Elite politik adalah mereka yang dikenal secara publik bukan karena kekayaaan yang mereka miliki atau pola hidup mereka yang flexing melainkan karena mereka memangku jabatan publik. Mereka mesti bertanggung jawab terhadap publik terkait apa yang mereka buat dan janjikan atau utarakan kepada publik.
Jika tidak demikian, mereka seperti orang yang memimpin tanpa hati nurani publik. Mereka hadir bukan untuk membawa terang melainkan kegelapan bagi masyarakat untuk memahami kehidupan berpolitik dan bernegara.
Krisis keteladanan para elite politik bangsa ini mengartikulasikan karakter pemimpin bangsa yang perlahan lahan menurun. Karakter mereka seolah-olah ditakar dari kepandaian mereka bersilat lidah (beretorika) dan memanipulasi program tanpa sedikitpun menyentuh realitas persoalan yang dihadapi oleh rakyat.
Dengan kata lain lain, teladan hidup elite politik hanya sebatas omon-omon tak jelas. Ujung-ujungnya kesejahteraan merekalah yang lebih diutamakan sementara rakyat yang menderita. Tak jarang terbentang jurang pemisah yang lebar antara kehidupan pejabat publik dengan rakyat biasa.
Melihat cermin elite politik sekarang ini, publik layak mempertanyakan integritas mereka. Seyogianya, integritas tidak diukur lewat pencapaian hal-hal yang konseptual atau hidup mewah tetapi bagaimana harus turun dari “kursi” jabatan dan terjun langsung untuk berkotor tangan bersama rakyat.
Kecenderungan pola hidup mewah dari para elite politik perlahan-lahan mesti dihindari. Bahwasanya kebahagiaan yang timbul di atas penderitaan orang lain adalah kebahagiaan yang cuma-cuma.
Publik sedang menanti sikap solider para elite politik dengan penderitaan yang mereka alami. Hanya dengan sikap solider atau seperasaan dengan situasi yang dialami masyarakat, pejabat publik mampu berlaku sesuai keinginan masyarakat. Sebab elite politik merupakan tokoh panutan rakyat kecil tentang bagi hidup sebagai satu bangsa dan tanah air tercinta ini. *
Penulis adalah Mahasiswa Universitas Sanata Dharma










