Catatan Kemanusiaan Pascagempa Flores 2026: Tenda Pengungsian Bukan Tempat Aman bagi Perempuan dan Anak - FloresPos Net - Page 4

Catatan Kemanusiaan Pascagempa Flores 2026: Tenda Pengungsian Bukan Tempat Aman bagi Perempuan dan Anak

- Jurnalis

Senin, 7 September 2026 - 08:03 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kajian tentang kerentanan sosial (social vulnerability) menjelaskan bahwa dampak bencana tidak dialami secara sama oleh semua orang. Besarnya kerusakan akibat gempa memang dipengaruhi oleh faktor alam, tetapi kemampuan seseorang untuk bertahan dan pulih juga dipengaruhi oleh faktor sosial: gender, usia, kondisi ekonomi, akses terhadap informasi, serta kemampuan memperoleh perlindungan.

Dengan kata lain, bencana bukan hanya peristiwa alam, tetapi juga peristiwa sosial. Dua orang yang berada dalam lokasi bencana yang sama dapat mengalami pengalaman yang berbeda.

Mereka yang memiliki akses terhadap sumber daya, jaringan sosial, dan perlindungan mungkin lebih cepat pulih. Sebaliknya, kelompok rentan dapat menghadapi risiko yang lebih panjang, termasuk kekerasan, eksploitasi, dan trauma psikologis.

Baca Juga :  Nakes Puskesmas Weleng dan BKK Kelas I Kupang Sasar 1.300 Penyintas Gempa di Pedalaman Terpencil Manggarai Timur

Perspektif feminis dalam studi bencana (feminist disaster studies) mengingatkan bahwa bencana tidak pernah sepenuhnya netral. Cara sebuah masyarakat merancang respons bencana akan menentukan siapa yang mendapatkan perlindungan maksimal dan siapa yang berpotensi terabaikan.

Jika desain tempat pengungsian tidak mempertimbangkan kebutuhan perempuan dan anak, maka sistem tersebut secara tidak langsung dapat memperbesar risiko yang mereka alami.

Baca Juga :  Menakar Jaminan Keselamatan dan Urgensi Transportasi Publik di Labuan Bajo

Karena itu, membangun kembali kehidupan pascabencana tidak cukup hanya dengan membangun rumah dan infrastruktur. Yang juga harus dibangun adalah sistem perlindungan yang memastikan setiap orang dapat bertahan hidup secara aman dan bermartabat.

Kekerasan berbasis gender dalam situasi bencana bukanlah fenomena baru di Indonesia. Pasca tsunami Aceh 2004, berbagai laporan menunjukkan adanya kerentanan perempuan dalam situasi pengungsian. Dalam bencana Wasior, Papua tahun 2010, ditemukan persoalan kekerasan terhadap perempuan di wilayah terdampak.

Editor : Wall Abulat

Berita Terkait

Gempa dan Gempar: Dari Guncangan Alam Menuju Gerakan Meningkatkan Pendapatan Asli Rakyat Flores
Peran Strategis Inpres Jalan Daerah untuk Pemerataan Ekonomi dan Kawasan 3TP
Bencana, Apakah Membawa Berkah?
Gempa Tektonik Flores, Jurnalisme Terlibat, dan Pers Sebagai Pilar Keempat Demokrasi
Menghubungkan Titik Terluar: Urgensi Transportasi Publik di Perbatasan Kalimantan Barat
Urgensitas Solidaritas Kemanusiaan Gempa Tektonik Flores dan Manajemen Kesiapsiagaan Bencana
‘Ketika Gempa Berlalu, Siapa yang Peduli pada Mama Imelda?’
Mutiara dari Syiar Maulid Nabi untuk Flores yang Terluka
Berita ini 9 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 7 September 2026 - 09:18 WITA

Gempa dan Gempar: Dari Guncangan Alam Menuju Gerakan Meningkatkan Pendapatan Asli Rakyat Flores

Senin, 7 September 2026 - 08:03 WITA

Catatan Kemanusiaan Pascagempa Flores 2026: Tenda Pengungsian Bukan Tempat Aman bagi Perempuan dan Anak

Kamis, 3 September 2026 - 17:41 WITA

Peran Strategis Inpres Jalan Daerah untuk Pemerataan Ekonomi dan Kawasan 3TP

Rabu, 2 September 2026 - 19:43 WITA

Bencana, Apakah Membawa Berkah?

Selasa, 1 September 2026 - 18:16 WITA

Gempa Tektonik Flores, Jurnalisme Terlibat, dan Pers Sebagai Pilar Keempat Demokrasi

Berita Terbaru