RUTENG, FLORESPOS.net-Ketika berbicara pada sidang pastoral post Natal Keuskupan Ruteng, tokoh awam yang juga mantan Menteri Lingkungan Hidup RI, Dr. Alexander Sonny Keraf, menegaskan bahwa dewasa ini dibutuhkan teologi dan karya pastoral baru.
“Zaman ini diperlukan banyak perubahan fundamental karena situasi dunia,” ujar mantan Menteri Sonny Keraf di hadapan sidang pastoral post Natal yang bertempat di Rumah Retret Putri Karmel Ruteng, Manggarai, Flores, NTT, Selasa (9/1/2024) siang.
Dalam konteks kehidupan gereja, Sonny Keraf mengatakan, mendesak akan kebutuhan teologi dan karya pastoral baru, termasuk di Keuskupan Ruteng ini.
Untuk itu, dalam eko-teologi/ekopastoral, maka konsep keselamatan harus diubah, yakni bukan tunggu di surga, tetapi mulai dari bumi ini.
Lalu, bukan hanya seperti teologi pembebasan, melainkan pembebasan dan keselamatan dari belenggu-belenggu kemiskinan, keterbelakangan, eksploitasi manusia, pemberantasan ketidakadilan.
Yang juga dibutuhkan adalah eko-teologi: menyelamatkan bumi dan segala kehidupan, termasuk kehidupan manusia, mulai dari sekarang ini dari ancaman perubahan iklim.
Dan ancaman bencana ekologi seperti kerusakan, pencemaran, kepunahan, perubahan iklim, dan bencana sosial ikutannya seperti penyakit, kelaparan, kemiskinan, gizi buruk dan seterusnya.
Menurutnya, konsep dosa juga harus berubah, yakni bukan hanya dosa konvensional: rusaknya hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, melainkan juga penting dosa terhadap bumi, alam semesta, lingkungan hidup.
“Karena perilaku dan gaya hidup tamak, rakus, eksploitatif, dan menganggap alam sekedar alat pemuas kepentingan ekonomi belaka,”katanya.
Dosa ekologis tidak kalah dahsyatnya dengan dosa konvensional: karena mengancam bumi dan kehidupan di dalamnya.
Kemudian, konsep pertobatan juga harus berubah. Tidak hanya pertobatan dalam arti konvensional, yakni pemulihan hubungan manusia dengan Tuhan dan manusia dengan sesama.
Tetapi yang tidak kalah pentingnya: pemulihan hubungan dengan alam dan itu berarti perubahan perilaku terhadap alam secara nyata, konkret.
Penitensi bukan lagi sekedar doa Salam Maria 3 kali, tapi tindakan konkret memulihkan bumi dengan aksi nyata (penitensi ekologis).
Ketika itu, Sonny Keraf juga mengatakan, ada banyak kelompok yang perlu melakukan perubahan-perubahan, termasuk gereja sebagai organisasi dan pemerintah.
Untuk gereja, dari sekarang harus sudah dipikirkan agar gedung gereja zero emission. Itu bisa dilakukan dengan menggunakan bahan lokal dari bambu dan kayu, atap daun.
Bukan bahan industri yang dibawa dari luar seperti semen, seng, baja yang boros energi dalam produksi dan pengangkutan, tanpa dinding atau dibiarkan terbuka untuk masuk keluar angin.
Sekolah-sekolah Katolik: mengajarkan perilaku ramah lingkungan dengan contoh nyata, membiasakan gaya hidup murid ramah lingkungan, ramah iklim, dan lain-lain.
Di tingkat Pemerintah, lanjut Sonny Keraf, peraturan sudah sangat banyak, komitmen global khususnya terkait negosiasi perubahan iklim, sangat kuat dan jelas, kesadaran bahwa ekonomi penting, tapi tidak ada gunanya kalau bumi terancam; Pembangunan berkelanjutan harus jadi komitmen politik.
Tetapi itu saja tidak cukup, yang sangat dibutuhkan adalah konsistensi pelaksanaan, penegakan hukum, pemberantasan korupsi, pemberantasan pungli, dan stop penyalahgunaan kekuasaan.
“Di sini, dibutuhkan juga integritas pejabat publik,” katanya.
Sebelumnya Ketua Komsos Rm.Erik Ratu Pr, mengatakan, para pakar dan ahli yang membawakan materi dalam sidang pastoral ini, selain tokoh awam Sonny Keraf, juga Direktur Puspas Rm. Marthin Chen Pr, Rm. Fery Sutrisna Wijaya dari Bandung, dan Rm. Ino Sutam Pr.
“Para pakar berbicara pada hari kedua sidang pastoral post Natal yang dalam tahun ini, Keuskupan Ruteng memprogramkannya sebagai Tahun Ekologi integral,” katanya. *
Penulis: Christo Lawudin I Editor: Anton Harus










