Wajah Gereja Sinodal, Kenotik, dan Inkulturatif di San Juan Lebao Tengah - FloresPos Net

Wajah Gereja Sinodal, Kenotik, dan Inkulturatif di San Juan Lebao Tengah

- Jurnalis

Rabu, 24 Juni 2026 - 15:18 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge

PERISTIWA pergantian kepemimpinan di tingkat paroki sering kali direduksi hanya sebagai seremoni administratif. Sebuah serah terima ‘’map’ jabatan dari satu pastor ke pastor lainnya.

Namun, apa yang terjadi di Paroki San Juan Lebao Tengah, Dekenat Larantuka, pada Rabu, 24 Juni 2026, menawarkan sebuah paradigma yang berbeda.

Bertepatan dengan Pesta Pelindung ke-74 dan Hari Raya Kelahiran Santo Yohanes Pembaptis, transisi dari RD. Sirilus Lela Wutun kepada RD. Josef da Silva menjadi sebuah manifestasi teologis-filosofis tentang wajah Gereja yang terus-menerus memperbarui diri (ecclesia semper reformanda).

Melalui homili, perpisahan, dan sambutan perutusan, tiga tokoh imam (RD. Lukas Laba Erap, RD. Sirilus Lela Wutun, dan RD. Josef da Silva) turut merajut sebuah narasi besar tentang kritik terhadap klerikalisme, pentingnya liturgi yang membumi, dan spiritualitas sinodal (berjalan bersama).

Dalam homilinya, Deken Wilayah Larantuka, RD. Lukas Laba Erap, menawarkan sebuah refleksi filosofis yang tajam tentang panggilan. Ia menggunakan metafora “rahim” sebagai zona nyaman yang meninabobokan, yang harus ditinggalkan untuk menjawab panggilan eksistensial menjadi “terang”. Ini adalah kritik teologis terhadap paroki yang terjebak dalam rutinitas statis dan kenyamanan internal.

RD. Lukas juga menyinggung ‘godaan terbesar dalam pelayanan Gereja, yakni terjebak pada pencitraan diri, kalkulasi prestasi, dan kehausan akan pengakuan manusia. Dalam kacamata teologi moral, ini adalah kritik keras terhadap narsisme pastoral dan klerikalisme.

Pelayanan, tegasnya, bukan tentang jabatan, melainkan tentang hati. Ia mengajak umat meneladani kenosis (pengosongan diri) Santo Yohanes Pembaptis: “Ia harus makin besar, dan aku harus makin kecil.” Keberhasilan pastoral tidak diukur dari megahnya program, melainkan dari keuletan menuntun jiwa kepada Kristus.

Refleksi ini diperkuat oleh pandangan RD. Lukas tentang paroki sebagai ‘Keluarga Besar’. Ia menyoroti figur Zakaria (keheningan batin),

Elisabeth (keterbukaan terhadap karya Allah di luar nalar), dan Yohanes (dedikasi total). Paroki, dengan demikian, bukanlah korporasi religius, melainkan sekolah yang melahirkan pemimpin dan pelayan yang berkualitas bagi masa depan Gereja.

Baca Juga :  Tradisi Bakar Lilin dan Pesan Natal untuk Masyarakat

Sementara itu, dalam pidato perpisahannya, RD. Sirilus Lela Wutun meletakkan dasar-dasar eklesiologi yang berpusat pada liturgi dan inkulturasi. Ia menyebut Paroki San Juan Lebao Tengah sebagai ‘paroki barometer’ yang harus menjadi teladan, terutama dalam pembaharuan liturgi sesuai Pedoman Umum Misale Romanum 2020.

Dari perspektif teologis, RD. Sirilus menawarkan pandangan yang berspirit pada gagasan Vatican II tentang devosi populer. Ia mencontohkan pemindahan Devosi Eus pada Jumat Agung ke awal perayaan, agar devosi tidak mengaburkan makna Liturgi Penyembahan Salib, melainkan menghantar umat pada inti misteri Paskah. Ini adalah upaya mendudukkan praktik kesalehan populer secara proporsional tanpa menghilangkan akar budaya.

Selain itu, kesadaran akan keragaman etnis di San Juan mendorong pentingnya Misa Inkulturasi. Gereja tidak lagi memandang budaya lokal sebagai objek misi, melainkan sebagai subjek yang memperkaya cara umat menghayati iman.

Capaian ini tentu tidak lahir dari kekosongan. RD. Sirilus secara rendah hati mengapresiasi sinergi dengan Tim Pastor (RD. Boni Hurint, RD. Jack Dawan, RD. Flori Werang, RD. Agus Pehan, RD. Ansel Liwun, dan RD. Moses Atasoge) serta para suster dari berbagai kongregasi yang berkarya di Paroki San Juan.

Kolaborasi ini membuktikan bahwa pelayanan sakramental dan pastoral adalah karya komunal. Tak lupa, ia menyebut peran intelektual dan teologis para awam di paroki ini yang telah memberikan dedikasi yang tinggi untuk tugas-tugas menggereja.

Refleksi teologis dalam momen ini juga ditampilkan oleh RD. Josef da Silva. Dalam sambutannya, RD. Josef menyinggung sebuah konsep yang dalam filsafat Nietzsche disebut Ewige Wiederkunft (Pengulangan Abadi), namun dalam teologi Katolik dikenal sebagai Providentia Dei (Penyelenggaraan Ilahi).

Kembali ke San Juan setelah 22 tahun (sejak masa Praktik Diakonat tahun 2004), RD. Josef tidak melihat ini sebagai kebetulan historis, melainkan sebuah lingkaran rahmat. “Jika dahulu saya datang untuk belajar dari umat, maka hari ini saya datang untuk berjalan bersama umat,” ujarnya.

Baca Juga :  Republik Lapar, Pejabatnya Kenyang: Korupsi Sudah Jadi Lauk Wajib

Pernyataan ini adalah esensi dari Gereja Sinodal yang terus didengungkan oleh Paus Fransiskus. RD. Josef secara kritis menyadari bahwa Gereja tidak dibangun oleh program-program yang baik atau dokumen-dokumen yang rapi (kritik atas birokratisasi Gereja), melainkan oleh iman, doa, dan kasih umat dalam kehidupan sehari-hari. Kesadaran ini membongkar hierarki klerikal; pastor tidak datang sebagai “pemberi jawaban” tunggal, melainkan sebagai pendengar dan pejalan bersama.

Peristiwa di San Juan Lebao Tengah ini pada akhirnya menawarkan sebuah harapan baru bagi wajah Gereja di Indonesia, khususnya di tanah Keuskupan Larantuka. Pergantian pastor dan perayaan pelindung paroki telah ditransendensikan dari sekadar ritual seremonial menjadi sebuah kesadaran kolektif bahwa paroki adalah Rumah Persaudaraan.

Refleksi mendalam yang digariskan oleh RD. Lukas, RD. Sirilus, dan RD. Josef menegaskan sebuah kebenaran teologis bahwa masa depan Gereja tidak pernah diukur dari kemegahan arsitektur gedungnya atau tingginya tembok yang memisahkannya dari dunia.

Sebaliknya, masa depan itu ditopang oleh kedalaman iman umat yang berani meruntuhkan benteng ego dan kelekatan diri. Inilah esensi dari Gereja yang sinodal dan kenotik: sebuah persekutuan yang merangkul keragaman budaya dengan tangan terbuka, serta melangkah keluar dari zona nyaman untuk berjalan bersama dalam kerendahan hati yang membebaskan.

Dalam konteks inilah prosesi malam Pesta San Juan menemukan makna eksistensialnya yang paling otentik. Lilin-lilin yang dinyalakan di tangan umat bukan hanya simbol seremonial yang padam bersama berakhirnya perayaan, melainkan cahaya yang dibawa pulang ke dalam realitas sehari-hari.

Cahaya iman ini diamanatkan untuk menembus kegelapan persoalan sosial, menerangi sudut-sudut kehidupan masyarakat yang rapuh, dan menjadi saksi bisu bahwa Gereja San Juan hadir bukan untuk dirinya sendiri, melainkan sebagai terang yang menghangatkan dan menyelamatkan sesama. *

Penulis adalah Staf Pengajar Stipar Ende

Berita Terkait

Menakar Jaminan Keselamatan dan Urgensi Transportasi Publik di Labuan Bajo
Menakar Kapasitas Pemimpin Desa Ditengah Efesiensi Anggaran
Menakar Ilusi 12 Program “Sahabat Sejati”: Ketika Janji Politik Menjadi Komoditas Kedunguan di Rai Belu
Generasi Emas yang Cemas (Krisis Sunyi di Balik Mimpi 2045)
Tahun Baru Islam Momentum Perbaikan diri Masyarakat
Panggung Global dan Pergeseran Kekuasaan (Catatan Singkat Jelang Pembukaan Piala Dunia 2026)
Tiktok Bukan Dokter: Bahaya Self dari Media Sosial
Pendidikan adalah Hak yang Tak Dapat Dinegosiasikan: Menggugat Kebijakan Pembangunan di Lingkungan Sekolah
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 24 Juni 2026 - 15:18 WITA

Wajah Gereja Sinodal, Kenotik, dan Inkulturatif di San Juan Lebao Tengah

Selasa, 23 Juni 2026 - 16:29 WITA

Menakar Jaminan Keselamatan dan Urgensi Transportasi Publik di Labuan Bajo

Senin, 22 Juni 2026 - 21:12 WITA

Menakar Kapasitas Pemimpin Desa Ditengah Efesiensi Anggaran

Minggu, 21 Juni 2026 - 12:31 WITA

Menakar Ilusi 12 Program “Sahabat Sejati”: Ketika Janji Politik Menjadi Komoditas Kedunguan di Rai Belu

Minggu, 21 Juni 2026 - 11:14 WITA

Generasi Emas yang Cemas (Krisis Sunyi di Balik Mimpi 2045)

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Wabup Manggarai Timur Buka Kegiatan Telaah Sejawat

Selasa, 23 Jun 2026 - 16:10 WITA