Oleh: Kanisius Teobaldus Deki
DENGAN mata telanjang ada dua kenyataan sekaligus yang terpampang nyata. Keindahan Pulau Flores yang eksotik berseberangan dengan kemiskinan ektrim yang dialami warganya, khususnya di pesisir utara pulau ini. Sebuah kenyataan kontraris yang menimbulkan decak kagum sekaligus memancing keprihatinan.
Data memperlihatkan angka kemiskinan yang luar biasa. Pada tahun 2025, kabupaten Manggarai Timur memiliki angka kemiskinan 70,99 ribu jiwa (23,51% dari total jumlah penduduk).
Demikian halnya dengan kabupaten Manggarai Barat bertengger di angka 40,55 ribu jiwa (16,09% dari total penduduk). Sedangkan kabupaten Ngada berada di angka 20,40 ribu jiwa (11,22% dari total jumlah penduduk).
Kemiskinan masyarakat pesisir utara Flores antara lain terlihat pada pendapatan nelayan yang tidak stabil dan sangat bergantung pada musim; keterbatasan perahu, mesin, alat tangkap, penyimpanan dingin, dan pengolahan hasil laut; rantai pemasaran panjang sehingga posisi tawar nelayan rendah; terbatasnya akses terhadap modal, pendidikan, kesehatan, air bersih, dan pasar; kurangnya diversifikasi usaha ketika cuaca tidak memungkinkan melaut; belum optimalnya keterlibatan masyarakat dalam usaha wisata, jasa perahu, kuliner, pemanduan, homestay, dan penjualan produk lokal.
Kenyataan kemiskinan ini tentu membutuhkan jawaban. Dalam lini menjaga keindahan Flores secara esensial diperlukan paradigma berpikir kritis yang produktif.
Salah satu tantangan terberatnya ialah kemiskinan dan kerusakan lingkungan dapat membentuk lingkaran yang saling memperkuat: karena pendapatan rendah, masyarakat semakin bergantung pada eksploitasi sumber daya alam, penangkapan ikan dan pemanfaatan pesisir meningkat, terumbu karang, mangrove, dan stok ikan menurun, hasil tangkapan dan pendapatan kembali menurun, kemiskinan semakin sulit diputus.
Rantai ikatan logis antara kemiskinan dan peluang perusakan lingkungan menyadarkan kita bahwa konservasi tidak cukup dilakukan melalui larangan.
Perlindungan kawasan harus dibarengi dengan penguatan penghidupan masyarakat, akses modal, peningkatan keterampilan, pembagian manfaat wisata, serta kepastian ruang kelola tradisional.
Intervensi Program In-Flores
Proyek In-Flores (Investing in the Komodo Dragon and other Globally Threatened Species in Flores) adalah salah satu inisiatif konservasi yang didukung oleh Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Kementerian Kehutanan), Global Environment Facility (GEF), dan UNDP Indonesia.
Proyek ini bertujuan untuk memperkuat upaya konservasi spesies ikonik seperti komodo (Varanus komodoensis), kakatua kecil jambul kuning (Cacatua sulphurea), elang flores (Nisaetus floris), serta spesies terancam punah lainnya di Flores melalui pendekatan terpadu pada bentang darat dan bentang laut.
Editor : Wall Abulat
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya










