Ironisnya, semakin banyak waktu yang dihabiskan untuk urusan administratif, semakin sedikit waktu yang tersisa untuk refleksi pedagogis dan pengembangan kualitas pembelajaran.
Guru pun terjebak dalam lingkaran rutinitas yang menguras, bukan menginspirasi. Kesejahteraan guru, terutama guru honorer, juga masih menjadi luka yang belum sembuh dalam potret pendidikan Indonesia.
Jutaan guru honorer yang telah bertahun-tahun mengabdi menerima penghasilan yang jauh di bawah standar kelayakan hidup, sementara beban tugas mereka tidak berbeda secara signifikan dengan guru berstatus ASN.
Kondisi ini menciptakan demotivasi yang pelan tapi pasti menggerogoti semangat mengajar, dan pada akhirnya berdampak langsung pada kualitas interaksi guru dengan peserta didik di dalam kelas.
Ketika guru tidak sejahtera, sangat sulit mengharapkan mereka bisa sepenuhnya fokus memberikan yang terbaik bagi generasi penerus bangsa. Selain itu, program pelatihan dan pengembangan profesional guru sering kali tidak menyentuh kebutuhan nyata di lapangan.
Pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan seringkali bersifat seremonial, seragam untuk semua konteks sekolah, dan tidak disertai pendampingan berkelanjutan yang memungkinkan guru untuk benar-benar mengimplementasikan apa yang telah dipelajari.
Akibatnya, pengetahuan baru yang diperoleh menguap begitu cepat karena tidak ada ekosistem yang mendukung penerapannya secara konsisten. Guru dibiarkan berjuang sendirian menghadapi tantangan pembelajaran yang terus berkembang di era digital ini.
Tekanan psikologis yang dialami guru pun tidak bisa diabaikan begitu saja. Ekspektasi masyarakat dan orang tua yang sangat tinggi terhadap guru, tuntutan hasil ujian yang baik, ancaman pelaporan ke aparat jika memberikan sanksi mendidik kepada peserta didik, serta minimnya perlindungan hukum yang nyata, membuat profesi guru menjadi arena yang penuh ketegangan.
Banyak guru muda yang potensial memilih untuk meninggalkan profesi ini atau bahkan mengurungkan niat sejak awal karena kondisi yang tidak kondusif tersebut. Kehilangan guru-guru berbakat adalah kerugian jangka panjang yang tidak ternilai bagi bangsa.
Suara yang Sering Tak Didengar: Krisis di Sisi Peserta Didik
Di sisi lain, peserta didik Indonesia menghadapi tekanan berlapis yang sering kali tidak tampak di permukaan laporan keberhasilan pendidikan nasional.










