Ketika Sekolah Hanya Menjadi Nama (Seruan Darurat untuk Menguatkan Partisipasi Semesta dan Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua) - FloresPos Net - Page 6

Ketika Sekolah Hanya Menjadi Nama (Seruan Darurat untuk Menguatkan Partisipasi Semesta dan Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua)

- Jurnalis

Rabu, 6 Mei 2026 - 08:35 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Krisis yang dialami guru dan peserta didik Indonesia saat ini bukan sekadar persoalan teknis manajerial yang bisa diselesaikan dengan regulasi baru atau pergantian kurikulum; ini adalah krisis sistemik yang membutuhkan perubahan paradigma secara mendasar.

Selama pendidikan masih diperlakukan sebagai objek kebijakan dan bukan sebagai subjek kehidupan berbangsa, maka perubahan yang bermakna akan terus terhambat. Sudah saatnya seluruh komponen bangsa berdiri bersama dan menyatakan bahwa pendidikan adalah urusan kita semua, tanpa pengecualian.

Partisipasi semesta bukanlah konsep yang asing bagi masyarakat Indonesia yang sejak lama telah mengenal gotong royong sebagai nilai hidup yang luhur. Menghidupkan kembali semangat gotong royong dalam konteks modern pendidikan abad ke-21 berarti mendorong setiap individu, keluarga, komunitas, dan institusi untuk melihat keberhasilan pendidikan bukan sebagai keberhasilan orang lain, melainkan sebagai keberhasilan bersama.

Baca Juga :  Menjahit Kreativitas, Mengatasi Krisis Pangan dengan Berpijak pada Ensiklik Caritas In Veritate

Kemitraan antara sekolah, keluarga, masyarakat, dan dunia usaha yang terstruktur dengan baik dan difasilitasi oleh kebijakan yang tepat dapat menjadi mesin perubahan yang jauh lebih kuat dari program pemerintah mana pun. Energi kolektif yang terorganisasi adalah sumber daya yang belum sepenuhnya dimanfaatkan dalam pembangunan pendidikan Indonesia.

Pemerintah memiliki tanggung jawab yang tidak dapat dialihkan untuk menciptakan ekosistem yang memungkinkan pendidikan bermutu tumbuh secara merata dan berkeadilan di seluruh penjuru negeri.

Reformasi kebijakan yang menyentuh kesejahteraan guru, penyederhanaan beban administratif, penguatan layanan psikologis di sekolah, dan afirmasi nyata bagi daerah tertinggal adalah paket kebijakan yang harus dijalankan secara simultan dan konsisten, bukan parsial dan seremonial.

Baca Juga :  Ode untuk Flamingo yang Sedang Memudar (Menilik Psikologi di Balik "Pudarnya" Identitas Ibu)

Anggaran pendidikan yang telah diamanatkan konstitusi sebesar dua puluh persen dari APBN harus dikawal penggunaannya secara transparan agar benar-benar menyentuh akar masalah, bukan sekadar terserap dalam angka-angka laporan.

Komitmen politik yang tulus pada pendidikan adalah cerminan paling nyata dari seberapa serius sebuah pemerintahan memandang masa depan bangsanya.

Pada akhirnya, mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua adalah tentang memilih menjadi bangsa yang percaya bahwa setiap anak, di manapun ia lahir, layak mendapat kesempatan yang sama untuk tumbuh, berpikir, bermimpi, dan berkontribusi.

Pilihan itu bukan semata soal anggaran atau kebijakan, melainkan soal nilai dan karakter kolektif yang ingin kita wariskan kepada generasi berikutnya.

Berita Terkait

Ketika Empat Belas Detik Bumi Flores Bergetar
Kilas Balik Konflik Sepak Bola NTT: Keamanan Semua Pihak Harus Menjadi Prioritas
Pendidikan dan Kemerdekaan: Menemukan Kembali “Rumah Bangsa” di Usia ke-81
Kontroversi Gol Persami vs BMP Flores Timur: Saat Sepak Bola NTT Diuji oleh Karakter Pertandingan
Angkutan Pelajar Aman (APA): Menjaga Keselamatan Siswa, Menghidupkan Angkutan Pedesaan Kabupaten Magelang
Soeratin Cup 2026 NTT: Menjaga Marwah Kompetisi dan Masa Depan Sepak Bola Muda
Ketika Badai Mengguncang Perahu Gereja: Apakah Kita Masih Mau Mendayung?
Larangan Merokok Sambil Mengemudi
Berita ini 128 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 12:33 WITA

Kilas Balik Konflik Sepak Bola NTT: Keamanan Semua Pihak Harus Menjadi Prioritas

Jumat, 14 Agustus 2026 - 13:58 WITA

Pendidikan dan Kemerdekaan: Menemukan Kembali “Rumah Bangsa” di Usia ke-81

Kamis, 13 Agustus 2026 - 12:28 WITA

Kontroversi Gol Persami vs BMP Flores Timur: Saat Sepak Bola NTT Diuji oleh Karakter Pertandingan

Kamis, 13 Agustus 2026 - 12:24 WITA

Angkutan Pelajar Aman (APA): Menjaga Keselamatan Siswa, Menghidupkan Angkutan Pedesaan Kabupaten Magelang

Kamis, 13 Agustus 2026 - 11:29 WITA

Soeratin Cup 2026 NTT: Menjaga Marwah Kompetisi dan Masa Depan Sepak Bola Muda

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Dampak Gempa Flores Sebabkan 3 Orang Meninggal Dunia di Sikka

Sabtu, 15 Agu 2026 - 19:39 WITA