Rumah yang Aman dan Perisai Tubuh - FloresPos Net

Rumah yang Aman dan Perisai Tubuh

- Jurnalis

Kamis, 12 Maret 2026 - 10:29 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Florentina Ina Wai

RUMAH seharusnya menjadi pelukan hangat, tempat dinding-dindingnya memberi rasa aman dan atapnya melindungi mimpi anak-anak.

Sayangnya, memasuki awal tahun 2026, kita menghadapi kenyataan pahit di mana rumah justru berubah menjadi penjara tanpa jeruji bagi banyak anak di sejumlah tempat seperti, Ende, Grobogan, hingga Pasuruan.

Di sana, predator tidak datang dengan wajah monster dari kegelapan, melainkan hadir sebagai ayah yang menyuapi makan, guru yang memberi nilai, atau paman yang membelikan mainan.

Kondisi perlindungan anak di Indonesia kini berada pada level yang sangat mengkhawatirkan. Data Kementerian PPPA mempertegas potret kelam ini dengan mencatat lebih dari 28.000 kasus kekerasan terhadap anak sepanjang tahun 2024, dan angka tersebut terus naik dengan 12.000 korban pada enam bulan pertama tahun 2025.

Fakta mencolok terlihat pada profil pelaku yang didominasi usia produktif, sehingga menghancurkan stigma lama bahwa ancaman berasal dari orang asing. Bahaya terbesar justru mengintai dari lingkaran domestik dan orang-orang terdekat.

Masyarakat sering kali bertanya dengan nada sinis kenapa korban tidak melawan atau lari. Pertanyaan ini mengabaikan derita psikologis yang dalam yang disebut Jennifer Freyd sebagai ‘Trauma Pengkhianatan’. Secara biologis, anak terikat pada Teori Kelekatan John Bowlby yang memprogram mereka mencari perlindungan pada figur otoritas saat takut.

Baca Juga :  Kontribusi Gereja Katolik Melestarikan Lingkungan Hidup Melalui Ensiklik Laudato Si

Bayangkan kengerian ketika sumber ketakutan itu adalah sosok yang sama dengan sumber perlindungan. Otak anak mengalami kelumpuhan mental di mana respon ‘Fight-or-Flight’ terkunci menjadi “Freeze”.

Ancaman pelaku untuk memindahkan korban adalah serangan psikologis keji karena bagi anak, kehilangan figur pelindung terasa lebih menakutkan daripada pelecehan itu sendiri. Mereka diam karena hancur, bukan karena setuju.

Sudah saatnya kita jujur bahwa menjaga nyawa anak lebih penting daripada menjaga “kesopanan” palsu. Memberikan edukasi seksual dini sering kali dianggap tabu, padahal menurut Teori Belajar Sosial Albert Bandura, itulah satu-satunya alat pertahanan diri yang nyata. Tanpa literasi tubuh, anak tidak akan tahu bahwa sentuhan tertentu adalah kejahatan.

Kita harus membekali mereka melalui tahapan penuh empati, dimulai dari usia dini dengan berhenti menggunakan istilah samaran seperti “burung” atau “bunga” dan menyebut nama anatomisnya secara jujur.

Seiring bertambahnya usia, orang tua perlu mengajarkan konsep persetujuan atau ‘consent’ agar anak paham bahwa mereka penguasa tunggal atas tubuh sendiri.

Ketika mereka memasuki usia remaja, penting untuk membedah anatomi manipulasi atau grooming agar mereka tahu bahwa perhatian tulus tidak pernah menuntut imbalan berupa akses terhadap privasi tubuh.

Baca Juga :  Ketika Sekolah Hanya Menjadi Nama (Seruan Darurat untuk Menguatkan Partisipasi Semesta dan Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua)

Di tengah situasi darurat ini, sungguh memuakkan melihat tren lagu edukasi area pribadi yang viral justru dijadikan bahan parodi demi likes.

Ketika orang dewasa menertawakan pesan keselamatan ini, mereka mengirimkan pesan destruktif bahwa pelecehan adalah bahan candaan.

Edukasi seksual adalah tentang kedaulatan manusia, jauh lebih penting daripada hiburan digital. Pencegahan sejati memerlukan lebih dari jeruji besi karena ia harus dimulai dari percakapan jujur di bawah atap rumah.

Kita perlu menghancurkan tembok tabu dengan menanggalkan eufemisme, wariskan hak veto agar anak berani berkata “Tidak” pada sentuhan tidak nyaman, serta pastikan edukasi berlangsung bermartabat tanpa dijadikan lelucon.

Mari kita berjanji untuk berhenti menjadi bangsa yang lebih peduli pada tabu daripada keselamatan.

Beri anak-anak kita senjata berupa pengetahuan dan ajarkan mereka satu mantra suci bahwa tubuh mereka adalah milik mereka sepenuhnya, serta suara mereka adalah kekuatan saat integritas mereka dilanggar. *

Penulis adalah Staf Publikasi dan Jurnal Ilmiah Stipar Ende

Berita Terkait

Menagih Janji Konektivitas di Perbatasan: Menyelamatkan Krayan dari Keterisolasian Multidimensi
Dari Panggung Sandiwara dan Hegemoni Kekuasaan Menuju Aksi Berkeadilan Nyata
Pengakuan Masyarakat Adat dan Hutan Adat di NTT: Jangan Berhenti pada Pengakuan
Elegi Sang Perantau (Ratapan Sunyi atas Martabat Manusia yang Terbungkam di Tanjakan Gunung Boy)
Kepemimpinan dalam Formasi Imamat: Membentuk Diri melalui Tanggung Jawab atas Yang Lain
Guru sebagai Agen Pemulihan: Membangun Komunitas Sekolah Tangguh Risiko Bencana Pasca Gempa Flores
‘Jeritan Sunyi’ di Tanah Lamaholot
Menjaga Urat Nadi Kepulauan: Dari Angkutan Perintis hingga RUU Daerah Kepulauan
Berita ini 44 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 17 September 2026 - 19:19 WITA

Dari Panggung Sandiwara dan Hegemoni Kekuasaan Menuju Aksi Berkeadilan Nyata

Kamis, 17 September 2026 - 13:14 WITA

Pengakuan Masyarakat Adat dan Hutan Adat di NTT: Jangan Berhenti pada Pengakuan

Kamis, 17 September 2026 - 11:28 WITA

Elegi Sang Perantau (Ratapan Sunyi atas Martabat Manusia yang Terbungkam di Tanjakan Gunung Boy)

Rabu, 16 September 2026 - 20:23 WITA

Kepemimpinan dalam Formasi Imamat: Membentuk Diri melalui Tanggung Jawab atas Yang Lain

Selasa, 15 September 2026 - 12:44 WITA

Guru sebagai Agen Pemulihan: Membangun Komunitas Sekolah Tangguh Risiko Bencana Pasca Gempa Flores

Berita Terbaru

Bentara Net

BENTARA NET: Merajut Asa di Atas Puing

Sabtu, 19 Sep 2026 - 11:05 WITA