Ruang Publik, Edukasi dan Sensasi - FloresPos Net

Ruang Publik, Edukasi dan Sensasi

- Jurnalis

Jumat, 19 Desember 2025 - 07:58 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Anselmus DW Atasoge

DALAM beberapa bulan terakhir, publik Indonesia seakan digiring ke sebuah panggung besar yang menghadirkan suara-suara yang ‘saling bersahutan’.

Ada nuansa simfoni kebijaksanaan di balik suara-suara itu. Ada pula ‘dentuman keras’ yang memecah harmoni. Polemik tentang ijazah Presiden dan tragedi bencana di sejumlah daerah misalnya, tak jarang menjelma menjadi ‘bahan bakar’ perdebatan yang panas, menggelegak di layar televisi dan media publik.

Ruang yang semestinya menjadi ‘taman dialog’ demokratis, tempat benih pengetahuan tumbuh, justru berubah menjadi gelanggang pertarungan kata, penuh tudingan dan serangan, seakan kebenaran hanya bisa ditegakkan dengan teriakan paling lantang.

Fenomena ini menyingkap pertanyaan bernuansa filosofis: apakah ruang publik kita masih berfungsi sebagai sekolah kebijaksanaan, atau telah terperangkap menjadi panggung sensasi yang menukar nalar dengan emosi?

Baca Juga :  Dampak Stunting Bagi Pertumbuhan Anak

Di balik sorot kamera dan riuh tepuk tangan penonton, kita melihat komunikasi politik yang kehilangan etika dan keindahan. Seperti sungai yang keruh oleh lumpur, arus diskusi kita sering kali membawa lebih banyak kebisingan daripada kejernihan. Karenanya, yang tersisa bagi publik bukanlah pelajaran tentang demokrasi, melainkan tontonan yang menghibur sesaat, namun meninggalkan kekosongan makna.

Di satu sisi, fenomena ini menunjukkan bahwa demokrasi Indonesia masih hidup. Perdebatan publik menandakan adanya kebebasan berekspresi, di mana masyarakat tidak lagi pasif melainkan aktif mengikuti isu-isu strategis.

Keterlibatan publik dalam membicarakan politik dan bencana juga memperlihatkan meningkatnya partisipasi politik. Bahkan, beberapa tokoh politik merespons isu dengan membuka dokumen pribadi, seperti ijazah, sebagai bentuk keterbukaan. Hal ini dapat menjadi teladan bagi budaya transparansi di masa depan.

Baca Juga :  Membumikan Keadilan: Membangun Sistem Politik yang Berpihak pada Rakyat

Namun di sisi lain, perdebatan publik sering kehilangan nuansa edukatif. Bahasa provokatif, tuduhan tanpa data, dan sikap agresif justru memperkeruh suasana. Format acara televisi lebih menekankan drama konflik ketimbang substansi, sehingga rating menjadi tujuan utama sementara kualitas diskusi terabaikan.

Dalam kasus bencana, ruang publik sering bergeser dari solusi ke saling menyalahkan. Korban bencana kehilangan suara, sementara politisi sibuk berdebat. Fenomena ini memperlihatkan bagaimana tragedi kemanusiaan bisa dipolitisasi untuk kepentingan tertentu.

Untuk mengembalikan fungsi ruang publik sebagai arena pembelajaran, kita perlu menyalakan kembali lentera kebijaksanaan yang mulai meredup di tengah riuh perdebatan.

Berita Terkait

Gempa Tektonik Flores, Solidaritas Kemanusiaan, dan IKAL Lemhannas Peduli Bencana Flores
Evaluasi 2 Tahun Prabowo-Gibran, Catatan Kritis Sektor Transportasi: Tantangan Keselamatan, Infrastruktur, dan Pelayanan
Berjalan Bersama Merawat Keadaban Publik dan Meneguhkan Solidaritas Kemanusiaan (Catatan dari Sarasehan Nasional FMKI)
Upaya Mengendalikan Truk ODOL dari Gerbang Kawasan Industri
Bisnis Thrifting di Kota Kupang: Gaya Hidup Hemat yang Menggerakkan Ekonomi
Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern
Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan
Tanah yang Menolak Dibungkam
Berita ini 105 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 08:45 WITA

Gempa Tektonik Flores, Solidaritas Kemanusiaan, dan IKAL Lemhannas Peduli Bencana Flores

Senin, 26 Oktober 2026 - 17:37 WITA

Evaluasi 2 Tahun Prabowo-Gibran, Catatan Kritis Sektor Transportasi: Tantangan Keselamatan, Infrastruktur, dan Pelayanan

Minggu, 25 Oktober 2026 - 17:57 WITA

Berjalan Bersama Merawat Keadaban Publik dan Meneguhkan Solidaritas Kemanusiaan (Catatan dari Sarasehan Nasional FMKI)

Kamis, 22 Oktober 2026 - 16:42 WITA

Upaya Mengendalikan Truk ODOL dari Gerbang Kawasan Industri

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 20:01 WITA

Bisnis Thrifting di Kota Kupang: Gaya Hidup Hemat yang Menggerakkan Ekonomi

Berita Terbaru

Blasius Apen, Kepala Bidang (Kabid) Produksi Tanaman Pangan (PTP) pada Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Mabar

Nusa Bunga

Puso, 100 Hektar Tanaman Padi dan Jagung di Manggarai Barat

Selasa, 27 Okt 2026 - 20:11 WITA