Netral dan Independen Media dalam Membaca Kasus Waduk Lambo - FloresPos Net

Netral dan Independen Media dalam Membaca Kasus Waduk Lambo

- Jurnalis

Kamis, 20 November 2025 - 08:33 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Arnoldus Dhae, S.Fil.

DALAM sebulan terakhir, handphone saya menerima banyak pesan WhatsApp dari berbagai pihak dan semuanya membahas tentang kasus tanah di Waduk Lambo. Sesungguhnya pro dan kontra soal tanah di Waduk Lambo sudah terjadi lama. Saya menyimak di berbagai pemberitaan media massa. Namun isu ini mulai menyala semakin terang dalam satu dua bulan terakhir ini.

Diawali oleh tulisan Pater Steph Tupeng SVD di media online Florespos.net. Kemudian ditanggapi oleh Pater Kamilus Ndona, CP., dimana tulisan Pater Mil, begitu beliau biasa disapa, membantah langsung tulisan Pater Steph Tupeng.

Saya dan Pater Mil itu satu paroki, Paroki St. Joane Baptista Wolosambi, Kecamatan Mauponggo. Beliau saat ini bertugas di Rendu, wilayah yang bersentuhan dengan Waduk Lambo.

Sebagai seorang jurnalis, saya tidak ingin masuk dalam substansi persoalan yang menjadi pembeda antara Pater Steph dan Pater Mil. Keduanya adalah orang yang sangat saya hormati dan saya junjung tinggi karena status imamatnya yang melekat erat dalam dirinya.

Baca Juga :  Bijak Bermedia Komunikasi Sosial Agar Tidak Terpenjara dalam Dunianya

Pater Steph Tupeng, kami teman dekat, sering WhatsApp dan telpon. Kami lahir dari satu rahim akademik yang sama, STFK Ledalero, yang kini berubah nama menjadi IFTK Ledalero.

Sementara Pater Mil, kami satu paroki. Keluarganya banyak kenal saya, dan sebaliknya. Bahkan, kakak perempuan Pater Mil, Kakak Rince tinggal di Ende, tempat kami singgah, kalau lagi bermalam atau kendala perjalanan.

Sebagai seorang jurnalis, saya harus membaca segala macam informasi tentang kasus Waduk Lambo dalam perspektif media. Hanya ada dua pertanyaan besar, ketika media mengulik ulik konflik tanah di Waduk Lambo.

Pertama, apakah media dan sekaligus wartawannya benar-benar netral. Kedua, apakah media dan wartawannya benar benar independen. Ini dua pertanyaan yang penjelasannya bisa membias, bisa salah paham, salah persepsi. Netral dan independen dalam perspektif media, ibarat saudara kembar, mirip tapi tak sama.

Baca Juga :  Koperasi Produsen Bangkit Jaya Perkuat Struktur Permodalan dan Tingkatkan Kesejahteraan Anggota

Untuk itu izinkan saya menjelaskan secara analogi. Analogi itu bukan kebenaran yang mutlak, tetapi minimal bisa mengantar orang pada kebenaran itu sendiri. Sebab, dalam dunia yang semakin transparan di era teknologi informasi saat ini, dua kata ini sering disalahpahami, seolah bersaudara kembar yakni netral dan independen.

Sekalipun mirip, namun netral dan independen lahir dari rahim yang berbeda. Netral itu ibarat air. Dia bening, tak beraroma, tak berwarna, dan tak punya rasa. Ia hanya ada. Ia tak menolak ketika tangan manusia menuangkan pewarna merah ke dalamnya. Seketika ia menjadi merah. Ketika dituangi hitam, ia menjadi hitam.

Berita Terkait

Menemukan Kembali Harapan Yang Hilang (Menelisik Praktik Judi Online dalam Perspektif Ajaran Sosial Gereja)
Menjaga Ruang Digital Tetap Bernas, Ketika Literasi Mengajak Kita Menebar Kebaikan Bukan Memadamkan Harapan
Antara Panggung Sandiwara, Fenomena Ijazah, dan Filosofi Non Scholae Sed Vitae Discimus
Menutup Celah Calo dan Membuka Akses Kerja: Urgensi Kolaborasi Lintas Kecamatan dalam Sosialisasi dan Mini Job Fair Dinas Nakertrans Sikka
Pancasila sebagai ‘Kalimatun Sawa’ di Tengah Tantangan Zaman
Antara Janji Energi Hijau dan Jeritan Ekologi
Ketika Solidaritas Ekonomi Berubah Menjadi Jerat Utang
Integrasikan Angkutan Umum ke Kawasan Permukiman, Mendorong Revisi UU LLAJ dan Perkim
Berita ini 558 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 14 Oktober 2026 - 09:49 WITA

Menemukan Kembali Harapan Yang Hilang (Menelisik Praktik Judi Online dalam Perspektif Ajaran Sosial Gereja)

Selasa, 13 Oktober 2026 - 18:56 WITA

Menjaga Ruang Digital Tetap Bernas, Ketika Literasi Mengajak Kita Menebar Kebaikan Bukan Memadamkan Harapan

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 13:51 WITA

Antara Panggung Sandiwara, Fenomena Ijazah, dan Filosofi Non Scholae Sed Vitae Discimus

Jumat, 9 Oktober 2026 - 21:13 WITA

Menutup Celah Calo dan Membuka Akses Kerja: Urgensi Kolaborasi Lintas Kecamatan dalam Sosialisasi dan Mini Job Fair Dinas Nakertrans Sikka

Jumat, 2 Oktober 2026 - 11:50 WITA

Pancasila sebagai ‘Kalimatun Sawa’ di Tengah Tantangan Zaman

Berita Terbaru