LABUAN BAJO, FLORESPOS.net-Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Manggarai Barat (Mabar), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) akan mencetak 1.020 hektar sawah baru Tahun 2026, manakala usulan Pemkab Mabar dikabulkan Pemerintah Pusat (Pempus).
Hal dimaksud untuk mendukung kesuksesan program ketahanan pangan nasional sekaligus ketahanan pangan daerah, dalam hal ini Mabar dan NTT.
Demikian Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Mabar, Tarsisius Gonsa menanggapi media ini di Labuan Bajo belum lama berselang.
Diungkapkan, Pemkab Mabar melalu DTPHP sudah mengusulkan ke Pempus untuk membuka lahan sawah baru di Mabar seluas 1.020 ha pada Tahun 2026. Namun belum ada jawaban dari Pempus terkait hal dimaksud.
Sesuai usulan, kata dia, calon lokasi sawah baru tersebut tersebar di sejumlah kecamatan di Mabar. Di antaranya di Kecamatan Macang Pacar, Welak, Lembor Selatan, Lembor, Mbeliling, Komodo, Sano Nggoang, Pacar, dan Kecamatan Boleng.
“Ada di sembilan kecamatan. Tapi ini baru usulan. Belum ada jawaban dari Pempus. Kita lagi tunggu jawaban sekarang terkait pelaksanaannya. Dari sisi kriteria sudah terpenuh terpenuh Pemkab/DTPHP Mabar,” kata Gonsa yang eks Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Mabar itu.
Dengan perluasan lahan, terutama padi, katanya, ada sejumlah indikator utama, antara lain luas lahan tanam, luas lahan panen, luas lahan produksi, dan produksi. Luas lahan tanam di Mabar sekarang ribuan hektare.
Target produksi padi Mabar 2026 sesuai Renja sekitar 209.300 ton. Sudah tercapai 127,5 ton atau sekitar 60 % per Mei 2026. Masih ada waktu untuk mengejar hingga akhir tahun. Di lapangan masih ada sawah yang sedang tanam, dan juga panen.
“Diharapkan tidak terjadi elnino biar petani tanam terus dan panen terus. Kalau elnino, itu kesulitan bagi petani untuk menanam, karena kesulitan air akibat kekeringan,” ujar Gonsa.
Sentra produksi padi Mabar, masih Gonsa, di antaranya ada di Lembor, Komodo, serta Boleng. Untuk tingkat NTT, tahun lalu Mabar dapat sertifikat karena produksi padinya tinggi. Dan dari capaian tahun lalu, beras Mabar mampu suplai ke berbagai daerah di NTT via Dolog, karena beras Mabar juga terserap oleh Dolog, termasuk operasi pasar.
Menyinggung irigasi, Gonsa mengatakan, sepertinya banyak yang rusak. Untuk perbaikan sepertinya juga keterbatasan anggaran. Ini perlu sinergi, kolaborasi dengan berbagai pihak untuk perbaikan demi peningkatan produksi, produktifitas. Terkait ini ada kewenangan provinsi dan pusat, disamping Pemkab Mabar. Itu sinergitas yang dimaksud, katanya.
Untuk peningkatan produksi padi, lanjutnya, tentu ekstensifikasi dan intensifikasi. Perluasan lahan sawah, irigasi yang baik adalah satu dari sekian program intensifikasi, dan ketersedian bibit, pupuk, alsintan dan obat-obatan adalah antara lain dari program intensifikasi. Semua ini semestinya terpenuh oleh pemerintah, tutup Gonsa. *
Penulis : Andre Durung
Editor : Wentho Eliando










