Immanuel Kant pernah bilang, manusia harus selalu diperlakukan sebagai tujuan pada dirinya sendiri, tidak boleh hanya menjadi alat belaka.
Bagi saya, pemaksaan tersebut mereduksi Aris menjadi objek propaganda, merampas hakikatnya sebagai subjek yang memiliki otonomi dan harga diri.
Sejatinya, wajah sesama manusia memancarkan perintah etis yang mutlak, yaitu ‘engkau tidak boleh membunuh’. Wajah Aris yang lelah namun penuh harapan semestinya memanggil rasa tanggung jawab dan welas asih.
Sayangnya, panggilan etis itu dibungkam oleh ‘kebisingan ideologi’ yang membutakan mata hati. Ketika klaim politik ditempatkan di atas nilai kehidupan, dehumanisasi terjadi secara sistematis.
Korban tidak lagi dipandang sebagai manusia utuh yang memiliki keluarga, mimpi, dan kerinduan akan kampung halaman. Ia dilabeli sebagai hambatan dalam peta konflik, sebuah penyederhanaan kejam yang mengkhianati esensi peradaban.
Tragedi ini juga menyingkap kerentanan eksistensial manusia di tengah absurditas dunia. Albert Camus mungkin akan melihat peristiwa ini sebagai puncak ketidakteraturan, di mana upaya penuh makna untuk menghidupi keluarga dihancurkan sepihak oleh kekuatan destruktif.
Kematian yang tiba-tiba di tengah rutinitas sehari-hari mengingatkan kita pada betapa tipisnya batas antara ada dan tiada. Oleh karena itu, kepiluan atas kepergian Aris Sanda melampaui batas geografis Toraja dan Papua.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya










