Genjot Potensi Pisang Kepok, Dewan Segera Undang DTPHP Manggarai Barat - FloresPos Net

Genjot Potensi Pisang Kepok, Dewan Segera Undang DTPHP Manggarai Barat

- Jurnalis

Rabu, 15 Juli 2026 - 10:23 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LABUAN BAJO, FLORESPOS.net-DPRD Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) segera mengundang pimpinan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) setempat supaya genjot kembali potensi pisang kepok/pisang marmi di daerah itu yang langka gegara penyakit.

Demikian dua anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Mabar, Nusa Tengara Timur (NTT), Bernadus Ambat dan Andi Mamma, menanggapi media ini di Labuan Bajo, Selasa (14/7/2026).

Keduanya dimintai tanggapan terkait kabar bahwa di Labuan Bajo ibu kota Mabar selama ini kesulitan mendapatkan pisang kepok/pisang marmi.

Konon pisang yang dipedangangkan kota super premium tersebut antara lain dipasok dari Sulawesi dan Timor. Pisang marmi/pisang kepok di antaranya sebagai bahan dasar pisang goreng.

“Selama ini memang banyak pisang yang dipasok dari Sulawesi di Labuan Bajo sini. Akibat kelangkaan pisang berimbas pada keterbatasan pisang goreng di Labuan Bajo,” kata Andi.

Menurut Bernadus dan Andi, pimpinan DTPHP diundang ke DPRD Mabar untuk berdiskusi mencari jalan keluar, solusi, agar populasi pisang marmi/pisang kepok di tanah Mabar kembali berjaya seperti dulu, tidak langka macam sekarang akibat serangan penyakit yang memakan waktu bertahun-tahun belakangan dan tiada obatnya pula.

Baca Juga :  Berharap 31 Desa Persiapan di Manggarai Barat Segera Definitif

Keduannya berpandangan, dengan duduk diskusi bersama, bisa menemukan jalan kelar. Misal, kalau basmi total pisang kepok/pisang marmi di Mabar dan butuh anggaran pengadaan anakan baru dari luar, daerah yang bebas dari penyakit, saat diskusi itu disepakati, dirumusi mekanisme atau apapun namanya.

Perlu diingat, salah satu raja pisang marmi/pisang kepok di tanah air yakni Flores, termasuk Mabar. Tetapi sekarang sepertinya nol besar. Tanah Flores dan Mabar khususnya tak lagi penghasil pisang marmi/pisang kepok akibat serangan penyakit yang gila-gilaan.

“Sebelum penyakit pisang melanda Flores, termasuk Mabar, setiap kali mobil-mobil ekspedisi menyeberang dari pelabuhan Labuan Bajo ke Sape NTB, di dalamnya penuh pisang marmi untuk dibawa ke Bima, Mataram, Bali dan Jawa. Sekarang hampir pasti kosong karena Flores dan Mabar khususnya kelangkaan pisang kepok/pisang marmi. Apes,” komentar Bernadus dibenarkan Andi.

Andi mengisahkan, sebelum pisang marmi diserang penyakit, salah satu keluarganya di Kecamatan Masang Pacar, Mabar, setiap kali panen pisang selalu dapat sekitar Rp. 3-4 juta. Pembeli potong sendiri di kebun.

Baca Juga :  12 Tuntutan Cipayung Sikka dan BEM Unimof Saat Demo di Mapolres Sikka dan DPRD

Pembeli kebanyakan dari Bima (NTB). Dia hanya pergi bersih kebun pisangnnya mungkin sebulan sekali. Kerja santai. Tetapi setelah ada penyakit pisang, semuannya pupus. Tak lagi dapat uang dari pisang, dan pisang-pisangnya sudah ditebang habis gegara penyakit yang tiada obatnya itu, tutur Andi.

Untuk itu, lanjut keduanya, dewan mendorong Pemkab Mabar/DTPHP untuk mengembalikan potensi pisang kepok/pisang marmi di tanah Mabar. Itu mesti digenjot. Sebab, bagi masyarakat Flores dan Mabar khususnya, pisang adalah salah satu sumber ekonomi, “pohon uang”. Pisang dijual dapat uang, disamping untuk konsumsi, makan.

Percaya, dengan kemampun intelektual, segala daya dan upaya, pemerintah/DTPHP mampu mengembalikan potensi pisang kepok/pisang marmi di tanah Mabar. Optimis, kejayaan Mabar sebagai raja pisang kepok/pisang marmi dapat segera kembali seperti dulu. Ini demi kesejahteran, kemakmuran masyarakat Mabar, tambah Bernadus dan Andi.

Hingga berita ini ditulis, pihak DTPHP Mabar belum dimintai tanggapan. *

Penulis : Andre Durung

Editor : Wentho Eliando

Berita Terkait

Seorang Pekerja Meninggal Saat Aktifitas Bongkar Muat Barang, Pelindo Maumere Lakukan Investigasi
Warga Pesisir Apresiasi Program Kampus Berdampak dari Uniflor, Kami Tidak Susah Air Lagi
Kepala BPKH NTT: TPA Warloka Berada Diluar CA Wae Wuul
Kelompok Perempuan Petani Kelapa Desa Lambunga, Mandiri Ekonomi Berkat Mengolah Produk Turunan Kelapa
Wabup Nagekeo Bertemu Gubernur dan Ketua DPRD NTT, Bahas Penyelesaian Tanah TNI di Tonggurambang hingga Pembangunan Jembatan Pomakeke
Bulog Ende Targetkan Serap 64 Ton Beras Petani Lokal
Diduga, Kolong Rumah Penduduk Masuk Cagar Alam Wae Wuul, Minta Pemerintah Akui Hak Warga
Bupati Nagekeo Lantik 81 Pejabat Administrator dan Pengawas
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 15 Juli 2026 - 10:23 WITA

Genjot Potensi Pisang Kepok, Dewan Segera Undang DTPHP Manggarai Barat

Selasa, 14 Juli 2026 - 19:03 WITA

Seorang Pekerja Meninggal Saat Aktifitas Bongkar Muat Barang, Pelindo Maumere Lakukan Investigasi

Selasa, 14 Juli 2026 - 18:08 WITA

Warga Pesisir Apresiasi Program Kampus Berdampak dari Uniflor, Kami Tidak Susah Air Lagi

Selasa, 14 Juli 2026 - 10:51 WITA

Kelompok Perempuan Petani Kelapa Desa Lambunga, Mandiri Ekonomi Berkat Mengolah Produk Turunan Kelapa

Senin, 13 Juli 2026 - 15:48 WITA

Wabup Nagekeo Bertemu Gubernur dan Ketua DPRD NTT, Bahas Penyelesaian Tanah TNI di Tonggurambang hingga Pembangunan Jembatan Pomakeke

Berita Terbaru

Opini

Turun dari Gunung Tabor, Menjaga Rumah Bersama

Selasa, 14 Jul 2026 - 11:30 WITA