Depresi Pasca Melahirkan: Tantangan dan Cara Mengatasinya

- Jurnalis

Selasa, 14 Januari 2025 - 08:45 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

dr. Dorothea Ayu Vebrianti Lasa

dr. Dorothea Ayu Vebrianti Lasa

Oleh : dr. Dorothea Ayu Vebrianti Lasa

MELAHIRKAN adalah pengalaman luar biasa yang membawa kebahagiaan sekaligus tanggung jawab besar bagi seorang ibu dan juga dapat menyebabkan stress karena perlu menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi selama kehamilan dan setelah melahirkan.

Namun, tidak semua ibu merasakan kebahagiaan sepenuhnya setelah melahirkan. Sebagian dari mereka mengalami Depresi Pasca Melahirkan (Post partum Depression/PPD), sebuah kondisi serius yang memengaruhi kesehatan mental dan emosional.

Kondisi ini sering tidak disadari karena terkadang ibu yang mengalami PPD tidak menunjukkan perubahan perilaku yang signifikan di awal.

Menurut WHO (World Health Organization), depresi dianggap sebagai penyumbang utama beban penyakit secara global dan penyebab terbesar kecacatan di seluruh dunia.

Depresi pasca melahirkan adalah gangguan mental setelah melahirkan yang penting dan menjadi perhatian masyarakat sejak lama, meskipun kadang sering tidak terdeteksi karena minimnya pengetahuan dan pelaporan.

PPD lebih dari sekadar “baby blues” yang umum terjadi pada ibu baru. Baby blues biasanya berlangsung selama beberapa hari hingga dua minggu setelah melahirkan, ditandai oleh perubahan suasana hati, kecemasan ringan, atau perasaan mudah menangis. Sebaliknya, PPD berlangsung lebih lama dan lebih parah, memerlukan perhatian medis dan psikologis.

Gejala PPD biasanya berbeda-beda, tetapi beberapa tanda umum yang dapat dialami meliputi:

1.Perasaan sedih atau kosong yang mendalam.

2.Kehilangan minat pada hal-hal yang sebelumnya menyenangkan.

3.Kesulitan tidur (insomnia) atau tidur berlebihan.

4.Kelelahan yang ekstrim tanpa alasan fisik.

5.Kesulitan menjalin ikatan dengan bayi.

Baca Juga :  Kontribusi Gereja Katolik Melestarikan Lingkungan Hidup Melalui Ensiklik Laudato Si

6.Perasaan tidak berharga, bersalah, atau gagal sebagai ibu.

7.Kecemasan berlebihan, terutama terkait kesehatan bayi.

8.Pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bayi.

Penyebab dan faktor risiko PPD tidak sepenuhnya diketahui, namun beberapa hal berikutย  ini dapat meningkatkan risiko terjadinya PPD, antara lain:

Perubahan hormonal. Setelah melahirkan, terjadi penurunan kadar hormon estrogen dan progesteron secara drastis, yang dapat memengaruhi suasana hati.

Perubahan hormonal merupakan hal yang dialami oleh semua ibu yang mengandung dan melahirkan. Namun, kemampuan dan ketahanan untuk mengatasi perubahan hormonal dan penanganan dari setiap individu berbeda-beda.

Bagi ibu dengan ketahanan yang baik mampu mengelola diri untuk melalui perubahan hormonal ini dengan baik pula dan sebaliknya. Bagi ibu dengan ketahanan yang kurang baik akan rentan mengalami PPD.

Stres fisik dan Emosional.

Proses melahirkan yang panjang, baik melahirkan secara alami maupun melahirkan melalui operasi caesar, kurang tidur karena harus mengurus bayi yang baru lahir dan butuh perawatan dan perhatian ekstra, serta tanggung jawab baru dapat menambah tekanan bagi ibu.

Riwayat depresi. Ibu yang pernah mengalami gangguan depresi atau kecemasan lebih rentan terhadap PPD.

Kurangnya Dukungan Sosial. Minimnya dukungan dari pasangan, keluarga, atau teman dapat memperburuk kondisi ibu.

Pengetahuan yang kurang tentang pentingnya dukungan dan perhatian terutama dari suami untuk membantu ibu mengatasi masa-masa sulit setelah melahirkan menyebabkan banyak ibu rentan mengalami PPD.

Masalah kehidupan lainnya.

Kesulitan keuangan, konflik keluarga, atau kehamilan yang tidak direncanakan juga dapat menjadi pemicu terjadinya PPD.

Baca Juga :  Mgr. Maksimus Regus: Gembala Pegiat Literasi, Kolumnis, dan Penulis Buku Andal

PPD tidak hanya memengaruhi ibu, tetapi juga bayi dan keluarga. Ibu yang mengalami PPD mungkin merasa sulit untuk merawat bayi mereka dengan baik, yang dapat memengaruhi perkembangan emosional dan kognitif anak. Selain itu, hubungan dengan pasangan atau anggota keluarga lainnya bias terganggu.

Jika Anda atau orang terdekat Anda mengalami gejala PPD, langkah-langkah berikut dapat membantu:

1.Konsultasi dengan tenaga profesional.

Seorang dokter, psikolog, atau psikiater dapat mendiagnosis PPD dan merekomendasikan pengobatan seperti terapi kognitif perilaku (CBT) atau obat anti depresan.

2.Dukungan sosial.

Berbicara dengan pasangan, keluarga, atau teman tentang perasaan Anda dapat meringankan beban emosional. Bergabung dalam komunitas para ibu baru juga dapat membantu saling member semangat dan bertukar pengalaman, kesulitan dan tantangan yang dihadapi.

3.Perawatan diri.

Mengatur waktu untuk istirahat, makan makanan bergizi, dan melakukan aktivitas ringan seperti berjalan-jalan dapat membantu mengurangi stres.

4.Manajemen Stres

Latihan pernapasan, meditasi, atau yoga dapat membantu menenangkan pikiran.

Depresi pasca melahirkan adalah kondisi yang serius, tetapi dapat diatasi dengan perawatan dan dukungan yang tepat. Mengenali gejala dan segera mencari bantuan adalah langkah awal menuju pemulihan.

Ingat, seorang ibu yang sehat secara fisik dan mental adalah kunci untuk mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Jangan ragu untuk meminta bantuan jika Anda merasa membutuhkannya. *

Penulis, adalah dokter yang bertugas di Puskesmas Ndetundora, Kecamatan Ende, Kabupaten Ende, Provinsi NTT.

Editor : Anton Harus

Berita Terkait

๐—๐˜‚๐—ฟ๐—ป๐—ฎ๐—น๐—ถ๐˜€๐—บ๐—ฒ ๐—•๐—ฒ๐—ฟ๐—ธ๐˜‚๐—ฎ๐—น๐—ถ๐˜๐—ฎ๐˜€: ๐—™๐—ผ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐˜€๐—ถ ๐—ž๐—ฒ๐˜๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ป๐—ฎ๐—ป ๐—Ÿ๐—ถ๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐˜€๐—ถ ๐—•๐—ฎ๐—ป๐—ด๐˜€๐—ฎ
Pers, Pelita Abadi dan Wahyu Keindahan
Belajar dari Kasus Bundir Anak di Ngada: Masalah dan Solusi
Membaca Radikalisme di Tengah Ketimpangan Pendidikan
Ritel Modern, Meja Kasir dan Kerukan Recehan (Perspektif Manajemen SDM)
Di Atas Papan Hitam Putih: Memaknai Kehidupan melalui Filosofi Catur
Praktik Labeling di Ruang Kelas dan Derita Identitas
Api di Dapur Rakyat, SDM Otoritas dan Kemandirian Bangsa
Berita ini 222 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 9 Februari 2026 - 13:12 WITA

๐—๐˜‚๐—ฟ๐—ป๐—ฎ๐—น๐—ถ๐˜€๐—บ๐—ฒ ๐—•๐—ฒ๐—ฟ๐—ธ๐˜‚๐—ฎ๐—น๐—ถ๐˜๐—ฎ๐˜€: ๐—™๐—ผ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐˜€๐—ถ ๐—ž๐—ฒ๐˜๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ป๐—ฎ๐—ป ๐—Ÿ๐—ถ๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐˜€๐—ถ ๐—•๐—ฎ๐—ป๐—ด๐˜€๐—ฎ

Senin, 9 Februari 2026 - 08:23 WITA

Pers, Pelita Abadi dan Wahyu Keindahan

Sabtu, 7 Februari 2026 - 13:32 WITA

Belajar dari Kasus Bundir Anak di Ngada: Masalah dan Solusi

Jumat, 6 Februari 2026 - 20:47 WITA

Membaca Radikalisme di Tengah Ketimpangan Pendidikan

Jumat, 6 Februari 2026 - 19:49 WITA

Ritel Modern, Meja Kasir dan Kerukan Recehan (Perspektif Manajemen SDM)

Berita Terbaru

Wartawan Manggarai Barat bagikan Semabko.

Nusa Bunga

HPN 2026, PWMB Serahkan Sembako kepada Warga Menjaga

Senin, 9 Feb 2026 - 11:08 WITA

Opini

Pers, Pelita Abadi dan Wahyu Keindahan

Senin, 9 Feb 2026 - 08:23 WITA