Anatomi Kekuasaan yang Memecah Diri: Radikalitas Ekaristi dalam Filsafat Politik Kepemimpinan - FloresPos Net - Page 2

Anatomi Kekuasaan yang Memecah Diri: Radikalitas Ekaristi dalam Filsafat Politik Kepemimpinan

- Jurnalis

Senin, 8 Juni 2026 - 09:46 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Namun, substansi ekaristi menawarkan antitesis yang membongkar kemapanan tersebut: kekuasaan tertinggi justru mewujud bukan dalam tindakan mencengkeram, melainkan dalam kerelaan untuk “dipecah-pecah” (fractio panis) dan dibagikan kepada mereka yang lapar akan keadilan ekonomi dan martabat kemanusiaan.

Logika memecah diri ini menemukan pembenaran ilmiahnya dalam teori Servant Leadership(Kepemimpinan Pelayan) yang digagas oleh Robert K. Greenleaf.

Greenleaf melangkah melampaui pragmatisme politik dengan berargumen bahwa pemimpin sejati harus terlebih dahulu meletakkan kediriannya sebagai pelayan yang memiliki hasrat primordial untuk memprioritaskan kebutuhan publik.

Baca Juga :  Menimbang Etika Politik Pilkades

Kepemimpinan bukan lagi tentang seberapa luas yurisdiksi kepatuhan yang bisa dikendalikan oleh sang penguasa, melainkan seberapa besar kapasitas eksistensial sang pemimpin untuk “menghabiskan” dirinya demi pencapaian kesejahteraan bersama (bonum commune).

Ketika Kristus melembagakan ekaristi melalui kalimat, “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagimu,” sebuah demarkasi etika politik yang baru sedang dipancangkan.

Pemimpin yang menganut mazhab filsafat ini tidak akan pernah melihat jabatan sebagai perisai kekebalan hukum atau instrumen pengeruk rente.

Jabatan diubah fungsinya secara radikal menjadi sebuah altar pengorbanan.

Baca Juga :  Peran Keluarga Mengatasi Krisis Moral Merujuk Ensiklik Familiaris Consortio

Konsep ini sejalan dengan kritik Karl Marx dalam “Economic and Philosophic Manuscripts” mengenai alienasi kekuasaan, di mana para penguasa kerap terasing dari realitas material penderitaan rakyatnya.

Kepemimpinan gaya ekaristis menolak alienasi itu; ia melebur secara struktural, menjadi “roti” yang siap dikonsumsi, disentuh, dan diuji akuntabilitasnya oleh masyarakat akar rumput.

Mari kita jujur melihat realitas empiris di sekitar kita. Berapa banyak pemimpin yang ketika berhasil menduduki kursi kekuasaan justru beralih fungsi menjadi “pemakan” bagi rakyatnya sendiri?

Berita Terkait

Gempa Tektonik Flores, Solidaritas Kemanusiaan, dan IKAL Lemhannas Peduli Bencana Flores
Evaluasi 2 Tahun Prabowo-Gibran, Catatan Kritis Sektor Transportasi: Tantangan Keselamatan, Infrastruktur, dan Pelayanan
Berjalan Bersama Merawat Keadaban Publik dan Meneguhkan Solidaritas Kemanusiaan (Catatan dari Sarasehan Nasional FMKI)
Upaya Mengendalikan Truk ODOL dari Gerbang Kawasan Industri
Bisnis Thrifting di Kota Kupang: Gaya Hidup Hemat yang Menggerakkan Ekonomi
Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern
Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan
Tanah yang Menolak Dibungkam
Berita ini 105 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 08:45 WITA

Gempa Tektonik Flores, Solidaritas Kemanusiaan, dan IKAL Lemhannas Peduli Bencana Flores

Senin, 26 Oktober 2026 - 17:37 WITA

Evaluasi 2 Tahun Prabowo-Gibran, Catatan Kritis Sektor Transportasi: Tantangan Keselamatan, Infrastruktur, dan Pelayanan

Minggu, 25 Oktober 2026 - 17:57 WITA

Berjalan Bersama Merawat Keadaban Publik dan Meneguhkan Solidaritas Kemanusiaan (Catatan dari Sarasehan Nasional FMKI)

Kamis, 22 Oktober 2026 - 16:42 WITA

Upaya Mengendalikan Truk ODOL dari Gerbang Kawasan Industri

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 20:01 WITA

Bisnis Thrifting di Kota Kupang: Gaya Hidup Hemat yang Menggerakkan Ekonomi

Berita Terbaru

Blasius Apen, Kepala Bidang (Kabid) Produksi Tanaman Pangan (PTP) pada Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Mabar

Nusa Bunga

Puso, 100 Hektar Tanaman Padi dan Jagung di Manggarai Barat

Selasa, 27 Okt 2026 - 20:11 WITA