Rocky Gerung: Sang Provokator Intelektual - FloresPos Net - Page 3

Rocky Gerung: Sang Provokator Intelektual

- Jurnalis

Senin, 23 Maret 2026 - 19:18 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kekuasaan, betapapun kuatnya, selalu membutuhkan koreksi dari suara yang berani. Keberadaan figur seperti Rocky bukanlah ancaman bagi negara, melainkan tanda bahwa demokrasi masih bernapas. Sebab demokrasi yang sehat bukanlah yang sunyi dari kritik, melainkan yang mampu menampungnya tanpa ketakutan.

Republic of Hope

Dalam karya monumentalnya The Principle of Hope (1986), Ernst Bloch menempatkan harapan sebagai prinsip ontologis dalam diri manusia. Harapan bukan sekadar perasaan, melainkan struktur kesadaran yang mengarah pada masa depan yang belum selesai (not-yet-being). Bloch menegaskan, manusia adalah makhluk yang belum selesai.

Baca Juga :  Kemiskinan yang Merajalela dalam Terang Ensiklik Rerum Novarum

Ia selalu berada dalam proses menjadi. Harapan, dalam konteks ini, adalah dorongan menuju kemungkinan yang belum terwujud. Dengan demikian, harapan memiliki dimensi politis. Ia mendorong manusia untuk mengubah realitas, bukan sekadar menerimanya.

Dalam horizon ini, Rocky tidak sekadar menjadi pengkritik. Ia menjadi semacam pengingat bahwa republik ini belum selesai ditulis. Setiap kritik yang ia lontarkan sesungguhnya adalah tanda bahwa masih ada sesuatu yang bisa diperbaiki.

Kritiknya adalah bentuk kepercayaan yang tersembunyi. Kepercayaan bahwa masyarakat belum kehilangan akal sehatnya, bahwa publik masih bisa diajak berpikir, dan bahwa masa depan belum dikunci oleh kekuasaan hari ini.

Baca Juga :  ‘Ordinary Magic’ di Tanah Pengungsian (Membaca Lewotobi dengan Kacamata Fromm)

Rocky tidak membawa harapan seperti seorang nabi membawa nubuat. Ia membawanya seperti seorang pengganggu membawa kegelisahan. Ia tidak menawarkan jawaban yang menenangkan, tetapi pertanyaan yang membangunkan.

Maka harapan yang lahir dari dirinya bukanlah harapan yang menjanjikan kepastian, melainkan harapan yang membuka kemungkinan. Ia tidak berkata bahwa segalanya akan baik-baik saja, tetapi ia menolak menerima bahwa segalanya sudah tidak bisa diubah. Justru karena kemungkinan-kemungkinan itu, kita masih punya alasan untuk berharap.*

Berita Terkait

Gempa dan Gempar: Dari Guncangan Alam Menuju Gerakan Meningkatkan Pendapatan Asli Rakyat Flores
Catatan Kemanusiaan Pascagempa Flores 2026: Tenda Pengungsian Bukan Tempat Aman bagi Perempuan dan Anak
Peran Strategis Inpres Jalan Daerah untuk Pemerataan Ekonomi dan Kawasan 3TP
Bencana, Apakah Membawa Berkah?
Gempa Tektonik Flores, Jurnalisme Terlibat, dan Pers Sebagai Pilar Keempat Demokrasi
Menghubungkan Titik Terluar: Urgensi Transportasi Publik di Perbatasan Kalimantan Barat
Urgensitas Solidaritas Kemanusiaan Gempa Tektonik Flores dan Manajemen Kesiapsiagaan Bencana
‘Ketika Gempa Berlalu, Siapa yang Peduli pada Mama Imelda?’
Berita ini 100 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 7 September 2026 - 09:18 WITA

Gempa dan Gempar: Dari Guncangan Alam Menuju Gerakan Meningkatkan Pendapatan Asli Rakyat Flores

Senin, 7 September 2026 - 08:03 WITA

Catatan Kemanusiaan Pascagempa Flores 2026: Tenda Pengungsian Bukan Tempat Aman bagi Perempuan dan Anak

Kamis, 3 September 2026 - 17:41 WITA

Peran Strategis Inpres Jalan Daerah untuk Pemerataan Ekonomi dan Kawasan 3TP

Rabu, 2 September 2026 - 19:43 WITA

Bencana, Apakah Membawa Berkah?

Selasa, 1 September 2026 - 18:16 WITA

Gempa Tektonik Flores, Jurnalisme Terlibat, dan Pers Sebagai Pilar Keempat Demokrasi

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Dewan Dorong Pemkab Manggarai Barat Selamatkan Pisang Marmi

Selasa, 8 Sep 2026 - 15:02 WITA