Generasi Emas yang Cemas (Krisis Sunyi di Balik Mimpi 2045) - FloresPos Net

Generasi Emas yang Cemas (Krisis Sunyi di Balik Mimpi 2045)

- Jurnalis

Minggu, 21 Juni 2026 - 11:14 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Susana Claudia Cristina Yongsi

PEMERINTAH terus menggaungkan visi Generasi Emas 2045. Dalam berbagai pidato dan dokumen pembangunan, kita membayangkan lahirnya generasi yang unggul, produktif, dan mampu membawa Indonesia bersaing di tingkat global.

Namun, di balik optimisme itu, ada pertanyaan yang jarang dijawab dengan jujur: bagaimana mungkin kita berharap lahir generasi emas jika banyak anak dan remaja hari ini tumbuh dalam kecemasan yang tidak tertangani?

Kasus kematian seorang anak di Nusa Tenggara Timur beberapa waktu lalu sempat mengguncang publik (baca Pos Kupang edisi Rabu, 4 Februari 2026, Anak SD bunuh diri di Ngada, Ibu Korban: Saya pikir dia pergi ke sekolah). Kita terkejut, berduka, lalu melanjutkan rutinitas.

Padahal, tragedi seperti itu seharusnya menjadi alarm bahwa ada anak-anak yang hidup dengan beban terlalu berat untuk usia mereka, tetapi tidak selalu memiliki ruang aman untuk bercerita.

Baca Juga :  Gerakan Buruh dalam Meningkatkan Kesejahteraan

Kasus itu bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Ia mengingatkan kita bahwa masalah kesehatan mental pada anak dan remaja sering kali tidak terlihat sampai semuanya terlambat.

Masalah kesehatan mental anak dan remaja bukan lagi isu pinggiran. Ini bukan sekadar persoalan perasaan atau keluhan generasi muda. Ini adalah persoalan pembangunan manusia Indonesia.

Angka yang Tidak Bisa Lagi Diabaikan

Survei Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) menunjukkan bahwa satu dari tiga remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental. Artinya, di antara anak-anak yang setiap hari pergi ke sekolah dan menjalani aktivitas seperti biasa, banyak yang sebenarnya sedang menyimpan kecemasan, kesedihan, kemarahan, atau rasa putus asa yang tidak terlihat.

Data Kementerian Kesehatan melalui Program Cek Kesehatan Gratis memperkuat alarm tersebut. Dari sekitar tujuh juta anak yang menjalani skrining, 4,4% atau sekitar 338 ribu anak menunjukkan gejala kecemasan, sementara 4,8% atau sekitar 363 ribu anak menunjukkan gejala depresi. Meski bukan diagnosis akhir, melainkan hasil skrining awal, angka ini memberi sinyal bahwa ratusan ribu anak membutuhkan perhatian dan tindak lanjut yang serius.

Baca Juga :  Pengaruh Media Sosial Dalam Pembentukan Jati Diri Mahasiswa

Mereka bukan sekadar statistik. Mereka adalah anak-anak yang seharusnya sedang belajar, bermain, dan membangun mimpi, tetapi sebagian justru berjuang menghadapi tekanan yang sering tidak dipahami oleh orang dewasa di sekitarnya.

Anak-Anak yang Tumbuh dalam Tekanan

Anak-anak saat ini tumbuh dalam dunia yang semakin menuntut. Mereka diminta berprestasi di sekolah, membanggakan keluarga, aktif secara sosial, serta siap menghadapi masa depan yang semakin kompetitif.

Berita Terkait

Demokrasi Desa yang Bermartabat
Paradoks Jalan Swadaya dan Ancaman Sistem Transportasi Nasional
Turun dari Gunung Tabor, Menjaga Rumah Bersama
Tiba di Kelas dengan Senyuman: Mengapa Guru Butuh Transportasi Layak?
Reo dan Pilihan Masa Depan: Membangun dari Laut atau Menggali dari Perut Bumi?
Judi Online, Budaya Healing dan Krisis Prioritas Masyarakat: Membangun Kesadaran di Tengah Godaan Gaya Hidup Instan
Jeritan Tanah Jengkalang-Manggarai dalam Terang Laudato Si
Meneropong Makna Di Balik Buku: Mutiara Harapan, Kumpulan Puisi Karya Sr. Lucia, CIJ
Berita ini 82 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 17 Juli 2026 - 13:16 WITA

Demokrasi Desa yang Bermartabat

Rabu, 15 Juli 2026 - 10:08 WITA

Paradoks Jalan Swadaya dan Ancaman Sistem Transportasi Nasional

Selasa, 14 Juli 2026 - 11:30 WITA

Turun dari Gunung Tabor, Menjaga Rumah Bersama

Selasa, 14 Juli 2026 - 10:40 WITA

Tiba di Kelas dengan Senyuman: Mengapa Guru Butuh Transportasi Layak?

Senin, 13 Juli 2026 - 10:22 WITA

Reo dan Pilihan Masa Depan: Membangun dari Laut atau Menggali dari Perut Bumi?

Berita Terbaru

Desa Kita

Demokrasi Desa yang Bermartabat

Jumat, 17 Jul 2026 - 13:16 WITA