Keempat, kampanye publik tentang kesehatan mental harus dilakukan secara konsisten dan berbasis bukti. Masyarakat perlu memahami bahwa mencari bantuan psikologis bukan tanda kelemahan atau aib, melainkan bagian dari upaya menjaga kehidupan.
Pemerintah daerah, sekolah, Puskesmas, dan keluarga tidak boleh bekerja sendiri-sendiri. Anak yang berisiko harus ditolong dengan cepat, manusiawi, dan tanpa stigma.
Generasi Emas Dimulai dari Jiwa yang Sehat
Generasi Emas 2045 tidak akan lahir hanya dari kurikulum yang padat, sekolah yang kompetitif, atau slogan pembangunan yang ambisius. Generasi emas hanya mungkin lahir jika anak-anak hari ini tumbuh dalam lingkungan yang membuat mereka merasa aman, didengar, dan dihargai sebagai manusia utuh.
Kita tidak bisa terus meminta anak-anak kuat sambil mengabaikan luka yang mereka pikul. Kita tidak bisa terus menuntut mereka berprestasi sambil menutup mata terhadap tekanan yang mereka hadapi. Kita juga tidak bisa terus berbicara tentang masa depan bangsa sementara kesehatan jiwa generasi mudanya belum menjadi prioritas nyata.
Maka langkahnya harus dimulai sekarang. Orang tua perlu menyediakan telinga sebelum memberi nasihat. Sekolah perlu membuka ruang konseling yang aman. Pemerintah perlu memastikan setiap hasil skrining memiliki tindak lanjut. Masyarakat juga perlu berhenti menjadikan bantuan psikologis sebagai bahan stigma.
Indonesia boleh bermimpi tentang 2045. Namun percakapan tentang masa depan itu harus dimulai hari ini: di keluarga, sekolah, layanan kesehatan, dan ruang pembuat kebijakan. Sebab anak-anak kita tidak membutuhkan orang dewasa yang sempurna. Mereka membutuhkan orang dewasa yang hadir, mau mendengar dan berani bertindak sebelum semuanya terlambat. *
Penulis adalah PNS/Mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Gadjah Mada










