Kekuasaan, betapapun kuatnya, selalu membutuhkan koreksi dari suara yang berani. Keberadaan figur seperti Rocky bukanlah ancaman bagi negara, melainkan tanda bahwa demokrasi masih bernapas. Sebab demokrasi yang sehat bukanlah yang sunyi dari kritik, melainkan yang mampu menampungnya tanpa ketakutan.
Republic of Hope
Dalam karya monumentalnya The Principle of Hope (1986), Ernst Bloch menempatkan harapan sebagai prinsip ontologis dalam diri manusia. Harapan bukan sekadar perasaan, melainkan struktur kesadaran yang mengarah pada masa depan yang belum selesai (not-yet-being). Bloch menegaskan, manusia adalah makhluk yang belum selesai.
Ia selalu berada dalam proses menjadi. Harapan, dalam konteks ini, adalah dorongan menuju kemungkinan yang belum terwujud. Dengan demikian, harapan memiliki dimensi politis. Ia mendorong manusia untuk mengubah realitas, bukan sekadar menerimanya.
Dalam horizon ini, Rocky tidak sekadar menjadi pengkritik. Ia menjadi semacam pengingat bahwa republik ini belum selesai ditulis. Setiap kritik yang ia lontarkan sesungguhnya adalah tanda bahwa masih ada sesuatu yang bisa diperbaiki.
Kritiknya adalah bentuk kepercayaan yang tersembunyi. Kepercayaan bahwa masyarakat belum kehilangan akal sehatnya, bahwa publik masih bisa diajak berpikir, dan bahwa masa depan belum dikunci oleh kekuasaan hari ini.
Rocky tidak membawa harapan seperti seorang nabi membawa nubuat. Ia membawanya seperti seorang pengganggu membawa kegelisahan. Ia tidak menawarkan jawaban yang menenangkan, tetapi pertanyaan yang membangunkan.
Maka harapan yang lahir dari dirinya bukanlah harapan yang menjanjikan kepastian, melainkan harapan yang membuka kemungkinan. Ia tidak berkata bahwa segalanya akan baik-baik saja, tetapi ia menolak menerima bahwa segalanya sudah tidak bisa diubah. Justru karena kemungkinan-kemungkinan itu, kita masih punya alasan untuk berharap.*










