Perempuan, Dapur dan Warisan Pangan Lokal (Meneropong Lebih Jauh Festival Pangan Lokal di Kampung Adat Wogo) - FloresPos Net

Perempuan, Dapur dan Warisan Pangan Lokal (Meneropong Lebih Jauh Festival Pangan Lokal di Kampung Adat Wogo)

- Jurnalis

Selasa, 17 Maret 2026 - 17:32 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Fr. Pankrasius Tevin Lory

DI SETIAP aroma masakan yang mengepul dari dapur, tersimpan kisah panjang tentang perempuan yang setia meramu rasa, merawat tradisi, dan menjaga warisan pangan lokal masyarakatnya.

Kisah-kisah rasa yang lama hidup di dapur rumah tangga itu kini menemukan ruang baru untuk berbicara kepada dunia.

Melalui Festival Pangan Lokal di Kampung Adat Wogo, warisan kuliner yang dijaga perempuan keluar dari dapur-dapur sunyi menuju ruang publik sebagai perayaan budaya, identitas, dan harapan bagi masa depan pangan lokal.

Memori Pangan dari Tangan Perempuan

Dalam sebuah komunitas keluarga, dapur menjadi pusat kehidupan yang dinilai sangat penting. Di dalamnya, denyut kehidupan dipelihara, memori disimpan, dan nilai-nilai budaya ditanamkan.

Baca Juga :  Tentang Yoris Nono vs PSN Ngada: 'Terlalu Emosional Om, Saya Ambil Gambar Air Mata Mau Jatuh'

Di ruang ini, perempuan sering hadir dengan perannya sebagai penjaga tungku dan pengolah pangan. Melalui aktivitas memasak, mereka meramu rasa dengan ketekunan dan belajar etika berbagi makanan untuk anggota keluarganya.

Seturut refleksi filsafat sosial, banyak pekerjaan penting manusia justru tidak terlihat secara publik. Hannah Arendt secara eksplisit membedakan antara labor, work, dan action. Labor berkaitan dengan pemeliharaan kehidupan sehari-hari, seperti memasak atau menyiapkan makanan.

Aktivitas ini kerap dianggap kurang penting dibandingkan kegiatan publik, tetapi sebenarnya merupakan dasar keberlangsungan kehidupan manusia. Tanpa kerja sehari-hari ini, aktivitas sosial dan politik tidak mungkin terjadi (Hannah Arendt, The Human Condition, 1998). Di balik setiap masakan yang terhidang di meja, tersimpan jejak panjang kebudayaan yang dirawat oleh tangan-tangan perempuan dari generasi ke generasi.

Baca Juga :  Paroki Kristus Raja Mbaumuku Ruteng Perkokoh Toleransi Agama Dalam Bingkai Rahmat Tahbisan Imam

Berkenaan dengan ini, Sidney Mintz dalam Sweetness and Power (1985) menegaskan, praktik pangan selalu mengandung sejarah, identitas, dan relasi sosial. Perempuan sering diposisikan sebagai “penjaga memori pangan”.

Perempuan memiliki pengetahuan yang tersimpan rapi dari pengalaman di dapur rumah tangga (existing knowledge). Perempuan memiliki pengetahuan bawaan tentang jenis-jenis umbi, rempah, teknik pengasapan, fermentasi, dan penyimpanan pangan.

Pengetahuan ini diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi. Dalam konteks ini, dapur tidak hanya menjadi tempat produksi makanan, tetapi juga ruang produksi makna.

Berita Terkait

LNBM: Mandiri, Profesional dan Berdampak Bagi Masyarakat
Judi Online, Budaya Healing dan Krisis Prioritas Masyarakat: Membangun Kesadaran di Tengah Godaan Gaya Hidup Instan
Konten Kaka Rindu Desa Adobala, Rutin Produksi Kopra Gunakan Pengering Energi Matahari
Jeritan Tanah Jengkalang-Manggarai dalam Terang Laudato Si
Kelompok Wolosina Watoboki Berdikari di Bidang Ekonomi Berkat Pengolahan Kelapa dan Usaha Simpan Pinjam
Meneropong Makna Di Balik Buku: Mutiara Harapan, Kumpulan Puisi Karya Sr. Lucia, CIJ
Masyarakat Harus Gunakan Lahan untuk Porang, Bukan untuk Tambang
Menguji Nurani di Jengkalang: Antara Jeritan Perut dan Panggilan Menjaga Bumi
Berita ini 250 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 9 Juli 2026 - 16:32 WITA

LNBM: Mandiri, Profesional dan Berdampak Bagi Masyarakat

Rabu, 8 Juli 2026 - 20:05 WITA

Judi Online, Budaya Healing dan Krisis Prioritas Masyarakat: Membangun Kesadaran di Tengah Godaan Gaya Hidup Instan

Rabu, 8 Juli 2026 - 10:49 WITA

Konten Kaka Rindu Desa Adobala, Rutin Produksi Kopra Gunakan Pengering Energi Matahari

Senin, 6 Juli 2026 - 18:33 WITA

Jeritan Tanah Jengkalang-Manggarai dalam Terang Laudato Si

Senin, 6 Juli 2026 - 12:14 WITA

Kelompok Wolosina Watoboki Berdikari di Bidang Ekonomi Berkat Pengolahan Kelapa dan Usaha Simpan Pinjam

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Stikes St.Elisabeth Keuskupan Maumere Masih Buka Pendaftaran

Sabtu, 11 Jul 2026 - 19:02 WITA