Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge
KETIKA lampu sorot menyala di Stadion Azteca, Meksiko, dan panggung-panggung serentak diterangi di Amerika Serikat serta Kanada, dunia tidak hanya menyaksikan pembukaan turnamen sepak bola terbesar. Kita sedang menyaksikan sebuah laboratorium sosial raksasa.
Piala Dunia 2026 akan dicatat sejarah sebagai edisi pertama dengan format 48 tim dan digelar di tiga negara sekaligus. Dari sudut pandang sosiologi, momen ini dapat dibaca lebih dalam. Ia tidak hanya berurusan dengan pesta olahraga.
Ia akan menjadi gambaran tentang dinamika kekuasaan, identitas, dan kapitalisme global kontemporer. Jika kita menanggalkan kacamata penggemar sepak bola sejenak dan memakai kacamata sosiologi, ada lima narasi besar yang tersirat di balik gemerlap upacara pembukaan ini.
Pertama, dekonstruksi hegemoni budaya barat. Secara tradisional, upacara pembukaan acara raksasa global sering kali didominasi oleh budaya pop Barat (Eropa dan Amerika Utara). Namun, kurasi artis pada pembukaan 2026 menunjukkan pergeseran kekuatan budaya yang signifikan. Kehadiran bintang dari Amerika Latin seperti Shakira dan Anitta, serta dominasi musisi Afrika seperti Burna Boy, Rema, dan Tyla, menandakan runtuhnya hegemoni budaya Barat.
Dalam kacamata sosiologi budaya, ini adalah pengakuan terhadap ‘soft power’ (kekuatan lunak) dari ‘Global South’. Genre musik dari negara berkembang kini memiliki daya tawar dan panggung yang setara. Ia tidak lagi hadir sebagai pelengkap, melainkan sebagai daya tarik utama.
Kedua, dialektika identitas dalam transnasionalisme. Karena diadakan di tiga negara, FIFA mengadakan rangkaian upacara di masing-masing tuan rumah. Fenomena ini memunculkan dinamika transnasionalisme yang unik.
Di satu sisi, ada upaya membentuk ‘identitas kolektif’ baru sebagai entitas tuan rumah Amerika Utara. Namun di sisi lain, setiap negara dengan kuat menonjolkan identitas nasionalnya.
Kanada, misalnya, secara spesifik menampilkan Michael Bublé, Alanis Morissette, dan Alessia Cara yang sangat merepresentasikan identitas musik mereka. Ini adalah dialektika sosiologis klasik antara homogenisasi (melebur menjadi satu entitas global) dan heterogenisasi (mempertahankan keunikan identitas nasional di tengah arus globalisasi).
Ketiga, komodifikasi budaya dalam logika kapitalisme. Momen yang dinantikan oleh warga dunia ini tentu tidak sebatas euforia semata. Deretan bintang global seperti Katy Perry, Future, hingga LISA yang tampil tidak bisa dilepaskan dari logika komodifikasi.
FIFA dan sponsor melakukan segmentasi pasar secara presisi. LISA untuk menangkap pasar Asia dan basis massa global K-Pop, Anitta untuk Amerika Latin, dan Afrobeats untuk pasar Afrika.
Upacara pembukaan telah bertransformasi dari ritual penyambutan menjadi instrumen kapital yang mengeksploitasi budaya pop untuk memaksimalkan audiens global dan keuntungan komersial.
Keempat, simbolisme ruang dan memori kolektif. Pembukaan utama dan laga perdana dipusatkan di Stadion Azteca, Mexico City. Dari sudut pandang sosiologi, stadion merupakan ‘ruang sakral’ yang menyimpan memori kolektif masyarakat.
Stadion Azteca, yang menjadi stadion pertama dalam sejarah yang menggelar dua laga pembuka Piala Dunia, berfungsi sebagai penghubung antara masa lalu dan identitas masyarakat Meksiko terhadap sepak bola sebagai ‘agama sekuler’. Pemilihan lokasi ini seakan melegitimasi Meksiko sebagai jantung sejarah sepak bola, menyeimbangkan dominasi narasi dari dua negara tuan rumah berbahasa Inggris.
Kelima, ‘collective effervescence’ di tengah dunia yang terpecah. Dalam terang gagasan Émile Durkheim, upacara ini menciptakan apa yang disebut ‘collective effervescence’ (kegembiraan atau ekstasi kolektif).
Ketika ratusan juta orang dari berbagai latar belakang ras, kelas sosial, agama, dan negara menonton upacara ini secara serentak, tercipta sebuah solidaritas sosial sesaat. Musik, tarian, dan euforia sepak bola berfungsi sebagai ‘lem sosial’ yang menyatukan masyarakat global yang kian terfragmentasi oleh polarisasi politik dan ketimpangan ekonomi.
Momen pembukaan Piala Dunia 2026 akan menjadi manifestasi dari bagaimana dunia hari ini bernegosiasi dengan perbedaan, pasar, dan sejarah.
Saat peluit akhir upacara dibunyikan dan pertandingan dimulai, kita tidak hanya menonton 22 pemain mengejar bola. Kita sedang menyaksikan masyarakat global sedang bercermin. Dan, pantulan yang kita lihat jauh lebih kompleks, menarik, dan penuh makna daripada sekadar skor di papan elektronik. *
Penulis adalah Staf Pengajar Stipar Ende










