Rumah, Pasangan Asing dan Hegemoni Patrilineal - FloresPos Net - Page 2

Rumah, Pasangan Asing dan Hegemoni Patrilineal

- Jurnalis

Minggu, 21 Desember 2025 - 13:57 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Keinginan untuk “mencari rumah di luar samudera” adalah bentuk agensi perempuan dalam melawan sistem yang menindas. Mereka sadar bahwa perubahan di dalam struktur lokal berjalan sangat lambat.

Maka, mencari pasangan dari budaya yang lebih menghargai individualitas menjadi langkah strategis untuk memutus rantai penderitaan yang mereka saksikan pada generasi ibu dan nenek mereka.

Fenomena ini sekaligus menjadi tamparan keras bagi laki-laki lokal dan struktur masyarakat kita. Ia adalah bukti otentik bahwa pola asuh dan pola relasi yang kita pertahankan selama ini gagal menawarkan rasa aman dan kesetaraan bagi perempuan. Jika rumah sendiri terasa seperti penjara, maka wajar jika para penghuninya mencari kemerdekaan di tempat lain.

Baca Juga :  Desember dan Hari Ibu

Menyambut Hari Ibu tahun ini, kita perlu berhenti sejenak dari rutinitas ucapan selamat yang normatif dan penuh basa-basi.

Ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar dan menuntut keberanian untuk diajukan: apakah kita sungguh mencintai Ibu sebagai manusia yang merdeka, dengan mimpi dan kehendaknya sendiri, atau kita hanya mencintai “pelayanan” yang ia berikan tanpa henti?

Fenomena relasi transnasional yang kian marak menjadi pengingat keras bahwa cinta sejati tidak pernah lahir dari penindasan. Seperti ditegaskan Erich Fromm, cinta adalah kekuatan aktif yang membebaskan, bukan belenggu yang mengekang.

Baca Juga :  Quo Vadis English Day  NTT

Mencintai Ibu dan perempuan secara umum berarti memberikan mereka kedaulatan penuh atas tubuh, pikiran, dan masa depannya. Sudah saatnya kita meruntuhkan tembok patriarki yang selama ini menjadikan rumah sebagai penjara, lalu membangun ruang yang benar-benar menghargai manusia sebagai subjek yang utuh.

Dengan begitu, tidak ada lagi perempuan yang harus melintasi samudra demi menemukan rasa hormat yang seharusnya mereka dapatkan di tanah kelahiran sendiri. Hari Ibu seharusnya menjadi momentum reflektif, bukan sekadar perayaan, untuk memastikan bahwa cinta yang kita berikan adalah cinta yang membebaskan. *

Penulis adalah Staf Publikasi dan Jurnal Ilmiah Stipar Ende

Berita Terkait

Mesin Tak Boleh ‘Memutuskan Hidup dan Mati’
Pesta Babi: Antara Pembangunan Nasional dan Hak Masyarakat Adat
Senjata yang Pulang, Perdamaian yang Tumbuh
Jejak Langkah, Tanah Rantau dan Rumah Pertama
Nelayan Kecil Masih Berjuang Sendiri di Tengah Laut
Penataan Ruang dan Hak Asasi (Catatan atas Kisah Penggusuran di Jalan Irian Jaya Ende)
Perpecahan Sosial sebagai Realitas Struktural
Ketika Sekolah Hanya Menjadi Nama (Seruan Darurat untuk Menguatkan Partisipasi Semesta dan Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua)
Berita ini 72 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 26 Mei 2026 - 19:56 WITA

Mesin Tak Boleh ‘Memutuskan Hidup dan Mati’

Jumat, 22 Mei 2026 - 16:43 WITA

Pesta Babi: Antara Pembangunan Nasional dan Hak Masyarakat Adat

Selasa, 19 Mei 2026 - 13:38 WITA

Senjata yang Pulang, Perdamaian yang Tumbuh

Selasa, 12 Mei 2026 - 13:48 WITA

Jejak Langkah, Tanah Rantau dan Rumah Pertama

Jumat, 8 Mei 2026 - 20:38 WITA

Nelayan Kecil Masih Berjuang Sendiri di Tengah Laut

Berita Terbaru

Kepsek SMA Negeri 1 Nangapanda, Simon Lowa, S.Pd (kiri) menyerahkan daging qurban kepada warga yang berhak menerimanya, Rabu (27/5/2026).

Nusa Bunga

SMA Negeri 1 Nangapanda Ukir Sejarah di Hari Raya Idul Qurban

Kamis, 28 Mei 2026 - 14:13 WITA

Feature

Sop Sapi Rasa Ayam (Diskusi Sekenanya)

Kamis, 28 Mei 2026 - 10:44 WITA

Nusa Bunga

Polres Sikka Salurkan 400 Paket Daging Kurban

Rabu, 27 Mei 2026 - 19:19 WITA

Nusa Bunga

Idul Adha 1447 Hijriah di Sikka dan Pesan Menjaga Persatuan

Rabu, 27 Mei 2026 - 17:57 WITA