Anatomi Kekuasaan yang Memecah Diri: Radikalitas Ekaristi dalam Filsafat Politik Kepemimpinan - FloresPos Net - Page 4

Anatomi Kekuasaan yang Memecah Diri: Radikalitas Ekaristi dalam Filsafat Politik Kepemimpinan

- Jurnalis

Senin, 8 Juni 2026 - 09:46 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kita hari ini sedang mengalami krisis gizi moral akibat kelangkaan keteladanan politik. Kita merindukan figur-figur pemimpin yang laksana “roti hidup” di tengah gersangnya nilai kemanusiaan.

Pemimpin yang tidak gentar popularitas atau elektabilitasnya merosot demi menegakkan supremasi hukum yang berkeadilan.

Pemimpin yang rela reputasi politiknya “pecah” di tingkat elit asalkan pemenuhan hak-hak konstitusional warga negara di tingkat akar rumput terjamin penuh.

Sayangnya, komodifikasi politik elektoral hari ini justru lebih sering memproduksi para pemolek citra yang tampak populis di luar, namun hampa akan substansi etika pemerintahan di dalam.

Baca Juga :  Identitas Komunitarian dan Luka Kekerasan Sosial

Dalam konteks kebudayaan nusantara, kearifan lokal sebenarnya telah lama mengadopsi filsafat kepemimpinan yang memberi hidup ini.

Nilai-nilai tentang persaudaraan kosmis, gotong royong, dan penghormatan terhadap martabat manusia adalah hukum moral universal yang selaras dengan spirit teologis Tubuh dan Darah Kristus.

Ketika seorang pemimpin dengan dingin mengabaikan jeritan rakyat kecil yang kehilangan akses pelayanan kesehatan atau hak atas tanahnya, ia sedang melakukan penistaan ganda: melanggar konsensus moral budaya sekaligus menafikan esensi spiritualitas keagamaan yang ia peluk.

Baca Juga :  Ambisi Kekuasaan Mengorbankan Nelayan: PPI Alok Tersingkir dari Rencana Nasional

Secara yuridis-filosofis, konsep keadilan sosial yang termaktub dalam dasar negara kita adalah manifestasi konkret dari kewajiban distribusi kesejahteraan yang merata – sebuah tindakan “membagi-bagikan roti” secara adil dari hulu ke hilir.

John Rawls dalam A Theory of Justice mengingatkan kita bahwa keadilan adalah kebajikan utama dalam setiap institusi sosial.

Melalui prinsip perbedaan (difference principle), Rawls menekankan bahwa ketimpangan sosial dan ekonomi hanya dapat ditoleransi jika dan hanya jika pengaturan tersebut memberikan keuntungan terbesar bagi anggota masyarakat yang paling tidak beruntung.

Berita Terkait

Gempa Tektonik Flores, Solidaritas Kemanusiaan, dan IKAL Lemhannas Peduli Bencana Flores
Evaluasi 2 Tahun Prabowo-Gibran, Catatan Kritis Sektor Transportasi: Tantangan Keselamatan, Infrastruktur, dan Pelayanan
Berjalan Bersama Merawat Keadaban Publik dan Meneguhkan Solidaritas Kemanusiaan (Catatan dari Sarasehan Nasional FMKI)
Upaya Mengendalikan Truk ODOL dari Gerbang Kawasan Industri
Bisnis Thrifting di Kota Kupang: Gaya Hidup Hemat yang Menggerakkan Ekonomi
Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern
Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan
Tanah yang Menolak Dibungkam
Berita ini 105 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 08:45 WITA

Gempa Tektonik Flores, Solidaritas Kemanusiaan, dan IKAL Lemhannas Peduli Bencana Flores

Senin, 26 Oktober 2026 - 17:37 WITA

Evaluasi 2 Tahun Prabowo-Gibran, Catatan Kritis Sektor Transportasi: Tantangan Keselamatan, Infrastruktur, dan Pelayanan

Minggu, 25 Oktober 2026 - 17:57 WITA

Berjalan Bersama Merawat Keadaban Publik dan Meneguhkan Solidaritas Kemanusiaan (Catatan dari Sarasehan Nasional FMKI)

Kamis, 22 Oktober 2026 - 16:42 WITA

Upaya Mengendalikan Truk ODOL dari Gerbang Kawasan Industri

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 20:01 WITA

Bisnis Thrifting di Kota Kupang: Gaya Hidup Hemat yang Menggerakkan Ekonomi

Berita Terbaru

Blasius Apen, Kepala Bidang (Kabid) Produksi Tanaman Pangan (PTP) pada Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Mabar

Nusa Bunga

Puso, 100 Hektar Tanaman Padi dan Jagung di Manggarai Barat

Selasa, 27 Okt 2026 - 20:11 WITA