Generasi Emas yang Cemas (Krisis Sunyi di Balik Mimpi 2045) - FloresPos Net - Page 2

Generasi Emas yang Cemas (Krisis Sunyi di Balik Mimpi 2045)

- Jurnalis

Minggu, 21 Juni 2026 - 11:14 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pada saat yang sama, mereka hidup dalam tekanan digital berupa perbandingan sosial tanpa henti, standar kesuksesan yang dipamerkan setiap hari, komentar negatif, hingga perundungan daring.

Tekanan datang dari rumah, sekolah, media sosial, dan masyarakat. Anak dikejar nilai, prestasi, citra kehidupan sempurna, serta tuntutan untuk selalu berhasil.

Masalahnya, ketika anak mulai menunjukkan tanda kelelahan, respons yang muncul sering kali berupa penghakiman. Tidak sedikit yang mendengar kalimat seperti “jangan lebay”, “anak sekarang terlalu sensitif”, atau “dulu orang tua lebih susah tapi tetap kuat”.

Bagi orang dewasa, kalimat tersebut mungkin terdengar biasa. Namun bagi anak dan remaja, itu dapat dibaca sebagai penolakan. Mereka belajar bahwa perasaan mereka tidak penting. Akibatnya, banyak anak memilih diam bukan karena masalahnya selesai, tetapi karena mereka tidak yakin ada orang yang sungguh-sungguh mau mendengar.

Baca Juga :  Menimbang Etika Politik Pilkades

Rumah, Sekolah, dan Negara yang Belum Cukup Hadir

Krisis kesehatan mental remaja tidak bisa dibebankan hanya kepada anak atau keluarganya. Ada tiga ruang besar yang semestinya menjadi penyangga, tetapi sering kali belum bekerja sebagaimana mestinya: rumah, sekolah, dan negara.

Di dalam keluarga, masih banyak orang tua yang lebih mudah membaca nilai rapor daripada perubahan emosi anak. Anak yang berprestasi dianggap baik-baik saja, meskipun diam-diam kehilangan semangat hidup. Padahal kesehatan mental tidak hanya dibentuk oleh kecukupan materi, tetapi juga kualitas hubungan emosional dengan orang dewasa yang merawatnya.

Sejumlah penelitian tentang pola asuh menjelaskan mengapa kehadiran emosional orang tua begitu penting. Abidin dkk. (2022), dalam studi terhadap remaja Indonesia, menemukan bahwa pola asuh suportif yang hangat, memberi struktur, dan mendukung kemandirian, berkaitan dengan kesejahteraan emosional remaja karena membantu anak merasa terhubung, merasa mampu, dan memiliki ruang untuk mengambil keputusan.

Baca Juga :  Media Sosial dan Harapan Masyarakat

Temuan ini sejalan dengan Francis dkk. (2020) yang menegaskan bahwa remaja membutuhkan rasa aman dan kasih sayang dari orang tua, sementara pola asuh yang hangat namun konsisten lebih mendukung perkembangan psikologis mereka.

Di sekolah, fokus terhadap capaian akademik sering kali lebih besar dibanding perhatian terhadap kesehatan psikologis siswa. Ruang konseling masih kerap dipandang sebagai tempat bagi “anak bermasalah”, bukan ruang aman bagi siapa pun yang membutuhkan pertolongan.

Di tingkat negara, akses terhadap layanan kesehatan mental anak dan remaja masih belum merata. Jumlah tenaga profesional seperti psikolog klinis dan psikiater anak masih terbatas, terutama di luar kota besar. Kapasitas layanan kesehatan jiwa di tingkat primer juga belum merata, sementara stigma terhadap bantuan psikologis masih kuat.

Berita Terkait

Merdeka di Tanah Bergetar
Ketika Empat Belas Detik Bumi Flores Bergetar
Kilas Balik Konflik Sepak Bola NTT: Keamanan Semua Pihak Harus Menjadi Prioritas
Pendidikan dan Kemerdekaan: Menemukan Kembali “Rumah Bangsa” di Usia ke-81
Kontroversi Gol Persami vs BMP Flores Timur: Saat Sepak Bola NTT Diuji oleh Karakter Pertandingan
Angkutan Pelajar Aman (APA): Menjaga Keselamatan Siswa, Menghidupkan Angkutan Pedesaan Kabupaten Magelang
Soeratin Cup 2026 NTT: Menjaga Marwah Kompetisi dan Masa Depan Sepak Bola Muda
Ketika Badai Mengguncang Perahu Gereja: Apakah Kita Masih Mau Mendayung?
Berita ini 129 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 17 Agustus 2026 - 10:50 WITA

Merdeka di Tanah Bergetar

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 12:50 WITA

Ketika Empat Belas Detik Bumi Flores Bergetar

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 12:33 WITA

Kilas Balik Konflik Sepak Bola NTT: Keamanan Semua Pihak Harus Menjadi Prioritas

Jumat, 14 Agustus 2026 - 13:58 WITA

Pendidikan dan Kemerdekaan: Menemukan Kembali “Rumah Bangsa” di Usia ke-81

Kamis, 13 Agustus 2026 - 12:28 WITA

Kontroversi Gol Persami vs BMP Flores Timur: Saat Sepak Bola NTT Diuji oleh Karakter Pertandingan

Berita Terbaru

Suasana Apel Bendera HUT Kemerdekaan RI ke-81, Senin (17/8/2026) di RT 15 Kelurahan Sarotari Tengah, Kabupaten Flores Timur, Pulau Flores, NTT. Foto: Istimewa

Nusa Bunga

Merdeka di Tanah Bergetar

Senin, 17 Agu 2026 - 10:50 WITA