Dalam proses ini, pemerintah desa harus menjadi garda terdepan dalam menciptakan lingkungan yang mendukung pengembangan usaha kuliner perempuan.
Inisiatif baik ini sudah dimulai oleh masyarakat Kampung Adat Wogo, salah satu kampung adat yang terletak di Propinsi NTT, Kabupaten Ngada, Flores. Upaya konkret yang dilakukan adalah melalui penyelenggaraan Mini Festival Pangan Lokal dan Budaya.
Kegiatan ini terselenggara atas prakarsa Yayasan Bambu Lingkungan Lestari dan Yayasan KEHATI, yang dilaksanakan melalui kolaborasi dengan pemerintah desa setempat.
Festival ini menjadi ruang pertemuan antara tradisi dapur rumah tangga dengan ruang publik yang lebih luas. Melalui kegiatan ini, pangan lokal tidak lagi hanya dipahami sebagai konsumsi domestik keluarga, tetapi juga sebagai identitas budaya sekaligus potensi ekonomi desa.
Perempuan yang selama ini mengolah bahan pangan di dapur rumah tangga memperoleh kesempatan untuk menampilkan kreativitas kuliner mereka kepada masyarakat yang lebih luas.
Hemat penulis, festival ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga keberlanjutan pangan lokal. Selain itu, festival ini juga memiliki dimensi ekonomi yang penting. Festival ini menjadi media promosi bagi potensi desa wisata serta produk-produk pangan lokal yang dihasilkan masyarakat.
Kampung Adat Wogo sendiri merupakan ruang budaya yang memiliki nilai historis dan identitas tradisional yang kuat. Dengan latar arsitektur adat dan tradisi yang masih terpelihara, kampung ini menghadirkan pengalaman budaya yang autentik bagi para pengunjung. Keberadaan festival di ruang budaya seperti ini memperkuat hubungan antara kuliner lokal, tradisi masyarakat, dan potensi wisata desa.
Dengan demikian, festival ini tidak hanya menjadi perayaan kuliner dan budaya, tetapi juga menjadi simbol transformasi sosial, dari dapur rumah tangga menuju ruang publik yang lebih luas.
Di titik inilah pemberdayaan perempuan desa menemukan momentumnya, yaitu ketika pengetahuan kuliner tradisional yang mereka miliki mampu menjadi sumber penghidupan sekaligus sarana menjaga keberlanjutan budaya dan pangan lokal bagi generasi mendatang. *
Penulis Sedang Menjalani Masa Orientasi Pastoral di SMA Seminari Mataloko










