Stunting: Apa, Penyebab, Cara Mengenali dan Upaya Pencegahannya? - FloresPos Net

Stunting: Apa, Penyebab, Cara Mengenali dan Upaya Pencegahannya?

- Jurnalis

Selasa, 25 Juli 2023 - 14:29 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: dr. Adrianus Andri

STUNTING masih menjadi masalah kesehatan masyarakat utama di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, termasuk Indonesia.

Stunting pada anak mengacu pada gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang dialami anak akibat gizi buruk, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai.

Berdasarkan data Profil Kesehatan Kemenkes tahun 2021, kekurangan gizi pada balita berdasarkan indeks Tinggi Badan menurut Umur (TB/U) meliputi kategori sangat pendek dan pendek.

SSGI tahun 2021 menyatakan bahwa persentasestunted (sangat pendek dan pendek) sebesar 24,4%. Sedangkan data e-PPBGM sebesar 2,7% baduta sangat pendek dan 6,5% baduta pendek.

NTT menempati peringkat ke-2 sebagai provinsi anak balita dengan stunting terbanyak di Indonesia (15,7% dari seluruh populasi anak dengan stunting di Indonesia).

Lalu apa yang dimaksud dengan stunting itu sendiri? Dan mengapa stunting menarik untuk dibahas?

Stunting, per definisi menurut WHO, adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang dialami anak akibat gizi buruk, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai.

Anak-anak dapat dikatakan mengalami kondisi stunting apabila dari hasil pengukuran indeks Tinggi Badan menurut Umur (TB/U) berdasarkan grafik WHO atau CDC berada pada titik -2 SD (perawakan pendek/stunted) dan -3 SD (perawakan sangat pendek/severely stunted).

Cara mudah untuk menentukan indeks TB/U adalah dengan melihat grafik tersebut pada buku Kesehatan Ibu dan Anak yang dapat diperoleh dari Puskesmas terdekat. Apabila tinggi badan anak saat pengukuran berada pada garis dibawah skor -2 SD, maka anak dapat dikatakan mengalami kondisi stunting.

Baca Juga :  Menjahit Kreativitas, Mengatasi Krisis Pangan dengan Berpijak pada Ensiklik Caritas In Veritate

Kondisi stunting berbeda dengan arti gizi buruk (malnutrisi) secara umum, sebab seorang anak dapat dikategorikan mengalami gizi buruk dengan melihat beberapa parameter lainnya dari status antropometri, yakni indeks Berat Badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U), Berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) dan indeks massa tubuh menurut umur (IMT/U).

Sehingga, dapat disimpulkan gizi buruk menyebabkan stunting, tetapi stunting dengan sendirinya tidak menunjukkan kekurangan gizi (gizi buruk).

Mengapa mengetahui bahwa anak mengalami kondisi stunting atau tidak menjadi hal yang penting?

Kita ketahui bahwa salah satu parameter yang digunakan untuk menilai status gizi anak adalah melalui pengukuran tinggi badan.

Dengan mengetahui bahwa seorang anak dikategorikan stunting, maka orang tua perlu mewaspadai kondisi status gizi lain pada anaknya dengan mengukur berat badan dan dan indeks massa tubuh (IMT). Dari situ, dapat diperoleh apakah seorang anak memang mengalami gizi buruk atau tidak.

Lalu bagaimana langkah konkret mencegah kondisi stunting pada anak?

Dalam rangka mencegah kondisi stunting pada anak, perlu dilakukan perbaikan gizi perseorangan dan gizi masyarakat dalam upaya penerapan giziseimbang.

Baca Juga :  Perpustakaan, Literasi dan Transformasi Sosial

Setiap keluarga harus mampu mengenal, mencegah, dan mengatasi masalah gizi setiapanggota keluarganya.

Adapun upaya yang dilakukan untuk mengenal, mencegah, dan mengatasi masalah stunting yaitu dengan cara; Mengukur tinggi badan secara teratur; Memberikan ASI saja kepada bayi sejak lahir sampai umur 6 bulan (ASI Eksklusif); Menu makanan yang bervariasi; Menggunakan garam beryodium; Pemberian suplemen gizi sesuai anjuran petugas kesehatan; Suplemen gizi yang diberikan menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 51 tahun 2016 tentang Standar ProdukSuplementasi Gizi, meliputi kapsul vitamin A, tablet tambah darah (TTD), makanan tambahan untuk ibu hamil, anak balita, dan anak usia sekolah, makanan pendamping ASI, dan bubuk multi vitamin danmineral.

Mengapa penting mencegah stunting?

Kondisi stunting dapat menjadi salah satu penanda kecurigaan anak mengalami gizi kurang (atau bahkan gizi buruk).

Hal ini menjadi penting sebab kondisi stunting pada anak berkaitan dengan beban kesehatan jangka panjang pada anak, seperti keterlambatan perkembangan, penurunan imunitas, dan kerentanan terhadap resiko infeksi berulang di kemudian hari.

Segeralah mengukur tinggi badan setiap anak di rumah, dan apabila dicurigai mengalami stunting, maka bawalah anak ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat untuk memperoleh informasi dan tatalaksana yang lebih lengkap. *

Penulis adalah dokter, bertugas di RSUD Borong, Kabupaten Manggarai Timur, NTT

Berita Terkait

Antara Janji Energi Hijau dan Jeritan Ekologi
Ketika Solidaritas Ekonomi Berubah Menjadi Jerat Utang
Integrasikan Angkutan Umum ke Kawasan Permukiman, Mendorong Revisi UU LLAJ dan Perkim
Doxing, Luka Psikologis, dan Krisis Empati di Ruang Digital
Yeremia dan Rubuhnya Berhala Modern
Inovasi Pembiayaan dan Keadilan Mobilitas Transportasi Publik
Merayakan Iman, Bukan Mengorbankan Masa Depan Anak (catatan atas perayaan Sambut Baru)
Menagih Janji Konektivitas di Perbatasan: Menyelamatkan Krayan dari Keterisolasian Multidimensi
Berita ini 126 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 16:27 WITA

Antara Janji Energi Hijau dan Jeritan Ekologi

Senin, 28 September 2026 - 11:36 WITA

Ketika Solidaritas Ekonomi Berubah Menjadi Jerat Utang

Minggu, 27 September 2026 - 16:43 WITA

Integrasikan Angkutan Umum ke Kawasan Permukiman, Mendorong Revisi UU LLAJ dan Perkim

Minggu, 27 September 2026 - 12:58 WITA

Doxing, Luka Psikologis, dan Krisis Empati di Ruang Digital

Jumat, 25 September 2026 - 11:45 WITA

Yeremia dan Rubuhnya Berhala Modern

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Atasi Sampah, DLHP Sasar Anak-Anak dan Ibu Rumah Tangga Labuan Bajo

Selasa, 29 Sep 2026 - 19:46 WITA