Anatomi Kekuasaan yang Memecah Diri: Radikalitas Ekaristi dalam Filsafat Politik Kepemimpinan - FloresPos Net - Page 3

Anatomi Kekuasaan yang Memecah Diri: Radikalitas Ekaristi dalam Filsafat Politik Kepemimpinan

- Jurnalis

Senin, 8 Juni 2026 - 09:46 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Praktik korupsi sistemik, perampasan ruang hidup masyarakat hukum adat, dan marginalisasi kaum miskin kota adalah bentuk nyata dari kanibalisme politik modem.

Di titik ini, esensi moral budaya kita yang komunal dan inklusif dihancurkan oleh syahwat keserakahan individual yang difasilitasi oleh instrumen negara.

Alih-alih menjadi pemberi hidup sebagaimana amanat homili, kekuasaan yang korup bertindak sebagai predator yang mengisap darah kehidupan warganya demi kelanggengan kekuasaan dinasti dan akumulasi modal kapitalis.

Dalam perspektif etika politik yang dikembangkan oleh Jürgen Habermas melalui teori Tindakan Komunikatif, kekuasaan yang memiliki legitimasi moral hanya bisa lahir dari ruang publik (public sphere) yang bebas dari dominasi dan represi.

Baca Juga :  Menakar Peluang dan Tantangan Kendaraan Roda Tiga di Indonesia

Meja perjamuan dalam homisi Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus adalah representasi filosofis yang sempurna dari ruang publik Habermasiah tersebut.

Di meja itu, tidak ada stratifikasi sosial, tidak ada bias kelas, dan tidak ada pengotakan kasta politik. Semua manusia duduk setara memakan roti yang sama.

Ini adalah simbol dari pengakuan mutlak terhadap hak-hak kewarganegaraan (citizenship) yang setara dan tanpa syarat dalam sebuah sistem demokrasi yang substansial.

Baca Juga :  Ketika Solidaritas Sosial Meretak di Jalanan

Namun, transformasi radikal dari seorang pemimpin yang “mengonsumsi rakyat” menjadi pemimpin yang “siap dikonsumsi oleh kepentingan rakyat” membutuhkan sebuah lompatan kesadaran moral yang luar biasa.

Konsep self-emptying atau kenosis yang sering dibahas dalam teologi politik adalah prasyarat utamanya. Pemimpin harus mampu mengosongkan dirinya dari kepentingan-kepentingan privat, ego sektarian, dan dorongan narsistik kekuasaan.

Tanpa adanya proses kenosis ini, kepemimpinan publik hanya akan jatuh pada praktik makiavelianis: menghalalkan segala cara demi mempertahankan takhta tanpa memedulikan etika.

Berita Terkait

Gempa Tektonik Flores, Solidaritas Kemanusiaan, dan IKAL Lemhannas Peduli Bencana Flores
Evaluasi 2 Tahun Prabowo-Gibran, Catatan Kritis Sektor Transportasi: Tantangan Keselamatan, Infrastruktur, dan Pelayanan
Berjalan Bersama Merawat Keadaban Publik dan Meneguhkan Solidaritas Kemanusiaan (Catatan dari Sarasehan Nasional FMKI)
Upaya Mengendalikan Truk ODOL dari Gerbang Kawasan Industri
Bisnis Thrifting di Kota Kupang: Gaya Hidup Hemat yang Menggerakkan Ekonomi
Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern
Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan
Tanah yang Menolak Dibungkam
Berita ini 105 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 08:45 WITA

Gempa Tektonik Flores, Solidaritas Kemanusiaan, dan IKAL Lemhannas Peduli Bencana Flores

Senin, 26 Oktober 2026 - 17:37 WITA

Evaluasi 2 Tahun Prabowo-Gibran, Catatan Kritis Sektor Transportasi: Tantangan Keselamatan, Infrastruktur, dan Pelayanan

Minggu, 25 Oktober 2026 - 17:57 WITA

Berjalan Bersama Merawat Keadaban Publik dan Meneguhkan Solidaritas Kemanusiaan (Catatan dari Sarasehan Nasional FMKI)

Kamis, 22 Oktober 2026 - 16:42 WITA

Upaya Mengendalikan Truk ODOL dari Gerbang Kawasan Industri

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 20:01 WITA

Bisnis Thrifting di Kota Kupang: Gaya Hidup Hemat yang Menggerakkan Ekonomi

Berita Terbaru

Blasius Apen, Kepala Bidang (Kabid) Produksi Tanaman Pangan (PTP) pada Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Mabar

Nusa Bunga

Puso, 100 Hektar Tanaman Padi dan Jagung di Manggarai Barat

Selasa, 27 Okt 2026 - 20:11 WITA