Duka ini adalah lukisan tentang derita moral bersama. Solidaritas menjadi tanggung jawab kita, sebuah panggilan untuk mengakui bahwa keamanan dan hak hidup setiap perantau adalah fondasi dari masyarakat yang beradab.
Biarlah angin yang berhembus di lembah Nduga membawa pulang rindu Aris ke pelukan tanah leluhurnya di Toraja. Setiap tetes darah yang tumpah di aspal itu adalah saksi bisu yang menuntut kita untuk tetap memanusiakan manusia. Kita tidak boleh membiarkan ingatan akan dirinya tenggelam dalam arus waktu yang kejam.
Sebaliknya, kita harus menjadikannya lentera yang menerangi kegelapan, mengingatkan kita bahwa di atas segala perbedaan dan konflik, nyawa manusia tetaplah suci, laksana embun pagi yang layak dijaga, dihormati, dan dikenang hingga ke ujung waktu. *
Penulis adalah Staf Pengajar Stipar Ende










