Pada saat yang sama, mereka hidup dalam tekanan digital berupa perbandingan sosial tanpa henti, standar kesuksesan yang dipamerkan setiap hari, komentar negatif, hingga perundungan daring.
Tekanan datang dari rumah, sekolah, media sosial, dan masyarakat. Anak dikejar nilai, prestasi, citra kehidupan sempurna, serta tuntutan untuk selalu berhasil.
Masalahnya, ketika anak mulai menunjukkan tanda kelelahan, respons yang muncul sering kali berupa penghakiman. Tidak sedikit yang mendengar kalimat seperti “jangan lebay”, “anak sekarang terlalu sensitif”, atau “dulu orang tua lebih susah tapi tetap kuat”.
Bagi orang dewasa, kalimat tersebut mungkin terdengar biasa. Namun bagi anak dan remaja, itu dapat dibaca sebagai penolakan. Mereka belajar bahwa perasaan mereka tidak penting. Akibatnya, banyak anak memilih diam bukan karena masalahnya selesai, tetapi karena mereka tidak yakin ada orang yang sungguh-sungguh mau mendengar.
Rumah, Sekolah, dan Negara yang Belum Cukup Hadir
Krisis kesehatan mental remaja tidak bisa dibebankan hanya kepada anak atau keluarganya. Ada tiga ruang besar yang semestinya menjadi penyangga, tetapi sering kali belum bekerja sebagaimana mestinya: rumah, sekolah, dan negara.
Di dalam keluarga, masih banyak orang tua yang lebih mudah membaca nilai rapor daripada perubahan emosi anak. Anak yang berprestasi dianggap baik-baik saja, meskipun diam-diam kehilangan semangat hidup. Padahal kesehatan mental tidak hanya dibentuk oleh kecukupan materi, tetapi juga kualitas hubungan emosional dengan orang dewasa yang merawatnya.
Sejumlah penelitian tentang pola asuh menjelaskan mengapa kehadiran emosional orang tua begitu penting. Abidin dkk. (2022), dalam studi terhadap remaja Indonesia, menemukan bahwa pola asuh suportif yang hangat, memberi struktur, dan mendukung kemandirian, berkaitan dengan kesejahteraan emosional remaja karena membantu anak merasa terhubung, merasa mampu, dan memiliki ruang untuk mengambil keputusan.
Temuan ini sejalan dengan Francis dkk. (2020) yang menegaskan bahwa remaja membutuhkan rasa aman dan kasih sayang dari orang tua, sementara pola asuh yang hangat namun konsisten lebih mendukung perkembangan psikologis mereka.
Di sekolah, fokus terhadap capaian akademik sering kali lebih besar dibanding perhatian terhadap kesehatan psikologis siswa. Ruang konseling masih kerap dipandang sebagai tempat bagi “anak bermasalah”, bukan ruang aman bagi siapa pun yang membutuhkan pertolongan.
Di tingkat negara, akses terhadap layanan kesehatan mental anak dan remaja masih belum merata. Jumlah tenaga profesional seperti psikolog klinis dan psikiater anak masih terbatas, terutama di luar kota besar. Kapasitas layanan kesehatan jiwa di tingkat primer juga belum merata, sementara stigma terhadap bantuan psikologis masih kuat.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya










