Oleh: Fr. Pankrasius Tevin Lory
DI SETIAP aroma masakan yang mengepul dari dapur, tersimpan kisah panjang tentang perempuan yang setia meramu rasa, merawat tradisi, dan menjaga warisan pangan lokal masyarakatnya.
Kisah-kisah rasa yang lama hidup di dapur rumah tangga itu kini menemukan ruang baru untuk berbicara kepada dunia.
Melalui Festival Pangan Lokal di Kampung Adat Wogo, warisan kuliner yang dijaga perempuan keluar dari dapur-dapur sunyi menuju ruang publik sebagai perayaan budaya, identitas, dan harapan bagi masa depan pangan lokal.
Memori Pangan dari Tangan Perempuan
Dalam sebuah komunitas keluarga, dapur menjadi pusat kehidupan yang dinilai sangat penting. Di dalamnya, denyut kehidupan dipelihara, memori disimpan, dan nilai-nilai budaya ditanamkan.
Di ruang ini, perempuan sering hadir dengan perannya sebagai penjaga tungku dan pengolah pangan. Melalui aktivitas memasak, mereka meramu rasa dengan ketekunan dan belajar etika berbagi makanan untuk anggota keluarganya.
Seturut refleksi filsafat sosial, banyak pekerjaan penting manusia justru tidak terlihat secara publik. Hannah Arendt secara eksplisit membedakan antara labor, work, dan action. Labor berkaitan dengan pemeliharaan kehidupan sehari-hari, seperti memasak atau menyiapkan makanan.
Aktivitas ini kerap dianggap kurang penting dibandingkan kegiatan publik, tetapi sebenarnya merupakan dasar keberlangsungan kehidupan manusia. Tanpa kerja sehari-hari ini, aktivitas sosial dan politik tidak mungkin terjadi (Hannah Arendt, The Human Condition, 1998). Di balik setiap masakan yang terhidang di meja, tersimpan jejak panjang kebudayaan yang dirawat oleh tangan-tangan perempuan dari generasi ke generasi.
Berkenaan dengan ini, Sidney Mintz dalam Sweetness and Power (1985) menegaskan, praktik pangan selalu mengandung sejarah, identitas, dan relasi sosial. Perempuan sering diposisikan sebagai “penjaga memori pangan”.
Perempuan memiliki pengetahuan yang tersimpan rapi dari pengalaman di dapur rumah tangga (existing knowledge). Perempuan memiliki pengetahuan bawaan tentang jenis-jenis umbi, rempah, teknik pengasapan, fermentasi, dan penyimpanan pangan.
Pengetahuan ini diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi. Dalam konteks ini, dapur tidak hanya menjadi tempat produksi makanan, tetapi juga ruang produksi makna.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya










