Oleh: Arnoldus Dhae, S.Fil.
DALAM sebulan terakhir, handphone saya menerima banyak pesan WhatsApp dari berbagai pihak dan semuanya membahas tentang kasus tanah di Waduk Lambo. Sesungguhnya pro dan kontra soal tanah di Waduk Lambo sudah terjadi lama. Saya menyimak di berbagai pemberitaan media massa. Namun isu ini mulai menyala semakin terang dalam satu dua bulan terakhir ini.
Diawali oleh tulisan Pater Steph Tupeng SVD di media online Florespos.net. Kemudian ditanggapi oleh Pater Kamilus Ndona, CP., dimana tulisan Pater Mil, begitu beliau biasa disapa, membantah langsung tulisan Pater Steph Tupeng.
Saya dan Pater Mil itu satu paroki, Paroki St. Joane Baptista Wolosambi, Kecamatan Mauponggo. Beliau saat ini bertugas di Rendu, wilayah yang bersentuhan dengan Waduk Lambo.
Sebagai seorang jurnalis, saya tidak ingin masuk dalam substansi persoalan yang menjadi pembeda antara Pater Steph dan Pater Mil. Keduanya adalah orang yang sangat saya hormati dan saya junjung tinggi karena status imamatnya yang melekat erat dalam dirinya.
Pater Steph Tupeng, kami teman dekat, sering WhatsApp dan telpon. Kami lahir dari satu rahim akademik yang sama, STFK Ledalero, yang kini berubah nama menjadi IFTK Ledalero.
Sementara Pater Mil, kami satu paroki. Keluarganya banyak kenal saya, dan sebaliknya. Bahkan, kakak perempuan Pater Mil, Kakak Rince tinggal di Ende, tempat kami singgah, kalau lagi bermalam atau kendala perjalanan.
Sebagai seorang jurnalis, saya harus membaca segala macam informasi tentang kasus Waduk Lambo dalam perspektif media. Hanya ada dua pertanyaan besar, ketika media mengulik ulik konflik tanah di Waduk Lambo.
Pertama, apakah media dan sekaligus wartawannya benar-benar netral. Kedua, apakah media dan wartawannya benar benar independen. Ini dua pertanyaan yang penjelasannya bisa membias, bisa salah paham, salah persepsi. Netral dan independen dalam perspektif media, ibarat saudara kembar, mirip tapi tak sama.
Untuk itu izinkan saya menjelaskan secara analogi. Analogi itu bukan kebenaran yang mutlak, tetapi minimal bisa mengantar orang pada kebenaran itu sendiri. Sebab, dalam dunia yang semakin transparan di era teknologi informasi saat ini, dua kata ini sering disalahpahami, seolah bersaudara kembar yakni netral dan independen.
Sekalipun mirip, namun netral dan independen lahir dari rahim yang berbeda. Netral itu ibarat air. Dia bening, tak beraroma, tak berwarna, dan tak punya rasa. Ia hanya ada. Ia tak menolak ketika tangan manusia menuangkan pewarna merah ke dalamnya. Seketika ia menjadi merah. Ketika dituangi hitam, ia menjadi hitam.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya










