Menolak Demi Ruang Hidup (Sisipan atas Sikap ALTER BKGF) - FloresPos Net

Menolak Demi Ruang Hidup (Sisipan atas Sikap ALTER BKGF)

- Jurnalis

Selasa, 29 Juli 2025 - 10:24 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge

PENOLAKAN Aliansi Lentera Transformasi Energi Berbasis Komunitas dan Gereja Flores (ALTER BKGF) terhadap laporan evaluasi Tim Satgas Geotermal Flores bukanlah bentuk penolakan emosional semata.

Ia mencerminkan ekspresi politik komunitas terhadap ancaman atas ruang hidup mereka, sekaligus resistensi terhadap logika pembangunan yang menyingkirkan dimensi sosial-budaya lokal.

Dari perspektif sosiologi dan antropologi, sikap tersebut memperlihatkan konflik antara rasionalitas teknokratis negara dengan cara pandang komunitas terhadap lingkungan sebagai ruang eksistensial.

Dalam lanskap sosiologi pengetahuan, Foucault (1980) menyadarkan kita bahwa di balik setiap narasi “ilmiah” tersembunyi relasi kekuasaan yang menentukan siapa yang boleh bicara dan pengetahuan mana yang layak diakui.

Baca Juga :  ASN NTT Wajib Beli Produk UMKM di NTT Mart, Gubernur: Minimal Rp100 Ribu

Dalam kasus evaluasi proyek geotermal di Flores, laporan Tim Satgas menampilkan pendekatan teknokratis yang menyingkirkan suara lokal sebagai kurang rasional dan tidak berbasis data.

Padahal, penolakan warga bukanlah bentuk kebingungan, melainkan ekspresi kesadaran ekologis dan historis yang telah hidup dari generasi ke generasi. Ini adalah pengetahuan yang tumbuh dari relasi dengan tanah, air, dan ritme alam yang tak bisa dicatat hanya dengan angka atau survei singkat.

Escobar (1995) menyebut pengetahuan seperti ini sebagai “epistemologi komunitas”—cara berpikir dan memahami dunia yang lahir dari pengalaman dan keterikatan sosial terhadap ruang hidup.

Baca Juga :  Hindayana dan Kurikulum Keteladanan

Ketika epistemologi lokal dipinggirkan, kita bukan hanya mengabaikan kearifan, tetapi juga merusak landasan kepercayaan sosial. Menegasikan suara warga sama artinya dengan memutus alur keberlanjutan spiritual dan ekologis yang menjadi jantung kehidupan masyarakat adat.

Dalam konteks ini, tantangan terbesar pembangunan bukan soal teknologi atau efisiensi, tetapi bagaimana kita memuliakan pengetahuan yang tak tertulis, namun menuntun manusia merawat ciptaan.

Dalam pandangan Lefebvre (1991), ruang bukan sekadar bentangan fisik, melainkan hasil dari proses sosial dan politik yang terus berlangsung. Ia adalah simbol dan arena pertarungan makna: siapa yang berhak mencipta, menamai, dan menentukan fungsinya.

Berita Terkait

Petugas Parkir dan Supir Berikan Penjelasan Terkait Peristiwa di Bandara Ende
Febrianus Laporkan Para Pelaku ke Polisi Usai Dikeroyok di Ruang KP3 Bandara Ende, Ini Kronologisnya
Upacara HUT Kemerdekaan RI ke -81 di Ende Dipusatkan di Stadion Marilonga
Bupati Sikka Buka Lomba Bertutur Tingkat SD/MI, Dorong Penguatan Literasi dan Sains Sejak Usia Sekolah
Festival Golo Koe 2026 Dibuka: Labuan Bajo Tumbuh Tanpa Kehilangan Akarnya
Lahan di Tiweria Tidak Layak, Pemkab Ende Ajukan Lahan Baru di Desa Aemuri untuk Sekolah Rakyat
Pedagang Keluhkan Mahalnya Sewa Petak Jualan di Pasar Batu Cermin
Ketika Badai Mengguncang Perahu Gereja: Apakah Kita Masih Mau Mendayung?
Berita ini 228 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 12 Agustus 2026 - 15:26 WITA

Petugas Parkir dan Supir Berikan Penjelasan Terkait Peristiwa di Bandara Ende

Rabu, 12 Agustus 2026 - 10:47 WITA

Febrianus Laporkan Para Pelaku ke Polisi Usai Dikeroyok di Ruang KP3 Bandara Ende, Ini Kronologisnya

Selasa, 11 Agustus 2026 - 21:42 WITA

Upacara HUT Kemerdekaan RI ke -81 di Ende Dipusatkan di Stadion Marilonga

Selasa, 11 Agustus 2026 - 21:31 WITA

Bupati Sikka Buka Lomba Bertutur Tingkat SD/MI, Dorong Penguatan Literasi dan Sains Sejak Usia Sekolah

Selasa, 11 Agustus 2026 - 13:43 WITA

Festival Golo Koe 2026 Dibuka: Labuan Bajo Tumbuh Tanpa Kehilangan Akarnya

Berita Terbaru