Menolak Demi Ruang Hidup (Sisipan atas Sikap ALTER BKGF) - FloresPos Net - Page 3

Menolak Demi Ruang Hidup (Sisipan atas Sikap ALTER BKGF)

- Jurnalis

Selasa, 29 Juli 2025 - 10:24 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dalam antropologi pembangunan, teknologi membawa nilai, ideologi, dan relasi kuasa tertentu, yang bisa menjadi instrumen dominasi (Schumacher, 1973). Dengan demikian, kritik terhadap pendekatan teknokratis tidaklah anti-pembangunan, melainkan pengingat bahwa solusi teknis harus berpijak pada keadilan sosial.

Dalam perspektif sosiologi ekonomi, proposal ALTER BKGF tentang demokrasi energi, di mana komunitas berdaulat dalam menentukan dan mengelola sumber energi yang sesuai, merupakan bentuk pembelaan terhadap ‘ekonomi solidaritas’ yang berbasis kebutuhan dan kapasitas lokal (Laville, 2010). Penolakan terhadap PLTP bukan hanya soal efisiensi atau risiko teknis, tetapi soal siapa yang berhak menentukan arah pembangunan dan masa depan ruang hidup komunitas.

Baca Juga :  Gempa Tektonik Flores, Jurnalisme Terlibat, dan Pers Sebagai Pilar Keempat Demokrasi

ALTER BKGF tidak sekadar menyusun laporan, tetapi melahirkan sebuah narasi tandingan yang menggugat logika dominan dalam diskursus energi berkelanjutan di Indonesia.

Ia menghadirkan suara-suara yang selama ini dianggap bisu oleh kebijakan publik: suara warga, komunitas adat, dan ruang hidup yang terancam oleh logika efisiensi dan investasi.

Dalam konteks ini, keberlanjutan tidak cukup dimaknai sebagai soal teknis dan ramah lingkungan, tetapi sebagai proses etik-politik yang menyentuh harkat kemanusiaan dan keadilan ekologis: siapa yang didengar, siapa yang terlibat, dan siapa yang menentukan arah masa depan manusia dan lingkungan hidupnya.

Baca Juga :  Di Penghujung Sebuah Perjalanan (Sebuah Refleksi)

Karena itulah, negara dan korporasi hendaknya berhenti memonopoli narasi, dan mulai menyimak suara yang selama ini dikecilkan. Demokrasi energi tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari keberagaman perspektif yang saling menguatkan. Ketika ruang dialog dibuka dan kekuasaan belajar untuk mendengar, maka pembangunan bisa melampaui batas-batas proyek dan menjadi upaya kolektif merawat kehidupan.

Dalam lanskap seperti ini, energi bukan hanya soal daya listrik, tetapi daya hidup yang menghidupi martabat dan lingkungan hidupnya, memulihkan hubungan, dan menjaga keseimbangan antara manusia dan semesta.*

Penulis, adalah Staf Pengajar pada Sekolah Tinggi Pastoral Atma Reksa Ende

Berita Terkait

Gerakan Satu ASN Satu Buku, Disarpus Sikka Terima Dukungan Buku Bahan Bacaan
Peringati HUT Ke-81 TNI, Dandim 1603 Sikka Pimpin Ziarah Kenang Jasa Para Pahlawan
Ketika Solidaritas Ekonomi Berubah Menjadi Jerat Utang
Integrasikan Angkutan Umum ke Kawasan Permukiman, Mendorong Revisi UU LLAJ dan Perkim
Doxing, Luka Psikologis, dan Krisis Empati di Ruang Digital
Berharap Pendapatan RSUD, Target APBD-P Flores Timur Tahun 2026 Naik Rp 5,7 Miliar
Huntap Buat Warga Terdampak Gempa Flores di Sikka Segera Dibangun untuk Tahap Pertama
Bantuan Stimulan Pembangunan Rumah Rusak di Sikka Dampak Gempa Flores Siap Dikucurkan
Berita ini 234 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 13:42 WITA

Gerakan Satu ASN Satu Buku, Disarpus Sikka Terima Dukungan Buku Bahan Bacaan

Senin, 28 September 2026 - 13:39 WITA

Peringati HUT Ke-81 TNI, Dandim 1603 Sikka Pimpin Ziarah Kenang Jasa Para Pahlawan

Senin, 28 September 2026 - 11:36 WITA

Ketika Solidaritas Ekonomi Berubah Menjadi Jerat Utang

Minggu, 27 September 2026 - 16:43 WITA

Integrasikan Angkutan Umum ke Kawasan Permukiman, Mendorong Revisi UU LLAJ dan Perkim

Minggu, 27 September 2026 - 12:58 WITA

Doxing, Luka Psikologis, dan Krisis Empati di Ruang Digital

Berita Terbaru

Opini

Ketika Solidaritas Ekonomi Berubah Menjadi Jerat Utang

Senin, 28 Sep 2026 - 11:36 WITA

Opini

Doxing, Luka Psikologis, dan Krisis Empati di Ruang Digital

Minggu, 27 Sep 2026 - 12:58 WITA