalam arti keberlanjutan eksistensi yang bermartabat bagi generasi hari ini dan masa depan.
Kita tidak bisa mengklaim sebuah kepemimpinan berhasil jika di balik megahnya infastruktur fisik yang dipamerkan, ada hak-hak dasar manusia yang diamputasi secara paksa demi melayani kepentingan pemilik modal.
Oleh karena itu, model kepemimpinan yang ditawarkan oleh filsafat politik ekaristis ini adalah kepemimpinan yang berani terluka (vulnerable leadership). Pemimpin yang siap menanggung risiko politik tertinggi demi membela kebenaran substantif.
Pengorbanan Kristus hingga hancur di kayu salib agar manusia memiliki hidup adalah batas terjauh dari konsep etika tanggung jawab (responsibility ethics) yang pernah tercatat dalam sejarah peradaban.
Ini adalah antitesis dari model kepemimpinan opor-tunistik yang gemar melempar tanggung jawab ke bawahan ketika kebijakan publik yang dikeluarkannya menuai kegagalan.
Dalam dunia yang kian dikepung oleh arus individualisme dan sekularisme radikal, spirit memecah diri menjadi instrumen penyembuh yang sangat krusial.










