Lilin-lilin Pelibas Dusta dan Salah Sangka - FloresPos Net

Lilin-lilin Pelibas Dusta dan Salah Sangka

- Jurnalis

Rabu, 22 Mei 2024 - 17:06 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gerald N. Bibang

Gerald N. Bibang

Oleh: Gerald N. Bibang
DI
hari Pentekosta, lilin paskah sudah tiada; tapi lilin-lilin lain tidak mati; Roh Kudus turun membuat terang abadi; hic et nunc, sekarang dan di sini, di dunia ini.

Di hari-hari mendatang, lilin-lilin itu tidak pernah padam; mereka mewujud dalam diri manusia-manusia pencari kebenaran; karena dengki dan kebohongan tidak pernah punya pangkal paha; sejauh-jauh mereka berlari; sekali waktu akan terkejar dan tercekik sendiri; dusta, cawe-cawe, dengki dan munafik tak pernah abadi.

Dengan lilin-lilin bernyala itu berdekatan-lah kami dengan kebenaran meski sering terasa berjauhan; kadang rasa teramat jauh tapi nurani kami merasa sangat dekat; seperti langit dan warna biru, seperti sepi menyeru dan diam yang membisu.

Dengan lilin-lilin bernyala itu, kami kandung kebenaran seperti mengandung mimpi; terendam di kepala tapi sayup-sayup sampai; hanya sunyi di bawah terang lilin mengajari kami agar tidak mencla mencle alias tidak mendua; agar berani berkata dan bertindak benar; agar satunya kata dan perbuatan adalah manusia yang benar-benar manusia; yang benar-benar manusia beretika; bukan manusia yang adalah binatang yang dikaruniai otak.

Baca Juga :  Pemimpin yang Memerdekakan

Di hari-hari mendatang sesudah Pentekosta; kami mencari pemimpin dan presiden yang anti korupsi, anti kolusi, anti munafik dan anti dusta; lilin-lilin itu tentu memberi terang; dan menumbuhkan mata yang bening dalam pikiran, perasaan dan seluruh jiwa kami; sebab tidak tahu lagi apa yang baik bagi hari esok kami; kini dan di sini, bumi kami baru saja habis diporak-porandakan sendiri oleh pemimpinnya yang licik dan cari untung sendiri; atas nama kata-kata dan niat yang saleh dan suci; sementara kami abai terhadap kasih-Mu yang abadi.

Lilin-lilin ini ialah kami-kami yang disemayamkan Roh Kudus dalam sanubari masing-masing; IA-lah penunjuk atas apa yang harus kami ucapkan di dalam doa-doa kami; betapa besarlah kerinduan kami untuk rebah di pangkuan-NYA; sambil menumpahkan tangis dan derita kami dalam mencari pemimpin dan presiden yang anti korupsi, anti kolusi dan anti munafik; krn mengejar mereka seperti mengejar bayang-bayang di senja yang remang-remang sepi; kata-kata mereka tak bisa kami rangkai; kalimat demi kalimat mereka makin kabur maknanya, tiada satu kata pun punya arti; sedang mulut kami seperti dikunci oleh pikiran-pikiran yang buntu dan perasaan yang mati.

Baca Juga :  P o k i r

Untunglah Roh Kudus di sanubari menunjukkan garis-garis yang membedakan seribu warna kehidupan kami; agar bangkit dari rendahnya mutu kehidupan kami dan berusaha melawan salah sangka luar biasa dalam peradaban kami; yang menganggap dunia adalah surga; yang menyangka bahwa menikmati dunia identik dengan menikmati surga; yang mempersamakan begitu saja dunia adalah surga; yang menganggap surga adalah urusan nanti di dunia sebelah sesudah kematian; dan bahwa surga adalah konstruksi ide-ide dari para pemalas dan penikmat-penikmat bebal yang memiliki otak sepenggal.

Untunglah ada lilin-lilin yang bernyala itu; mereka-lah yang menunjukkan ada Sang Maha Cahaya Sang Maha Terang; pengendali kereta dan perahu kami; sebab hanya Sang Maha Terang-lah Yang Mahatahu di mana letak rumah-NYA yang kami tuju; di mana kebenaran itu berada; yang tak pernah mati di tangan pendengki, pembebal dan pendusta; yang akan nongol dengan sendirinya di suatu saat yang tak disangka-sangka. *
Hic et nunc (kata Latin)=di sini dan sekarang

GNB (tmn aries, jkt:minggu:19.5.24:hari raya Pentekosta)

Berita Terkait

Merawat Kesehatan Mental Melalui Konseling Individu
Perempuan Manggarai: Memulihkan Mahkota yang Retak
Ketika “Kartini” Menjadi Simbol yang Berebut Makna
Di Balik Senyum dan Kebersamaan (Catatan Reflektif atas Kisah Kematian Bunuh Diri di NTT)
Doa, Etika Publik dan Harapan Perdamaian
Kondisi Fiskal Flores Timur dan Euforia Pencinta Sepak Bola
Buzzer, Akun Anonim dan Ancaman bagi Demokrasi Lokal
Wajah Sunyi Stigmatisasi dalam Masyarakat NTT
Berita ini 47 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 22 April 2026 - 20:28 WITA

Merawat Kesehatan Mental Melalui Konseling Individu

Selasa, 21 April 2026 - 12:56 WITA

Perempuan Manggarai: Memulihkan Mahkota yang Retak

Selasa, 21 April 2026 - 12:07 WITA

Ketika “Kartini” Menjadi Simbol yang Berebut Makna

Rabu, 15 April 2026 - 21:12 WITA

Di Balik Senyum dan Kebersamaan (Catatan Reflektif atas Kisah Kematian Bunuh Diri di NTT)

Selasa, 14 April 2026 - 11:26 WITA

Doa, Etika Publik dan Harapan Perdamaian

Berita Terbaru

Maria Lidia Ene

Opini

Merawat Kesehatan Mental Melalui Konseling Individu

Rabu, 22 Apr 2026 - 20:28 WITA