Oleh: Gebrile Mikael Mareska Udu
SEYOGIANYA cermin baik buruknya wajah republik ini berasal dari perilaku para pemimpinnya. Sayangnya dewasa ini, publik seperti merasa gerah hingga taraf yang akut ketika mendengar dan menyaksikan merosotnya keteladanan di kalangan para pemimpin bangsa sampai lingkup daerah.
Berbagai fakta menunjukkan bahwa keteladanan para elite politik sedang tidak baik-baik saja. Keteladanan hilang ketika para elite politik sibuk dengan pemuasan hasrat pribadi dan lupa bahwa mereka diutus untuk banyak orang.
Mereka sibuk mencapai segala sesuatu sekalipun dengan cara yang tidak halal. Keteladanan elite politik hanya menjadi ilusi belaka tatkala virus korupsi, kolusi, nepotisme, flexing (primordialisme), otoritarianisme, menggerogoti karakter pribadi mereka. Lantas publik bertanya, kepada siapakah kita harus mencontoh?
Sulit menemukan teladan di balik sikap elite politik. Keteladanan mereka menjadi samar-samar ketika mereka lebih sibuk mengurus proyek kesejahteraan diri dan keluarga.
Mereka juga kerap mempertontonkan sikap mereka yang cenderung hanya untuk menarik perhatian publik tanpa ada nilai yang berfaedah. Sebut saja elite politik yang lahir dari latarbelakang dunia entertainment. Mereka sibuk mempertontonkan panggung entertain dalam dunia perpolitikan.
Tujuannya hanya untuk menghibur publik sesaat bukan untuk kebaikan rakyat. Belum lagi keteladanan elite politik yang mandul ketika komunikasi politik tidak sesuai dengan realitas di lapangan.
Persoalan publik yang diutarakan tidak sesuai dengan penanganan yang dieksekusi. Misalnya belum lama ini Gubernur Nusa Tenggara Timur merasa gelisah dengan rendahnya kualitas pendidikan di NTT. Namun di satu sisi ret-ret para pejabat daerah NTT telah menelan dana sebesar 1 Miliar Rupiah.
Jika dipikirkan secara rasional, seperti kata Dr Marsel Robot, dosen FKIP Undana, bahwa dana itu bisa digunakan untuk meningkatkan kualitas guru sebagai pengajar dalam dunia pendidikan (Pos Kupang 24/09/2025).
Keteladanan sungguh menjadi krisis besar yang dihadapi bangsa ini. Bisa dipastikan juga bahwa semua krisis yang terjadi di berbagai bidang bermula dari krisis keteladanan itu.
Di hadapan rakyat ketika sebelum menjabat, para elite politik seperti pengemis yang meminta-minta perhatian rakyat. Namun setelah menjabat mereka seperti pohon yang lupa akarnya.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya










