Keinginan untuk “mencari rumah di luar samudera” adalah bentuk agensi perempuan dalam melawan sistem yang menindas. Mereka sadar bahwa perubahan di dalam struktur lokal berjalan sangat lambat.
Maka, mencari pasangan dari budaya yang lebih menghargai individualitas menjadi langkah strategis untuk memutus rantai penderitaan yang mereka saksikan pada generasi ibu dan nenek mereka.
Fenomena ini sekaligus menjadi tamparan keras bagi laki-laki lokal dan struktur masyarakat kita. Ia adalah bukti otentik bahwa pola asuh dan pola relasi yang kita pertahankan selama ini gagal menawarkan rasa aman dan kesetaraan bagi perempuan. Jika rumah sendiri terasa seperti penjara, maka wajar jika para penghuninya mencari kemerdekaan di tempat lain.
Menyambut Hari Ibu tahun ini, kita perlu berhenti sejenak dari rutinitas ucapan selamat yang normatif dan penuh basa-basi.
Ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar dan menuntut keberanian untuk diajukan: apakah kita sungguh mencintai Ibu sebagai manusia yang merdeka, dengan mimpi dan kehendaknya sendiri, atau kita hanya mencintai “pelayanan” yang ia berikan tanpa henti?
Fenomena relasi transnasional yang kian marak menjadi pengingat keras bahwa cinta sejati tidak pernah lahir dari penindasan. Seperti ditegaskan Erich Fromm, cinta adalah kekuatan aktif yang membebaskan, bukan belenggu yang mengekang.
Mencintai Ibu dan perempuan secara umum berarti memberikan mereka kedaulatan penuh atas tubuh, pikiran, dan masa depannya. Sudah saatnya kita meruntuhkan tembok patriarki yang selama ini menjadikan rumah sebagai penjara, lalu membangun ruang yang benar-benar menghargai manusia sebagai subjek yang utuh.
Dengan begitu, tidak ada lagi perempuan yang harus melintasi samudra demi menemukan rasa hormat yang seharusnya mereka dapatkan di tanah kelahiran sendiri. Hari Ibu seharusnya menjadi momentum reflektif, bukan sekadar perayaan, untuk memastikan bahwa cinta yang kita berikan adalah cinta yang membebaskan. *
Penulis adalah Staf Publikasi dan Jurnal Ilmiah Stipar Ende
Halaman : 1 2










