Theory of Change (ToC) In-Flores mengidentifikasi bahwa ancaman terhadap keanekaragaman hayati tidak hanya disebabkan oleh lemahnya tata kelola, tetapi juga oleh faktor-faktor sosial dan ekonomi.
Oleh sebab itu, In-Flores menempatkan mekanisme hibah sebagai instrumen transformasional untuk mendorong praktik pengelolaan lanskap berkelanjutan, meningkatkan kapasitas kelembagaan lokal, serta memastikan adopsi praktik konservasi melalui pembelajaran adaptif dan kolaborasi multipihak.
Causal Pathway 2 (Conservation-Based Economic Incentives) In-Flores menempatkan pengembangan usaha ramah keanekaragaman hayati dan ekowisata berbasis masyarakat sebagai instrumen utama untuk menciptakan insentif ekonomi yang mampu mengurangi tekanan terhadap keanekaragaman hayati sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Sementara itu, Causal Pathway 3 (Adaptive Management and Knowledge Sharing) menekankan pentingnya peningkatan kapasitas masyarakat, penguatan kelembagaan lokal, dokumentasi pembelajaran, dan replikasi praktik baik guna memastikan keberlanjutan dampak konservasi.
Salah satu outcome yang diharapkan dari pelaksanaan Proyek In-Flores adalah adanya model ekonomi alternatif dan kegiatan mata pencaharian baru yang dapat mendukung dan/atau sejalan dengan upaya pelestarian alam, untuk keberlanjutan finansial upaya konservasi keanekaragaman hayati dan kemanfaatan bagi masyarakat sekitar.
Hasil tersebut diharapkan dapat dicapai melalui upaya peningkatan partisipasi sektor swasta, pelibatan masyarakat sebagai subyek, diversifikasi pembiayaan untuk konservasi keanekaragaman hayati, serta pengembangan mata pencaharian masyarakat di seluruh bentang darat dan laut yang merupakan habitat komodo dan spesies terancam punah lainnya.
Sebagai rujukan utama untuk mencapai output tersebut, Lampiran 21 (Capacity assessment of local CBOs and businesses) pada dokumen perencanaan Proyek In-Flores telah menguraikan temuan-temuan terkait kemiskinan di perdesaan dan mata pencaharian berkelanjutan.
Asesmen secara mendalam telah dilakukan terhadap CBOs yang misinya berhubungan dengan ekonomi, bisnis dan mata pencaharian. Entitas tersebut terdiri atas badan usaha milik desa (BUMDes), koperasi, gabungan kelompok tani (Gapoktan), serta lembaga simpan pinjam (termasuk koperasi).
Berbagai kelemahan entitas bisnis CBOs tersebut ditemukan dalam pelaksanaan asesmen, yang terutama disebabkan oleh lemahnya kapasitas kelembagaan dan permodalan, sehingga menyebabkan banyaknya entitas yang tidak aktif beroperasi.
Sejalan dengan hal-hal tersebut di atas, In-Flores National Project Management Unit (NPMU) memprogramkan program pendampingan usaha masyarakat sekaligus penyaluran hibah mikro.
Editor : Wall Abulat
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya










