Oleh: Pius Kopong Tokan, SKM., M.Sc
PARA tenaga kesehatan di Kota Ende didorong memperkuat peran dalam Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik (G1R1J) guna menekan penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD) yang masih menjadi ancaman serius di daerah ini.
Langkah itu menjadi bagian dari upaya bersama memperkuat pemberdayaan masyarakat agar lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan dan rutin memantau keberadaan jentik nyamuk di rumah masing-masing.
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan, kasus DBD di Indonesia meningkat dari 27 per 100 ribu penduduk pada 2021 menjadi 52,1 pada 2022.
Di Nusa Tenggara Timur, angkanya bahkan mencapai 54,7, jauh di atas target nasional yang diharapkan di bawah 10 kasus per 100 ribu penduduk.
Di Kabupaten Ende sendiri, dalam lima tahun terakhir tercatat 609 kasus DBD, dan sekitar seperempatnya berasal dari wilayah kerja Puskesmas Kota Ende. Kondisi ini menggambarkan bahwa pencegahan berbasis masyarakat masih belum berjalan konsisten.
Peran Tenaga Kesehatan Belum Optimal
Pemerintah telah menggulirkan Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik sejak 2015 dan mempertegasnya melalui Surat Edaran Menteri Kesehatan Nomor PM.01.11/MENKES/591/2016. Namun, pelaksanaannya di lapangan belum optimal, termasuk di Kota Ende.
Hasil kajian menunjukkan, keberhasilan program ini sangat ditentukan oleh pendampingan tenaga kesehatan—baik melalui edukasi, pelatihan, maupun pemantauan kader Jumantik.
Sayangnya, keterlibatan petugas di lapangan masih minim. Padahal, peran mereka terbukti mampu menumbuhkan motivasi dan konsistensi kader dalam menjalankan kegiatan pemantauan jentik.
Penguatan Peran dan Kapasitas Tenaga Kesehatan
Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, dirancang sebuah model penguatan peran tenaga kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Kota Ende. Model ini dibangun melalui tiga tahapan utama, yaitu perencanaan dan koordinasi, pengembangan materi dan strategi, serta simulasi penerapan di lapangan.
Tahapan awal berfokus pada penataan arah kegiatan dan penyusunan bahan edukatif yang sesuai dengan karakter masyarakat setempat.
Selanjutnya, dilakukan pendalaman konsep dasar tentang penyakit DBD, strategi pengorganisasian Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik (G1R1J), serta pendekatan komunikasi kesehatan yang efektif.
Pada bagian penerapan, model ini digambarkan dalam bentuk simulasi kegiatan lapangan, seperti pemantauan jentik, penyuluhan rumah tangga, dan pelaporan hasil pengamatan.
Dari rancangan model tersebut, tergambar peningkatan pemahaman dan keterampilan yang diharapkan dimiliki tenaga kesehatan, terutama terkait identifikasi nyamuk Aedes aegypti, sistem pelaporan jentik, dan teknik komunikasi yang persuasif kepada masyarakat.
Kolaborasi Lintas Sektor
Kegiatan ini juga menumbuhkan semangat kolaborasi lintas sektor, melibatkan RT/RW, kader kesehatan, dan tokoh masyarakat. Salah satu gagasan yang muncul dari peserta ialah pemanfaatan grup WhatsApp sebagai media pelaporan jentik dan pemetaan rumah tangga berisiko.
Menurut tim pelaksana, pendekatan pelatihan partisipatif ini sejalan dengan prinsip community employment, di mana masyarakat dan tenaga kesehatan menjadi pelaku utama perubahan.
“Pelatihan ini bukan sekadar menambah pengetahuan teknis, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri tenaga kesehatan untuk menjadi penggerak di komunitasnya,” ujar salah satu anggota tim Pengabmas.
Menuju Komunitas Bebas DBD
Kegiatan penguatan ini dinilai memberi dampak positif bagi sistem kesehatan di tingkat komunitas. Selain meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan, juga menumbuhkan sikap proaktif, komunikatif, dan kolaboratif dalam upaya pencegahan DBD.
Tim pengabmas berencana melakukan evaluasi lanjutan untuk melihat dampak kegiatan terhadap peningkatan Angka Bebas Jentik (ABJ) di wilayah kerja Puskesmas Kota Ende. Ke depan, tidak menutup kemungkinan, model kegiatan serupa akan diterapkan di Puskesmas lain di Kabupaten Ende.*
Penulis: Dosen Prodi Keperawatan Ende, Poltekes Kupang.
Editor : Anton Harus













