Data Survei Kesehatan Indonesia 2023 menunjukkan bahwa pada kelompok usia 15-24 tahun yang mengalami depresi, hanya 10,4% yang memperoleh penanganan dari tenaga kesehatan. Pada kelompok yang masih berstatus pelajar, angkanya bahkan hanya 9,3%. Artinya, masalah kesehatan mental anak muda bukan hanya soal banyaknya gejala, tetapi juga soal jauhnya jarak antara kebutuhan dan akses terhadap pertolongan.
Banyak anak muda mungkin sudah menunjukkan gejala, tetapi tidak sampai ke layanan formal. Sebagian tidak tahu harus mencari bantuan ke mana. Sebagian takut dicap lemah atau bermasalah. Sebagian lain pernah mencoba bercerita, tetapi tidak mendapatkan respons yang membuat mereka merasa aman. Inilah ironi besar.
Di satu sisi, kita berbicara lantang tentang bonus demografi dan Generasi Emas 2045. Di sisi lain, infrastruktur kesehatan mental yang dibutuhkan untuk menopang generasi itu belum dibangun secara memadai.
Tanda-Tanda yang Sering Terlambat Dibaca
Krisis kesehatan mental remaja sering terlambat dikenali karena tanda-tandanya tidak selalu dramatis. Tidak semua anak yang depresi menangis di depan orang tua. Tidak semua remaja yang cemas terlihat panik. Ada yang tetap tersenyum, tetap masuk sekolah, dan tetap mengerjakan tugas, tetapi perlahan kehilangan minat terhadap hal-hal yang dulu mereka sukai.
Ada yang menjadi mudah marah, menarik diri, sulit tidur, kehilangan nafsu makan, atau sering mengeluh sakit tanpa sebab medis yang jelas. Sebagian memilih diam karena merasa tidak akan dimengerti. Mereka tidak selalu mencari perhatian. Mereka mungkin sedang mencari cara untuk bertahan.
Sayangnya, kita sering baru panik ketika semuanya terlambat. Setelah ada anak yang melukai diri, mencoba mengakhiri hidup, atau kehilangan arah, barulah muncul pertanyaan, “Mengapa tidak ada yang tahu?” Padahal, tanda-tandanya sering kali sudah ada. Yang kurang bukan selalu tanda, melainkan kepekaan untuk membacanya.
Skrining Harus Berujung Pertolongan
Mengatasi krisis kesehatan mental anak dan remaja tidak cukup dengan seminar sesekali, poster motivasi, atau kampanye singkat setelah sebuah kasus menjadi viral. Yang dibutuhkan adalah perubahan cara pandang dan sistem dukungan yang nyata.
Pertama, keluarga harus berhenti menganggap keluhan anak sebagai kelemahan. Mendengarkan anak bukan berarti memanjakan. Dari hubungan yang aman, anak belajar bahwa masalah dapat dibicarakan dan pertolongan boleh diminta.
Kedua, sekolah harus menjadikan kesehatan mental sebagai bagian nyata dari ekosistem pendidikan. Guru perlu dilatih mengenali tanda-tanda distres emosional, sementara layanan bimbingan konseling harus diperkuat dan didukung mekanisme rujukan yang jelas.
Ketiga, pemerintah perlu memastikan program skrining kesehatan mental tidak berhenti sebagai pengumpulan data. Anak-anak yang teridentifikasi memiliki gejala kecemasan, depresi, atau risiko psikologis lain harus mendapatkan tindak lanjut yang nyata melalui sistem rujukan yang mudah dijangkau.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya










