Rumah, Pasangan Asing dan Hegemoni Patrilineal - FloresPos Net

Rumah, Pasangan Asing dan Hegemoni Patrilineal

- Jurnalis

Minggu, 21 Desember 2025 - 13:57 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Florentina Ina Wai

SETIAP menjelang Hari Ibu, ruang publik kita dipenuhi dengan glorifikasi atas pengorbanan perempuan. Ibu dipuja sebagai sosok yang tak kenal lelah, yang rela melenyapkan egonya demi keluarga.

Namun, di balik sanjungan itu, sebuah fenomena sosiologis yang sunyi namun semakin masif sedang terjadi: banyak perempuan Indonesia memilih pasangan hidup dari luar batas budayanya, khususnya dari budaya Barat.

Fenomena ini tidak bisa disederhanakan sebagai urusan “selera” atau pencarian status sosial. Ia adalah sebuah protes eksistensial terhadap struktur patriarki dan sistem patrilineal yang masih mencengkeram ruang domestik kita.

Dalam sistem patrilineal, perempuan sering kali hanya dipandang sebagai “instrumen”: rahim bagi penerus marga laki-laki dan tenaga kerja tak dibayar untuk urusan rumah tangga. Sosiolog menyebutnya unpaid care work.

Baca Juga :  Aktaion dan Cermin Kekuasaan

Fakta menunjukkan bahwa beban kerja domestik perempuan di Indonesia jauh melampaui laki-laki, sebuah ketimpangan yang dilegitimasi atas nama “kodrat” dan “ketaatan”.

Bagi banyak perempuan, rumah tidak lagi terasa sebagai ruang aman, melainkan institusi yang menuntut penghancuran diri. Inilah yang memicu “eksodus emosional”.

Menikah dengan pasangan asing dipandang sebagai jalan keluar untuk memperoleh kedaulatan diri. Budaya Barat, dalam pandangan mereka, menawarkan model relasi yang lebih egaliter: peran domestik dibagi secara adil, dan identitas perempuan tidak melebur sepenuhnya ke dalam keluarga besar suami.

Baca Juga :  Ketika Krisis Sosial Memukul Mental Masyarakat NTT, Siapa yang Bertindak?

Jika fenomena ini dibedah melalui karya Erich Fromm The Art of Loving, akar persoalannya menjadi jelas. Fromm menegaskan bahwa cinta sejati menuntut empat elemen: Care, Responsibility, Respect, dan Knowledge.

Struktur patriarki kita sering gagal menghadirkan Respect. Dalam definisi Fromm, menghormati berarti melihat seseorang sebagaimana adanya dan mendukungnya tumbuh sesuai keinginannya sendiri.

Namun, dalam hegemoni patrilineal, ibu sering kali tidak dilihat sebagai individu dengan mimpi dan trauma pribadi; ia hanya dipandang melalui fungsinya. Ketika seorang perempuan memilih pasangan asing, ia sebenarnya sedang mengejar elemen Respect yang hilang itu—ia ingin dicintai sebagai subjek, bukan sebagai objek fungsional.

Berita Terkait

Dari Panggung Sandiwara dan Hegemoni Kekuasaan Menuju Aksi Berkeadilan Nyata
Pengakuan Masyarakat Adat dan Hutan Adat di NTT: Jangan Berhenti pada Pengakuan
Elegi Sang Perantau (Ratapan Sunyi atas Martabat Manusia yang Terbungkam di Tanjakan Gunung Boy)
Kepemimpinan dalam Formasi Imamat: Membentuk Diri melalui Tanggung Jawab atas Yang Lain
Guru sebagai Agen Pemulihan: Membangun Komunitas Sekolah Tangguh Risiko Bencana Pasca Gempa Flores
‘Jeritan Sunyi’ di Tanah Lamaholot
Menjaga Urat Nadi Kepulauan: Dari Angkutan Perintis hingga RUU Daerah Kepulauan
Mencari Wajah Tuhan di Antara Puing
Berita ini 85 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 17 September 2026 - 19:19 WITA

Dari Panggung Sandiwara dan Hegemoni Kekuasaan Menuju Aksi Berkeadilan Nyata

Kamis, 17 September 2026 - 13:14 WITA

Pengakuan Masyarakat Adat dan Hutan Adat di NTT: Jangan Berhenti pada Pengakuan

Rabu, 16 September 2026 - 20:23 WITA

Kepemimpinan dalam Formasi Imamat: Membentuk Diri melalui Tanggung Jawab atas Yang Lain

Selasa, 15 September 2026 - 12:44 WITA

Guru sebagai Agen Pemulihan: Membangun Komunitas Sekolah Tangguh Risiko Bencana Pasca Gempa Flores

Senin, 14 September 2026 - 14:58 WITA

‘Jeritan Sunyi’ di Tanah Lamaholot

Berita Terbaru