Kala Indonesia Krisis Keteladanan - FloresPos Net - Page 2

Kala Indonesia Krisis Keteladanan

- Jurnalis

Kamis, 2 Oktober 2025 - 20:29 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penulis merasa khawatir bahwasanya jangan sampai sistem demokrasi Indonesia hanya akan melahirkan kesombongan para pemimpinnya.

Atas nama demokrasi, mereka bertingkah egois dan serakah. Mereka lebih mementingkan dirinya sendiri dibandingkan harus memikirkan apa sesungguhnya yang sedang menimpa rakyat kecil.

Elite Politik sebagai Figur Publik

Patut disadari bahwa para elite politik merupakan figur publik. Segala sesuatu menyangkut kehidupan mereka merupakan cerminan bagi masyarakat.

Dalam demokrasi, eksistensi elite politik tidak dapat dilepas pisahkan dari tanggung jawab publik. Sebab karena itulah mereka dipilih. Mereka dituntut untuk melayani publik dengan kebijakan-kebijakan yang patut dipertanggungjawabkan.

Oleh karena itu, pola kepemimpinan mereka sering kali dikaitkan dengan semboyan kepemimpinan dari Ki Hajar Dewantara, ing ngarso sung tulada, ing madya mangun karso, tut wuri handayani yang berarti di depan memberikan teladan, di tengah membangun semangat, dan di belakang memberi dorongan.

Baca Juga :  Pemimpin yang Memerdekakan

Semboyan ini menekankan peran aktif para elite politik untuk memberikan contoh/teladan baik kepada masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, menciptakan suasana yang kondusif untuk pengembangan ide dan kerja sama antara pemerintah dan masyarakat, serta senantiasa memberikan dukungan moral dan arahan kepada masyarakat.

Memang secara konseptual tidak semua orang bisa menjadi elite politik. Menjadi elite politik tentunya telah melewati sekian banyak persyaratan sebelum diangkat atau dipilih untuk memimpin suatu instansi atau lembaga. Mereka juga adalah orang-orang visioner, yang telah membuat program-program pro masyarakat sebelum memimpin.

Baca Juga :  Membaca Radikalisme di Tengah Ketimpangan Pendidikan

Boleh dikatakan bahwa tidak ada kepalsuan dalam diri mereka sebelum terpilih. Sayangnya, secara praktis ketika menjabat, mereka sulit mengaplikasikan apa yang diprogramkan dalam aksi dan tindakan nyata.

Jika boleh diibaratkan, mereka seperti kubur kosong yang di luarnya tampak bagus karena dihiasi bunga-bunga dan batu-batu indah, tetapi di dalamnya penuh tulang busuk.

Kesaksian hidup mereka tidak mampu menjawabi program-program yang mereka utarakan. Kedaulatan rakyat serasa dibayar dengan kuah kosong.

Berita Terkait

Menimbang Etika Politik Pilkades
Wajah Gereja Sinodal, Kenotik, dan Inkulturatif di San Juan Lebao Tengah
Menakar Jaminan Keselamatan dan Urgensi Transportasi Publik di Labuan Bajo
Menakar Kapasitas Pemimpin Desa Ditengah Efesiensi Anggaran
Menakar Ilusi 12 Program “Sahabat Sejati”: Ketika Janji Politik Menjadi Komoditas Kedunguan di Rai Belu
Generasi Emas yang Cemas (Krisis Sunyi di Balik Mimpi 2045)
Tahun Baru Islam Momentum Perbaikan diri Masyarakat
Panggung Global dan Pergeseran Kekuasaan (Catatan Singkat Jelang Pembukaan Piala Dunia 2026)
Berita ini 107 kali dibaca
REDAKSI: Kami Menerima Artikel Opini Dilengkapi Biodata Singkat dan Foto Penulis. Dikirim Melalui Email: florespos@yahoo.co.uk atau redflorespos@gmail.com.

Berita Terkait

Jumat, 26 Juni 2026 - 09:16 WITA

Menimbang Etika Politik Pilkades

Rabu, 24 Juni 2026 - 15:18 WITA

Wajah Gereja Sinodal, Kenotik, dan Inkulturatif di San Juan Lebao Tengah

Selasa, 23 Juni 2026 - 16:29 WITA

Menakar Jaminan Keselamatan dan Urgensi Transportasi Publik di Labuan Bajo

Senin, 22 Juni 2026 - 21:12 WITA

Menakar Kapasitas Pemimpin Desa Ditengah Efesiensi Anggaran

Minggu, 21 Juni 2026 - 12:31 WITA

Menakar Ilusi 12 Program “Sahabat Sejati”: Ketika Janji Politik Menjadi Komoditas Kedunguan di Rai Belu

Berita Terbaru

Bentara Net

BENTARA NET: Membaca Kisah Candi Audia

Minggu, 28 Jun 2026 - 07:43 WITA

Opini

Menimbang Etika Politik Pilkades

Jumat, 26 Jun 2026 - 09:16 WITA