Pendidikan dan Kemerdekaan: Menemukan Kembali “Rumah Bangsa” di Usia ke-81 - FloresPos Net - Page 2

Pendidikan dan Kemerdekaan: Menemukan Kembali “Rumah Bangsa” di Usia ke-81

- Jurnalis

Jumat, 14 Agustus 2026 - 13:58 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Hikmat politik berfokus pada nilai, moralitas, dan kebaikan bersama (bonum commune).

Untuk mendirikan dan merawat “Rumah Bangsa” ini, Platon mengajarkan empat pilar kebajikan utama (cardinal virtues) yang sangat relevan bagi Indonesia di usianya yang ke-81:

Pertama, Sophia (Hikmat/Kebijaksanaan): Kebijaksanaan yang mengarahkan keseluruhan penyelengaraan negara agar tidak kehilangan arah moral di tengah arus pragmatisme global.

Kedua, Andreia (Keberanian): Keberanian moral para pemimpin dan warga negara untuk membela kebenaran, keadilan, dan kepentingan orang banyak di tengah berbagai tekanan dan kepentingan oligarki.

Baca Juga :  Kumpul Kebo Dalam Perspektif Kristiani Menurut Ensiklik Familiaris Consortio

Ketiga, Sōphrosynē (Penguasaan Diri): Kesadaran, keselarasan, dan pengendalian diri antarunsur masyarakat untuk meredam benturan ego, polarisasi politik, dan perebutan kekuasaan yang merusak persatuan.

Keempat, Dikaiosynē (Keadilan): Kondisi ketika setiap warga negara dan penyelenggara negara menjalankan fungsi, hak, dan kewajibannya secara proporsional, tanpa ada yang diabaikan atau dieksploitasi.

Tanpa keempat pilar ini, Rumah Bangsa kita akan rapuh oleh angin korupsi, ketimpangan sosial, dan krisis integritas.

Pendidikan Kontemporer vs. Idealisme “Taman” Ki Hajar Dewantara

Baca Juga :  Transparansi di Era Digital

Krisis terbesar dalam dunia pendidikan kita hari ini adalah hilangnya jiwa pendidikan itu sendiri. Ki Hajar Dewantara (KHD) secara visioner menolak konsep sekolah pabrik dan memilih istilah “Taman” (Taman Siswa) sebagai ruang persemaian kebudayaan.

Di dalam sebuah “Taman”, anak-anak bukanlah wadah kosong (tabula rasa) yang harus diisi secara mekanis dengan hafalan, melainkan benih-benih manusia merdeka yang potensinya dituntun untuk tumbuh berkembang sesuai dengan kodrat alam dan zamannya.

Editor : Wall Abulat

Berita Terkait

Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan
Tanah yang Menolak Dibungkam
Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik
Menemukan Kembali Harapan Yang Hilang (Menelisik Praktik Judi Online dalam Perspektif Ajaran Sosial Gereja)
Menjaga Ruang Digital Tetap Bernas, Ketika Literasi Mengajak Kita Menebar Kebaikan Bukan Memadamkan Harapan
Antara Panggung Sandiwara, Fenomena Ijazah, dan Filosofi Non Scholae Sed Vitae Discimus
Menutup Celah Calo dan Membuka Akses Kerja: Urgensi Kolaborasi Lintas Kecamatan dalam Sosialisasi dan Mini Job Fair Dinas Nakertrans Sikka
Pancasila sebagai ‘Kalimatun Sawa’ di Tengah Tantangan Zaman
Berita ini 193 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 15 Oktober 2026 - 18:11 WITA

Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan

Kamis, 15 Oktober 2026 - 14:14 WITA

Tanah yang Menolak Dibungkam

Kamis, 15 Oktober 2026 - 11:10 WITA

Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik

Rabu, 14 Oktober 2026 - 09:49 WITA

Menemukan Kembali Harapan Yang Hilang (Menelisik Praktik Judi Online dalam Perspektif Ajaran Sosial Gereja)

Selasa, 13 Oktober 2026 - 18:56 WITA

Menjaga Ruang Digital Tetap Bernas, Ketika Literasi Mengajak Kita Menebar Kebaikan Bukan Memadamkan Harapan

Berita Terbaru

Opini

Tanah yang Menolak Dibungkam

Kamis, 15 Okt 2026 - 14:14 WITA

Opini

Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik

Kamis, 15 Okt 2026 - 11:10 WITA

Advertorial

Camino Flores, Perjalanan Spiritual dan Karitatif

Rabu, 14 Okt 2026 - 20:52 WITA