RIUNG, FLORESPOS.net-Bupati Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Raymundus Bena, SS, M.Hum mengingatkan semua pihak bahwa upaya konservasi yang gencar dilakukan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) NTT dan mitra kerjanya bukan sebagai pembangunan, tetapi malah sebaliknya harus dilihat sebagai fondasi untuk pembangunan berkelanjutan.
“Konservasi bukan penghambat pembangunan, tetapi fondasi bagi pembangunan berkelanjutan.”
Demikian sambutan tertulis Bupati Ngada Raymundus Bena yang dibacakan oleh Asisten I Setda Ngada, Alfin dalam Rapat Koordinasi Triwulan III Forum Konservasi Mbou (Komodo) dan Spesies Pentingnya Lainnya di Dalam dan di Luar Kawasan Hutan Kabupaten Ngada, di Kantor, Desa Lengko Sambu Utara, Kecamatan Riung, Kamis (23/7/2026).
Hadir saat rapat yang dibuka oleh Asisten I Setda Ngada, Alfian ini, Ketua Forum Konservasi Mbou (Komodo) Kabupaten Ngada, Dr. Nicolaus Noywuli,S.Pt M.Si yang juga Asisten II Setda Ngada, Coordinator Project In Flores Mulya Hutomo, S.Pi, M.Si; Kepala Seksi Konservasi Wilayah III BBKSDA NTT Yohanes B. Fua, S.Hut, Direktur Lembaga Nusa Bunga Mandiri (LNBM) Kanisius Teobaldus Deki, S.Fil, M.Th; pimpinan OPD Ngada, Plt. Penjabat Camat Riung, Arman Lontar, CM Project In Flores Ir. Gorgonius D. Bajang; utusan tokoh agama, tokoh masyarakat, dan anggota Forum Konservasi Mbou (Komodo) Kabupaten Ngada.
Pertemuan saat ini, lanjut Bupati, merupakan momentum untuk mengukur keseriusan kita menjaga komitmen yang telah dibangun bersama.
Sebab keberhasilan sebuah forum tidak diukur dari seberapa sering kita bertemu, tetapi dari perubahan yang benar-benar terjadi di kawasan konservasi dan manfaat yang dirasakan oleh masyarakat.
“Karena itu, saya berharap agar hari ini tidak berhenti pada penyampaian laporan, tetapi mampu menghasilkan keputusan yang memperkuat langkah kita ke depan terutama dalam menjaga kawasan konservasi, mempersiapkan festival Komodo Riung memperkuat sinergi melalui Program In-Flores,” katanya.
Menurut Bupati, Kabupaten Ngada memiliki kekayaan keanekaragaman hayati yang menjadi aset strategis daerah. Kekayaan tersebut bukan hanya bernilai ekologis tetapi juga memiliki nilai sosial, budaya, pendidikan dan ekonomi yang harus dikelola secara bijaksana.
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap isu perubahan iklim, lanjutnya, pelestarian keanekaragaman hayati dan pengembangan pariwisata berkelanjutan, kita dituntut untuk menghadirkan tata kelola konservasi yang semakin kuat, kolaboratif dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Oleh karena itu, forum ini memiliki posisi yang sangat penting. Forum ini harus menjadi wadah yang menyatukan kebijakan, menyelaraskan program dan memastikan bahwa setiap upaya konservasi berjalan dalam arah yang sama. Kita tidak boleh membiarkan setiap pihak bekerja sendiri-sendiri,” katanya.
Lima Hal Penting
Bupati Ngada pada kesempatan ini menyebut lima hal penting untuk diperhatikan para pihak. Pertama, evaluasi seluruh program yang telah disepakati pada rapat sebelumnya secara objektif dan terbuka.
Identifikasi capaian, kendala serta langkah percepatan yang perlu dilakukan. Jangan sampai agenda koordinasi hanya menghasilkan daftar kegiatan, sementara persoalan yang sama terus berulang dari satu pertemuan ke pertemuan berikutnya.
Kedua, pastikan konservasi memberi nilai tambah bagi masyarakat. Pelestarian Komodo dan species penting lainnya harus berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan ekowisata, pemberdayaan kelompok masyarakat, penguatan ekonomi desa, serta peningkatan kesadaran masyarakat sebagai penjaga utama kawasan konservasi.
Ketiga, persiapan Festival Komodo Riung harus dilakukan secara teritegrasi. Festival ini menjadi kesempatan untuk memperkenalkan Riung sebagai destinasi konservasi dan pariwisata unggulan. Karena itu seluruh aspek mulai dari kesiapan lokal, kebersihan kawasan, promosi, keamanan, pelayanan wisata hingga keterlibatan UMKM dan masyarakat lokal harus dipersiapkan secara matang.
Keempat, bangun sinergi yang lebih kuat dalam mendukung Program In-Flores. Program ini harus menjadi ruang kolaborasi yang mampu menghubungkan kepentingan konservasi, pembangunan desa, pemberdayaan masyarakat, dan pengembangan pariwisata berkelanjutan. Saya berharap setiap instansi dan mitra memiliki peran yang jelas serta saling memperkuat dalam pelaksanannya.
Kelima, forum ini harus menghasilkan kesepakatan yang dapat diimplementasikan. Tetapkan rencana tindak lanjut, pembagian tugas, indikator keterlibatan dan mekanisme evaluasi yang jelas. Dengan demikian, pada rapat triwulan berikutnya kita tidak lagi membahas hal yang sama, tetapi mengevaluasi hasil nyata yang telah dicapai.
“Seluruh upaya ini sejalan dengan misi pertama pembangunan Ngada yaitu mendorong percepatan peningkatan daya saing ekonomi daerah yang bertumpu pada sektor pertanian, agroindustri hingga pariwisata berbasis pedesaan yang inklusif dan berwawasan lingkungan,” katanya.
Bupati menggarisbawahi bahwa konservasi bukan penghambat pembangunan, tetapi fondasi bagi pembangunan yang berkelanjutan. Ketika alam tetap terjaga, masyarakat memperoleh manfaat, dan tata kelola berjalan baik, maka kita sedang mewujudkan semangat Membangun Desa, Menata Kota secara nyata.
“Saya mengajak seluruh peserta rapat untuk memanfaatkan forum ini sebagai ruang membangun komitmen yang lebih kuat, menyatukan langkah dan memastikan setiap keputusan yang diambil benar-benar diwujudkan melalui kerja bersama,” katanya.
Populasi Mbou Meningkat
Sementara Ketua Forum Konservasi Mbou (Komodo) Kabupaten Ngada, Dr. Nicolaus Noywuli, S.Pt, M.Si pada kesempatan ini menyebut ada 4 lokasi yang habitat Mbou Komodo di Kecamatan Riung yakni di Wolo Tadho ada 17 ekor, di Torong Padang ada 15 ekor, di Pulau Ontoloe sebanyak 27 ekor, dan di CA Riung ada 20-an ekor.
Ketua Forum meminta elemen warga untuk menjaga habitat langka yang ada dan terus mendukung langkah konservasi yang dilakukan BBKSDA NTT dan mitra kerjanya.
Sementara Coordinator Project In Flores, Mulya Hutomo, S.Pi, M.Si dan Kepala Seksi Konservasi Wilayah III Yohanes B. Fua, S.Hut menjelaskan pelbagai langkah konservasi yang telah, sedang dan akan terus dilakukan BBKSDA NTT di kawasan konservasi Komodo dan spesies pentingnya lainnya.
Yohanes Pua menyebut spesies pentingnya lainnya di antaranya Elang Flores, Burung Kaka Tua, Burung gosong dan aneka spesies unik lainnya.*
Penulis : Wall Abulat
Editor : Wentho Eliando









