Oleh: Susana Claudia Cristina Yongsi
PEMERINTAH terus menggaungkan visi Generasi Emas 2045. Dalam berbagai pidato dan dokumen pembangunan, kita membayangkan lahirnya generasi yang unggul, produktif, dan mampu membawa Indonesia bersaing di tingkat global.
Namun, di balik optimisme itu, ada pertanyaan yang jarang dijawab dengan jujur: bagaimana mungkin kita berharap lahir generasi emas jika banyak anak dan remaja hari ini tumbuh dalam kecemasan yang tidak tertangani?
Kasus kematian seorang anak di Nusa Tenggara Timur beberapa waktu lalu sempat mengguncang publik (baca Pos Kupang edisi Rabu, 4 Februari 2026, Anak SD bunuh diri di Ngada, Ibu Korban: Saya pikir dia pergi ke sekolah). Kita terkejut, berduka, lalu melanjutkan rutinitas.
Padahal, tragedi seperti itu seharusnya menjadi alarm bahwa ada anak-anak yang hidup dengan beban terlalu berat untuk usia mereka, tetapi tidak selalu memiliki ruang aman untuk bercerita.
Kasus itu bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Ia mengingatkan kita bahwa masalah kesehatan mental pada anak dan remaja sering kali tidak terlihat sampai semuanya terlambat.
Masalah kesehatan mental anak dan remaja bukan lagi isu pinggiran. Ini bukan sekadar persoalan perasaan atau keluhan generasi muda. Ini adalah persoalan pembangunan manusia Indonesia.
Angka yang Tidak Bisa Lagi Diabaikan
Survei Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) menunjukkan bahwa satu dari tiga remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental. Artinya, di antara anak-anak yang setiap hari pergi ke sekolah dan menjalani aktivitas seperti biasa, banyak yang sebenarnya sedang menyimpan kecemasan, kesedihan, kemarahan, atau rasa putus asa yang tidak terlihat.
Data Kementerian Kesehatan melalui Program Cek Kesehatan Gratis memperkuat alarm tersebut. Dari sekitar tujuh juta anak yang menjalani skrining, 4,4% atau sekitar 338 ribu anak menunjukkan gejala kecemasan, sementara 4,8% atau sekitar 363 ribu anak menunjukkan gejala depresi. Meski bukan diagnosis akhir, melainkan hasil skrining awal, angka ini memberi sinyal bahwa ratusan ribu anak membutuhkan perhatian dan tindak lanjut yang serius.
Mereka bukan sekadar statistik. Mereka adalah anak-anak yang seharusnya sedang belajar, bermain, dan membangun mimpi, tetapi sebagian justru berjuang menghadapi tekanan yang sering tidak dipahami oleh orang dewasa di sekitarnya.
Anak-Anak yang Tumbuh dalam Tekanan
Anak-anak saat ini tumbuh dalam dunia yang semakin menuntut. Mereka diminta berprestasi di sekolah, membanggakan keluarga, aktif secara sosial, serta siap menghadapi masa depan yang semakin kompetitif.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya










