Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge
PENOLAKAN Aliansi Lentera Transformasi Energi Berbasis Komunitas dan Gereja Flores (ALTER BKGF) terhadap laporan evaluasi Tim Satgas Geotermal Flores bukanlah bentuk penolakan emosional semata.
Ia mencerminkan ekspresi politik komunitas terhadap ancaman atas ruang hidup mereka, sekaligus resistensi terhadap logika pembangunan yang menyingkirkan dimensi sosial-budaya lokal.
Dari perspektif sosiologi dan antropologi, sikap tersebut memperlihatkan konflik antara rasionalitas teknokratis negara dengan cara pandang komunitas terhadap lingkungan sebagai ruang eksistensial.
Dalam lanskap sosiologi pengetahuan, Foucault (1980) menyadarkan kita bahwa di balik setiap narasi “ilmiah” tersembunyi relasi kekuasaan yang menentukan siapa yang boleh bicara dan pengetahuan mana yang layak diakui.
Dalam kasus evaluasi proyek geotermal di Flores, laporan Tim Satgas menampilkan pendekatan teknokratis yang menyingkirkan suara lokal sebagai kurang rasional dan tidak berbasis data.
Padahal, penolakan warga bukanlah bentuk kebingungan, melainkan ekspresi kesadaran ekologis dan historis yang telah hidup dari generasi ke generasi. Ini adalah pengetahuan yang tumbuh dari relasi dengan tanah, air, dan ritme alam yang tak bisa dicatat hanya dengan angka atau survei singkat.
Escobar (1995) menyebut pengetahuan seperti ini sebagai “epistemologi komunitas”—cara berpikir dan memahami dunia yang lahir dari pengalaman dan keterikatan sosial terhadap ruang hidup.
Ketika epistemologi lokal dipinggirkan, kita bukan hanya mengabaikan kearifan, tetapi juga merusak landasan kepercayaan sosial. Menegasikan suara warga sama artinya dengan memutus alur keberlanjutan spiritual dan ekologis yang menjadi jantung kehidupan masyarakat adat.
Dalam konteks ini, tantangan terbesar pembangunan bukan soal teknologi atau efisiensi, tetapi bagaimana kita memuliakan pengetahuan yang tak tertulis, namun menuntun manusia merawat ciptaan.
Dalam pandangan Lefebvre (1991), ruang bukan sekadar bentangan fisik, melainkan hasil dari proses sosial dan politik yang terus berlangsung. Ia adalah simbol dan arena pertarungan makna: siapa yang berhak mencipta, menamai, dan menentukan fungsinya.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya










