KTT ASEAN 2023 (Epicentrum of Growth: The Opportunity for Indonesian Economic Growth) - FloresPos Net

KTT ASEAN 2023 (Epicentrum of Growth: The Opportunity for Indonesian Economic Growth)

- Jurnalis

Minggu, 14 Mei 2023 - 17:06 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Sarlianus Poma, S.Pd.,M.M

KONFERENSI Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-42 tahun 2023 dilaksanakan di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat,Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kegiatan ini secara resmi dibuka pada 9 Mei 2023 dan berakhir pada 11 Mei 2023.

Informasi yang diperoleh di awal bahwa ada 11 negara ASEAN yang mengikuti KTT: Kepala Negara, Menteri dan pejabat terkait. Namun, pada saat pembukaan acara, KTT ke-42 ini dihadiri 8 pimpinan Negara ASEAN termasuk Timor Leste serta Sekjen ASEAN.

Sementara, pimpinan Negara Thailand dan Myanmar terkonfirmasi tidak hadir dalam KTT tersebut, dikarenakan Thailand akan menjalani Pemilu pada 14 Mei, sedangkan Myanmar diundang secara non-political (detiknews, 10/05/2023).Agenda utama yang dibahas adalah ASEAN Matters: Epicentrum of Growth.

Mengusung tema ASEAN Matters: Epicentrum of Growthakan berfokus pada penguatan ekonomi kawasan yang tumbuh cepat, inklusif, dan berkelanjutan serta dapat bertransformasi menjadi kawasan yang berkomitmen pada tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Develoment Goals).

ASEAN berperan penting tidak hanya bagi Negara di dalam kawasan, tetapi juga bagi dunia. Baik berperan sentral sebagai motor stabilitas geopolitik maupun kesejahteraan kawasan.

Keketuaan Indonesia pada tahun 2023 yang mengangkat tema ASEAN Matters: Epicentrum of Growthmenjadi semakin relevan dalam menjadi jangkar stabilitas dan kemakmuran regional di Indo-Pasifik, dengan menjadi fasilitator menjadikan ASEAN relevan dan penting, tidak saja bagi rakyat Indonesia, tetapi juga bagi rakyat ASEAN dan rakyat di luar ASEAN.

Indonesia sebagai tuan rumah, mendapat kehormatan sebagai Chairman atau memegang posisi Keketuaan ASEAN selama tahun 2023. Indonesia mendapat kepercayaan sebagai tuan rumah merupakan suatu kebanggan tersendiri. Ini merupakan Golden Opportunity buat Indonesia untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi (Economic Growth).

Kepercayaan Indonesia sebagai tuan rumah KTT ASEAN 2023 karena kesuksesan Indonesia menyelenggarakan event Presidensi G-20 pada 2022 lalu.Indonesia sukses dan mampu menyelenggarakan Presidensi G-20 di tengah situasi yang benar – benar belum kondusif, yaitu pasca pandemic covid-19 dan perang Rusia – Ukraina.Kesuksesan menyelenggarakan Presidensi G-20 (Indonesia G20 Presidency: Recover Together, Recover Stronger) menjadi fondasi berharga untuk menjalankan kepemimpinan internasional dengan memegang tongkat Keketuaan ASEAN 2023 di tengah situasi dunia yang masih menghadapi berbagai tantangan yang kompleks.

Saat membuka KTT ke-42 ASEAN, di hotel Meruorah, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Rabu, 10 Mei 2023, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengawali pembicaraannya dengan mengangkat masalah – masalah atau isu – isu global yang dihadapi dunia saat ini, seperti ekonomi global yang belum sepenuhnya pulih, rivalitas semakin tajam, dinamika dunia semakin tidak terprediksi.

Presiden Jokowi kemudian melontarkan pertanyaan kepada forum KTT, di tengah situasi dan masalah yang kompleks seperti sekarang ini yang lagi dihadapi Negara – Negara ASEAN dan dunia, apakah ASEAN hanya akan menjadi penonton? Apakah ASEAN hanya akan diam? Kemudian, apakah ASEAN sanggup dan mampu menjadi motor perdamaian dan pertumbuhan?Mampukah ASEAN menghadapi situasi dunia yang kompleks yang penuh dengan berbagai tantangan?

Sebagai Chairman atau pemegang posisi Keketuaan ASEAN 2023, Presiden Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) meyakini bahwa ASEAN mampu menghadapi segala tantangan, baik skala lokal, nasional maupun global. Dengan persatuan, Jokowi yakin ASEAN mampu menjadi pemain sentral (central player) untuk membawa pertumbuhan dan perdamaian dunia, karena ASEAN memiliki pertumbuhan ekonomi yang di atas rata – rata dunia dan bonus demografi.

Keyakinan ini bisa terwujud bila ASEAN sanggup dan mampu memperkuat integrasi ekonomi serta kerja sama inklusif. Dengan demikian, ASEAN akan menjadi pusat pertumbuhan dunia(world growth center). Pada posisi ini Indonesia memainkan peranan yang sangat penting untuk mengkonsolidasi seluruh kekuatan ASEAN, sehingga dunia akan menatap ASEAN sebagai epicentrum of growth.

Epicentrum of Growth: The Opportunity for Indonesian Economic Growth

Baca Juga :  Lebih Dari Sekedar Retorika Moral

Ketika Indonesia dipercayai sebagai tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-42 tahun 2023, muncul keraguan publik. Keraguan itu muncul berupa respons yang beragam.Di antaranya melalui pertanyaan, apakah Indonesia pantas dan mampu mengemban posisi Keketuaan ASEAN? Tentu saja Indonesia sangat pantas dan mampu.

Menurut Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Arta Wacana (UKAW) Kupang, Dr. Frits O Fanggidae bahwa dari segi kapasitas ekonomi atau kemampuan menghasilkan barang dan jasa, yang diukur dari Produk Domestik Bruto (PDB), Indonesia adalah yang terbesar di ASEAN, bahkan International Monetary Fund (IMF) menempatkan Indonesia pada urutan ke-17 negara dengan PDB terbesar di dunia.

Beberapa indikator ekonomi, sosial dan politik lainnya seperti luas wilayah, jumlah penduduk, Indonesia adalah yang terbesar di ASEAN. Dengan keunggulan tersebut, dalam posisi sebagai Chairman, Indonesia diharapkan mampu menavigasi pertumbuhan inklusif dan berkelanjutan kawasan regional ASEAN di tengah kondisi recovery dunia pasca pandemic covid-19 (Pos Kupang, 09/05/2023).

Pada lingkup yang lebih luas, tantangan dan permasalahan internasional yang cukup kompleks, baik dari segi geopolitik maupun ekonomi. Situasi geopolitik yang dihadapai Indonesia pada tahun 2023 sangat menantang. Perekonomian Indonesia di tahun 2023 ini masih menghadapi tantangan tingginya ketidakpastian dan peningkatan risiko global. Ketidakpastian situasi global merupakan tantangan nyata bagi pemulihan ekonomi Indonesia setelah dua tahun dihantam pandemic covid-19.

Bahkan IMF telah menyematkan istilah “gelap signifikan” dalam proyeksi ekonomi global di tahun 2023 ini.Tantangan itu lebih kompleks daripada 1997-1998 karena saat ini ada ancaman perang nuklir dan resesi ekonomi global yang membayangi. Pada tahun 1997-1998, yang dihadapai Indonesia sebelum reformasi hanya tantangan ekonomi makro yang ambruk. Namun, pada 2023 ini, ada resesi ekonomi di Amerika Serikat, perang besar antara Rusia dan Ukraina, hingga perang dagang (trade war) antara China dan Amerika Serikat.

Melihat berbagai tantangan yang kian kompleks, Indonesia harus mampu meningkatkan kerja sama ASEAN tahun 2023 untuk melanjutkan dan memperkuat relevansi ASEAN dalam merespon tantangan kawasan dan global, serta memperkuat posisi ASEAN sebagai pusat pertumbuhan ekonomi kawasan, untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat di Asia Tenggara. Menurut Menlu RI, Retno Marsudi, tema besar tersebut memiliki tiga pilar.

Pertama, ASEAN Matters: ASEAN sebagai sebuah kekuatan regional, harus relevan dan penting, bagi setiap Negara anggota dan dunia. Kedua, Epicentrum of Growth: pusat pertumbuhan regional dan dunia. Ketiga, terkait implementasi ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP). Ditegaskan Menlu RI, bahwa pendekatan ASEAN konsisten, ingin membangun kerja sama konkret dan terbuka dengan semua Negara untuk menjadikan Indo Pasifik sebagai kawasan damai dan sejahtera.

Sebagai Ketua, Indonesia harus mampu memimpin seluruh Negara ASEAN untuk memperkuat ketiga pilar tersebut.Menjadikan ASEAN sebagai kekuatan kawasan regional yang ditatap dunia.Tentu hasil yang diharapkan baru bisa dirasakan dalam jangka menengah, akan tetapi proses jangka pendeknya akan dirasakan manfaatnya bagi setiap Negara ASEAN, khususnya Indonesia. Salah satu isu penting yang harus dijadikan fokus pembicaraan dalam KTT ini adalah pengembangan energi baru terbarukan (EBT).

Indonesia dan ASEAN memiliki potensi EBT yang sangat besar.Diperkirakan tahun 2035, 50 persen kebutuhan listrik dunia berasal dari EBT, dan ini membutuhkan 4 kali peningkatan total kapasitas EBT terpasang di seluruh Negara ASEAN(Opini Dr. Frits O Fanggidae, Pos Kupang, 09/05/2023). Kemampuan ASEAN untuk menghasilkan EBT menjadi simpul penting untuk mengatasi terputusnya rantai pasok (Supply Chain) energi fosil dunia akibat ketidakstabilan politik dan keamanan dunia.

Tidak dipungkiri di tengah ancaman krisis energi yang melanda dunia akibat dampak perang Rusia – Ukraina, transisi energi menjadi salah satu perbincangan penting dalam gelaran Presidensi G20 2022 lalu.Diharapkan isu tersebut kembali diperbincangkan dalam KTT ASEAN ke-42 tahun 2023 ini.

Baca Juga :  Wajah Sunyi Stigmatisasi dalam Masyarakat NTT

Dengan perspektif energi sebagai modal pembangunan, energi terbarukan memiliki peranan penting dalam mendorong sistem ekonomi hijau, berkelanjutan dan rendah karbon. Pembangunan dengan kesadaran jangka panjang ini telah menjadi tren pembangunan di seluruh dunia, menyikapi semakin naiknya populasi, kebutuhan manusia, dan kegiatan manusia yang menyebabkan kerusakan lingkungan.

Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, meliputi sumber energi surya, sumber energi air dan mikrohidro, sumber energi angin, sumber energi panas bumi, sumber energi gelombang laut, dan sumber energi biomassa. Dalam konteks pembangunan berkelanjutan, konsumsi energi saat ini juga memiliki potensi untuk efisiensi dan konservasi energi.

Berdasarkan amanat Undang – Undang No.30 Tahun 2007 tentang Energi, Kebijakan Energi Nasional (KEN) disusun dengan berdasarkan pada prinsip berkeadilan, berkelanjutan, dan berwawasan lingkungan guna mendukung terciptanya kemandirian energi dan ketahanan energi nasional. Dalam KEN, target EBT secara spesifik diatur dengan tenggat waktu 2025 dan 2050.

Dalam target tersebut, porsi EBT dalam bauran energi nasional harus mencapai setidaknya 23% di tahun 2025 dan paling sedikit 31% tahun 2050 sepanjang keekonomiannya terpenuhi. Target ini setara dengan 45,2 GW pembangkit listrik EBT di tahun 2025, sisanya merupakan kontribusi dari biofuel, biomassa, biogas, dan coal bed methane(Founder Pusat Advokasi dan Dalil Hukum Indonesia (PADHI), Tribunnes.com, 11/05/2023).

Kehadiran mobil listrik sebagai sarana angkutan resmi delegasi KTT ASEAN di Labuan Bajo, menunjukkan betapa Indonesia telah memiliki kesiapan dan kemampuan untuk mengembangkan industri berbasis EBT.Karena itu, dengan posisi Indonesia sebagai Ketua ASEAN 2023, berbagai kebijakan strategis jangka pendek yang dibuat dapat menjadi insentif yang berarti bagi pengembangan industri berbasis EBT di Indonesia.

Demikian juga kerja sama dari segi penguatan produksi bahan pangan. Terganggunya rantai pasok (supply chain) bahan makanan dunia akibat perang Rusia-Ukraina, plus perubahan iklim menjadikan harga pangan meningkat tajam, yang sampai saat ini belum tuntas ditangani(Opini Dr. Frits O Fanggidae, Pos Kupang, 09/05/2023).

Pengalaman ini akan menjadikan Negara – Negara ASEAN perlu berkonsolidasi, sharing sumber daya dan teknologi, untuk menghasilkan dan melaksanakan suatu roadmap penguatan produksi bahan pangan ASEAN dalam jangka pendek, sehingga gejolak inflasi yang datang dari luar dapat diredam.

Epicentrum of Growth: The Opportunity for Indonesian Economic Growth. Analis Taiwan-Indonesia Trade Analysis (TITA) Tulus J Maha mengungkapkan Keketuaan Indonesia di ASEAN 2023 memberikan banyak dampak positif bagi Indonesia. Salah satu dampak positif adalah bagi sektor UMKM.

Pada penyelenggaraan KTT ASEAN tahun ini, UMKM merupakan salah satu sektor prioritas yang dikedepankan. Pemerintah berhasil dalam memanfaatkan peluang ekonomi dari event tahunan tersebut. Penyelenggaraan KTT ASEAN 2023 juga merupakan sebuah peluang besar dalam mempromosikan produk lokal Indonesia. Sehingga hal tersebut berdampak pada penyerapan tenaga kerja. Di sisi lain, KTT ASEAN 2023 mendongkrak ekonomi masyarakat NTT.

Gubernur NTT Viktor Laiskodat mengungkapkan dampak positif penyelenggaraan KTT ASEAN ke-42 di Labuan Bajo adalah promosi Labuan Bajo sebagai kebanggan sektor pariwisata bumi Flobamorata. Sementara Wakil Gubernur NTT Josef Nae Soi mengungkapkan bahwa KTT ASEAN di Labuan Bajo punya dampak langsung bagi masyarakat sekitar terkait peningkatan pendapatan dari UMKM(Tempo.co, 11/05/2023).

Terlepas dari isu – isu strategis ekonomi, politik, keamanan dan sosial lainnya yang dibahas para Kepala Negara ASEAN dalam KTT ke-42 ini, Nusa Tenggara Timur patut berbangga, terpilih sebagai lokasi penyelenggaraan KTT ASEAN ke-42 tahun 2023.Titiknya ada di Labuan Bajo, Pulau Flores, tetapi aroma kebanggannya menyebar ke seluruh pelosok NTT.*

*) Sarlianus Poma, S.Pd.,M.M, Staff Pengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi IEU Surabaya, Coordinator of STIM Kupang “International Class”

Berita Terkait

Pesta Babi: Antara Pembangunan Nasional dan Hak Masyarakat Adat
Senjata yang Pulang, Perdamaian yang Tumbuh
Jejak Langkah, Tanah Rantau dan Rumah Pertama
Nelayan Kecil Masih Berjuang Sendiri di Tengah Laut
Penataan Ruang dan Hak Asasi (Catatan atas Kisah Penggusuran di Jalan Irian Jaya Ende)
Perpecahan Sosial sebagai Realitas Struktural
Ketika Sekolah Hanya Menjadi Nama (Seruan Darurat untuk Menguatkan Partisipasi Semesta dan Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua)
Indonesia yang Sibuk, Tapi Kehilangan Kepedulian
Berita ini 28 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 22 Mei 2026 - 16:43 WITA

Pesta Babi: Antara Pembangunan Nasional dan Hak Masyarakat Adat

Selasa, 19 Mei 2026 - 13:38 WITA

Senjata yang Pulang, Perdamaian yang Tumbuh

Selasa, 12 Mei 2026 - 13:48 WITA

Jejak Langkah, Tanah Rantau dan Rumah Pertama

Jumat, 8 Mei 2026 - 20:38 WITA

Nelayan Kecil Masih Berjuang Sendiri di Tengah Laut

Jumat, 8 Mei 2026 - 07:14 WITA

Penataan Ruang dan Hak Asasi (Catatan atas Kisah Penggusuran di Jalan Irian Jaya Ende)

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Perpolitikan Indonesia Hadapi Tantangan Money Politic

Minggu, 24 Mei 2026 - 08:43 WITA