Rocky Gerung: Sang Provokator Intelektual - FloresPos Net

Rocky Gerung: Sang Provokator Intelektual

- Jurnalis

Senin, 23 Maret 2026 - 19:18 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ia menolak untuk larut dalam arus.  Justru karena itu, ia menjadi arus yang mengganggu.

Oleh, Fr. Pankrasius Tevin Lory

Kritik sebagai Pilihan Keberadaan

Hannah Arendt dalam The Human Condition (1958) menekankan, berbicara di ruang publik adalah bentuk tindakan yang menegaskan keberadaan manusia sebagai makhluk politik.

Berbicara di ruang publik bukan sekadar hak, melainkan suatu bentuk keberanian ontologis. Diam, dalam konteks tertentu, justru bisa menjadi bentuk pengingkaran terhadap kemanusiaan itu sendiri.

Rocky, dengan segala kontroversinya, memilih untuk tidak diam. Ia menempatkan dirinya dalam risiko. Risiko ditolak, disalahpahami, bahkan diserang demi mempertahankan diskursus akal sehat. Dalam pilihan itu, ia menjadi lebih dari sekadar individu.

Ia menjadi fenomena eksistensial tentang keberanian menjadi subjek di tengah tekanan untuk menjadi objek. Ia tidak memilih menjadi objek yang dibentuk oleh opini, tetapi menjadi subjek yang membentuk makna. Ia menolak untuk larut dalam arus, dan justru karena itu, ia menjadi arus yang mengganggu.

Baca Juga :  Nada dari Timur: Ketika Suara Menjadi Cahaya

Keberanian untuk terus menjadi arus pengganggu merupakan bagian integral dari mekanisme demokrasi yang sehat. Kebebasan berpendapat, termasuk kritik terhadap pemerintah, menurut John Stuart Mill, merupakan syarat mutlak bagi pencarian kebenaran (John Stuart Mill, On Liberty, 1859).

Mill berargumen, membungkam pendapat berarti merampas kemungkinan kebenaran. Dalam kerangka ini, upaya membungkam figur kritis justru menunjukkan kelemahan kekuasaan, bukan kekuatannya. Sebab kekuasaan yang percaya diri tidak takut pada kritik. Ia justru bertumbuh melalui koreksi.

Oleh karena itu, kritik bukan lagi pilihan intelektual semata, melainkan pilihan eksistensial antara berjuang menyuarakan keadilan atau larut dalam kebisuan kolektif. Kritik, dalam arti terdalamnya adalah sebuah sikap yang menolak tunduk pada kenyamanan yang meninabobokan kesadaran.

Baca Juga :  Menuju Titik Balik (Refleksi: Mgr. Paulus Budi Kleden Pulang Kampung Waibalun)

Provokator Intelektual

Dalam dunia yang cenderung mencari kenyamanan intelektual, provokasi yang sering ditampilkan Rocky menjadi mekanisme penting untuk menjaga dinamika kesadaran kritis. Ia mengguncang tatanan berpikir kita. Gayanya yang sering dianggap mengguncang, membuat segelintir orang menganggapnya sebagai provokator.

Namun, jika ditelisik lebih jauh, provokasi, dalam arti yang paling jernih, bukanlah sekadar upaya untuk mengusik, melainkan panggilan untuk berpikir kembali. Rocky menolak menerima realitas sebagai sesuatu yang final. Ia memaksa kita keluar dari kebiasaan mengangguk tanpa bertanya.

Dalam kalimatnya yang tajam, tersembunyi sebuah undangan. Apakah yang kita yakini selama ini sungguh kita pahami, atau hanya kita warisi tanpa pernah diuji?

Berita Terkait

Doa, Etika Publik dan Harapan Perdamaian
Kondisi Fiskal Flores Timur dan Euforia Pencinta Sepak Bola
Buzzer, Akun Anonim dan Ancaman bagi Demokrasi Lokal
Wajah Sunyi Stigmatisasi dalam Masyarakat NTT
Semana Santa, Gelombang Modernitas dan Kohesi Sosial
Narasi dan Realita, Framing Media dalam Konflik dan Harmoni Sosial
Paradoks Pembangunan Pesisir: Menakar Kesiapan Substantif Kampung Nelayan Merah Putih di Bumi Nian Sikka
Memulihkan Wajah Manusia
Berita ini 59 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 14 April 2026 - 11:26 WITA

Doa, Etika Publik dan Harapan Perdamaian

Selasa, 14 April 2026 - 09:35 WITA

Kondisi Fiskal Flores Timur dan Euforia Pencinta Sepak Bola

Minggu, 12 April 2026 - 09:39 WITA

Buzzer, Akun Anonim dan Ancaman bagi Demokrasi Lokal

Selasa, 7 April 2026 - 20:06 WITA

Wajah Sunyi Stigmatisasi dalam Masyarakat NTT

Jumat, 27 Maret 2026 - 16:06 WITA

Semana Santa, Gelombang Modernitas dan Kohesi Sosial

Berita Terbaru

Opini

Doa, Etika Publik dan Harapan Perdamaian

Selasa, 14 Apr 2026 - 11:26 WITA

Opini

Kondisi Fiskal Flores Timur dan Euforia Pencinta Sepak Bola

Selasa, 14 Apr 2026 - 09:35 WITA

Nusa Bunga

Erosi Solidaritas Merusak Kemajuan Kehidupan Berkoperasi

Senin, 13 Apr 2026 - 20:44 WITA