Elegi Sang Perantau (Ratapan Sunyi atas Martabat Manusia yang Terbungkam di Tanjakan Gunung Boy) - FloresPos Net - Page 2

Elegi Sang Perantau (Ratapan Sunyi atas Martabat Manusia yang Terbungkam di Tanjakan Gunung Boy)

- Jurnalis

Kamis, 17 September 2026 - 11:28 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Immanuel Kant pernah bilang, manusia harus selalu diperlakukan sebagai tujuan pada dirinya sendiri, tidak boleh hanya menjadi alat belaka.

Bagi saya, pemaksaan tersebut mereduksi Aris menjadi objek propaganda, merampas hakikatnya sebagai subjek yang memiliki otonomi dan harga diri.

Sejatinya, wajah sesama manusia memancarkan perintah etis yang mutlak, yaitu ‘engkau tidak boleh membunuh’. Wajah Aris yang lelah namun penuh harapan semestinya memanggil rasa tanggung jawab dan welas asih.

Baca Juga :  Ikhtiar Menjaga Jiwa dan Merawat Semesta (Sebuah Sisipan Refleksi Filosofis-Pastoral Dies Natalis ke-35 Sekolah Tinggi Pastoral Atma Reksa Ende)

Sayangnya, panggilan etis itu dibungkam oleh ‘kebisingan ideologi’ yang membutakan mata hati. Ketika klaim politik ditempatkan di atas nilai kehidupan, dehumanisasi terjadi secara sistematis.

Korban tidak lagi dipandang sebagai manusia utuh yang memiliki keluarga, mimpi, dan kerinduan akan kampung halaman. Ia dilabeli sebagai hambatan dalam peta konflik, sebuah penyederhanaan kejam yang mengkhianati esensi peradaban.

Tragedi ini juga menyingkap kerentanan eksistensial manusia di tengah absurditas dunia. Albert Camus mungkin akan melihat peristiwa ini sebagai puncak ketidakteraturan, di mana upaya penuh makna untuk menghidupi keluarga dihancurkan sepihak oleh kekuatan destruktif.

Baca Juga :  Bahasa, Jalan Menuju Hati dan Rekonsiliasi

Kematian yang tiba-tiba di tengah rutinitas sehari-hari mengingatkan kita pada betapa tipisnya batas antara ada dan tiada. Oleh karena itu, kepiluan atas kepergian Aris Sanda melampaui batas geografis Toraja dan Papua.

Berita Terkait

Stadion Marilonga Ende dan Standar Venue Sepak Bola Putri: Saatnya Infrastruktur Olahraga Daerah Naik Kelas
Membumikan Kepemimpinan Melalui Transportasi Publik
Menjaga Sakralitas Sumpah Pemuda: Ketika Demokrasi dan Integritas Bangsa Diuji oleh Politik Bayaran
Di Balik Tumpukan Sampah Pesisir Waiwerang: Menagih Solusi, Bukan Sekadar Imbauan
Pertanian Sektor Utama Penggerak Perekonomian Kabupaten Ende
Sumpah yang Dimudahkan
Gempa Tektonik Flores, Solidaritas Kemanusiaan, dan IKAL Lemhannas Peduli Bencana Flores
Evaluasi 2 Tahun Prabowo-Gibran, Catatan Kritis Sektor Transportasi: Tantangan Keselamatan, Infrastruktur, dan Pelayanan
Berita ini 58 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 2 November 2026 - 19:33 WITA

Stadion Marilonga Ende dan Standar Venue Sepak Bola Putri: Saatnya Infrastruktur Olahraga Daerah Naik Kelas

Senin, 2 November 2026 - 13:09 WITA

Membumikan Kepemimpinan Melalui Transportasi Publik

Senin, 2 November 2026 - 09:21 WITA

Menjaga Sakralitas Sumpah Pemuda: Ketika Demokrasi dan Integritas Bangsa Diuji oleh Politik Bayaran

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 16:26 WITA

Di Balik Tumpukan Sampah Pesisir Waiwerang: Menagih Solusi, Bukan Sekadar Imbauan

Jumat, 30 Oktober 2026 - 17:57 WITA

Pertanian Sektor Utama Penggerak Perekonomian Kabupaten Ende

Berita Terbaru