Generasi Emas yang Cemas (Krisis Sunyi di Balik Mimpi 2045) - FloresPos Net - Page 4

Generasi Emas yang Cemas (Krisis Sunyi di Balik Mimpi 2045)

- Jurnalis

Minggu, 21 Juni 2026 - 11:14 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Keempat, kampanye publik tentang kesehatan mental harus dilakukan secara konsisten dan berbasis bukti. Masyarakat perlu memahami bahwa mencari bantuan psikologis bukan tanda kelemahan atau aib, melainkan bagian dari upaya menjaga kehidupan.

Pemerintah daerah, sekolah, Puskesmas, dan keluarga tidak boleh bekerja sendiri-sendiri. Anak yang berisiko harus ditolong dengan cepat, manusiawi, dan tanpa stigma.

Generasi Emas Dimulai dari Jiwa yang Sehat

Generasi Emas 2045 tidak akan lahir hanya dari kurikulum yang padat, sekolah yang kompetitif, atau slogan pembangunan yang ambisius. Generasi emas hanya mungkin lahir jika anak-anak hari ini tumbuh dalam lingkungan yang membuat mereka merasa aman, didengar, dan dihargai sebagai manusia utuh.

Baca Juga :  Guru Penggerak Harus Berani ‘Tampil Beda’, Kreatif dan Inovatif Saat Pembelajaran di Kelas

Kita tidak bisa terus meminta anak-anak kuat sambil mengabaikan luka yang mereka pikul. Kita tidak bisa terus menuntut mereka berprestasi sambil menutup mata terhadap tekanan yang mereka hadapi. Kita juga tidak bisa terus berbicara tentang masa depan bangsa sementara kesehatan jiwa generasi mudanya belum menjadi prioritas nyata.

Maka langkahnya harus dimulai sekarang. Orang tua perlu menyediakan telinga sebelum memberi nasihat. Sekolah perlu membuka ruang konseling yang aman. Pemerintah perlu memastikan setiap hasil skrining memiliki tindak lanjut. Masyarakat juga perlu berhenti menjadikan bantuan psikologis sebagai bahan stigma.

Baca Juga :  Abnormalitas yang Dinormalisasi

Indonesia boleh bermimpi tentang 2045. Namun percakapan tentang masa depan itu harus dimulai hari ini: di keluarga, sekolah, layanan kesehatan, dan ruang pembuat kebijakan. Sebab anak-anak kita tidak membutuhkan orang dewasa yang sempurna. Mereka membutuhkan orang dewasa yang hadir, mau mendengar dan berani bertindak sebelum semuanya terlambat. *

Penulis adalah PNS/Mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Gadjah Mada

Berita Terkait

Menakar Ilusi 12 Program “Sahabat Sejati”: Ketika Janji Politik Menjadi Komoditas Kedunguan di Rai Belu
Tahun Baru Islam Momentum Perbaikan diri Masyarakat
Panggung Global dan Pergeseran Kekuasaan (Catatan Singkat Jelang Pembukaan Piala Dunia 2026)
Tiktok Bukan Dokter: Bahaya Self dari Media Sosial
Pendidikan adalah Hak yang Tak Dapat Dinegosiasikan: Menggugat Kebijakan Pembangunan di Lingkungan Sekolah
Anatomi Kekuasaan yang Memecah Diri: Radikalitas Ekaristi dalam Filsafat Politik Kepemimpinan
Merawat Tanah yang Merintih (Catatan Spiritual di Hari Lingkungan Hidup Sedunia)
Krisis sebagai Penggerak Transformasi
Berita ini 22 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 21 Juni 2026 - 12:31 WITA

Menakar Ilusi 12 Program “Sahabat Sejati”: Ketika Janji Politik Menjadi Komoditas Kedunguan di Rai Belu

Minggu, 21 Juni 2026 - 11:14 WITA

Generasi Emas yang Cemas (Krisis Sunyi di Balik Mimpi 2045)

Selasa, 16 Juni 2026 - 12:55 WITA

Tahun Baru Islam Momentum Perbaikan diri Masyarakat

Jumat, 12 Juni 2026 - 09:10 WITA

Panggung Global dan Pergeseran Kekuasaan (Catatan Singkat Jelang Pembukaan Piala Dunia 2026)

Kamis, 11 Juni 2026 - 20:18 WITA

Tiktok Bukan Dokter: Bahaya Self dari Media Sosial

Berita Terbaru

Opini

Generasi Emas yang Cemas (Krisis Sunyi di Balik Mimpi 2045)

Minggu, 21 Jun 2026 - 11:14 WITA