Apa yang dituangkan? Jawabannya, yang dituangkan itu ide, gagasan, fakta, data, kata, kalimat dalam bentuk berita. Air tak punya sikap, ia hanya mengikuti arah bejana, wadah yang menampungnya.
Sementara independen itu ibarat api. Ia punya arah, punya panas, punya kehendak, membakar, menyala, menjadi terang benderang. Ia tak bisa dijadikan biru hanya karena kita ingin biru.
Api membakar sesuai kodratnya, menegaskan keberadaannya dengan prinsip yang tak bisa ditawar dimana ia menyala karena ada tujuan. Media era teknologi informasi memang sarat dengan kepentingan.
Dalam kehidupan sosial dan politik, paradoks antara netral dan independen sering disamarkan oleh retorika. Orang mengaku netral padahal sejatinya tunduk pada arus kuat kepentingan.
Lihatlah media, misalnya. Media sejati tidaklah netral, tapi independen. Karena media bukan air, melainkan api yang menyala untuk menerangi dan kalau memungkinkan membakar habis sampai tuntas. Ia berpihak bukan pada manusia, bukan pada kelompok, tapi pada nilai kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan.
Ketika negara berperang, media tak mungkin “netral”. Ia berpihak pada negaranya. Tidak ada film perang produksi Amerika yang menggambarkan Amerika kalah.
Bahkan dalam imajinasi layar lebar pun, keberpihakan itu menjadi bagian dari jati diri. Misalnya, janganlah kita berharap ada film Hollywood yang mengangkat tragedi Vietnam dengan bendera Amerika di pihak yang kalah.
Itulah independensi, berpihak pada prinsip dan tujuan, bukan pada kepentingan yang membelokkan arah nurani.
Dalam dunia bisnis, hal yang sama berlaku. Pemilik perusahaan tak boleh netral ketika menentukan siapa yang akan memimpin perusahaannya. Jika ia netral, maka arah perusahaan bisa ditentukan oleh orang lain, bahkan mungkin bertolak belakang dengan tujuan pendirinya.
Bersikap independen berarti memilih dengan kesadaran dan tanggung jawab: siapa yang layak dipercaya untuk membawa kapal menuju pelabuhan yang diinginkan.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya










