Kontroversi Gol Persami vs BMP Flores Timur: Saat Sepak Bola NTT Diuji oleh Karakter Pertandingan - FloresPos Net - Page 2

Kontroversi Gol Persami vs BMP Flores Timur: Saat Sepak Bola NTT Diuji oleh Karakter Pertandingan

- Jurnalis

Kamis, 13 Agustus 2026 - 12:28 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

4. Panitia harus memastikan pertandingan berlangsung aman, tertib, dan profesional.

5. Penonton harus memberikan dukungan tanpa intimidasi atau provokasi.

6. Setiap kontroversi harus dievaluasi berdasarkan fakta, rekaman pertandingan, dan regulasi, bukan berdasarkan fanatisme daerah.

Yang lebih penting, jangan sampai persaingan Maumere melawan BMP Flores Timur berubah menjadi persoalan antar daerah. Persami membawa nama Sikka/Maumere, sementara BMP membawa nama Flores Timur. Keduanya sama-sama bagian dari keluarga besar sepak bola NTT.

Baca Juga :  Prabowo Menggantikan Kepala BGN: Solusi atau Kolusi?

Kemenangan Adalah Hasil Pertandingan, tetapi Karakter Adalah Warisan.

Jika Soeratin Cup benar-benar ingin menjadi wadah pembinaan pemain muda NTT menuju level nasional, maka kualitas pertandingan harus dibangun bersama: kualitas pemain, pelatih, wasit, official, panitia, dan penonton.

Kontroversi sebuah gol jangan dijadikan alasan untuk memecah sepak bola NTT. Jadikan kontroversi sebagai bahan evaluasi agar ke depan keputusan pertandingan semakin profesional, teknologi dan mekanisme pengawasan semakin baik, serta budaya sportivitas semakin kuat.

Baca Juga :  Restorasi Fungsi Sosial (Membaca Peristiwa 18 Februari di Kota Larantuka dari Perspektif Fungsionalisme Durkheim)

Sepak bola NTT tidak hanya membutuhkan pemain yang hebat mencetak gol, tetapi juga manusia yang hebat dalam menghormati aturan, lawan, dan sportivitas. *

Penulis adalah Dosen Mata Kuliah Pendidikan Jasmani Prodi PGSD Universitas Flores.

Editor : Wall Abulat

Berita Terkait

Merayakan Iman, Bukan Mengorbankan Masa Depan Anak (catatan atas perayaan Sambut Baru)
Menagih Janji Konektivitas di Perbatasan: Menyelamatkan Krayan dari Keterisolasian Multidimensi
Dari Panggung Sandiwara dan Hegemoni Kekuasaan Menuju Aksi Berkeadilan Nyata
Pengakuan Masyarakat Adat dan Hutan Adat di NTT: Jangan Berhenti pada Pengakuan
Elegi Sang Perantau (Ratapan Sunyi atas Martabat Manusia yang Terbungkam di Tanjakan Gunung Boy)
Kepemimpinan dalam Formasi Imamat: Membentuk Diri melalui Tanggung Jawab atas Yang Lain
Guru sebagai Agen Pemulihan: Membangun Komunitas Sekolah Tangguh Risiko Bencana Pasca Gempa Flores
‘Jeritan Sunyi’ di Tanah Lamaholot
Berita ini 160 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 20:44 WITA

Merayakan Iman, Bukan Mengorbankan Masa Depan Anak (catatan atas perayaan Sambut Baru)

Jumat, 18 September 2026 - 17:01 WITA

Menagih Janji Konektivitas di Perbatasan: Menyelamatkan Krayan dari Keterisolasian Multidimensi

Kamis, 17 September 2026 - 19:19 WITA

Dari Panggung Sandiwara dan Hegemoni Kekuasaan Menuju Aksi Berkeadilan Nyata

Kamis, 17 September 2026 - 13:14 WITA

Pengakuan Masyarakat Adat dan Hutan Adat di NTT: Jangan Berhenti pada Pengakuan

Kamis, 17 September 2026 - 11:28 WITA

Elegi Sang Perantau (Ratapan Sunyi atas Martabat Manusia yang Terbungkam di Tanjakan Gunung Boy)

Berita Terbaru