Ode untuk Flamingo yang Sedang Memudar (Menilik Psikologi di Balik “Pudarnya” Identitas Ibu) - FloresPos Net

Ode untuk Flamingo yang Sedang Memudar (Menilik Psikologi di Balik “Pudarnya” Identitas Ibu)

- Jurnalis

Sabtu, 20 Desember 2025 - 16:36 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Florentina Ina Wai

FENOMENA emosional sering kali muncul saat seorang wanita menatap potret dirinya dari bertahun-tahun lalu di galeri ponsel; sebuah rekaman visual tentang sosok dengan binar mata lepas dan eksistensi yang belum terikat oleh beban domestik.

Dialog imajiner bertajuk “Apa kabarmu?” yang kerap dijawab dengan helaan napas “Kabarku baik-baik saja” di tengah riuh rendah pengasuhan, bukanlah sekadar narasi melankolis.

Secara sosiologis dan psikologis, ini merupakan manifestasi dari sebuah fase transisi identitas yang kompleks. Realitas ini dapat dijelaskan melalui analogi biologis The Flamingo Era.

Dalam dunia ornitologi, burung Flamingo dikenal karena pigmentasi merah mudanya yang memukau, namun terdapat fakta mendalam saat mereka mengasuh bayinya: warna ikonik tersebut perlahan memudar menjadi putih keabu-abuan.

Baca Juga :  Pentingnya Menulis Bagi Guru dalam Mengembangkan Kompetensi Mendidik Individu Berkualitas

Hal ini terjadi karena Flamingo menyalurkan seluruh cadangan karotenoid atau pigmen warna dari tubuh mereka ke dalam crop milk demi menghidupi keturunannya. Mereka secara sukarela merelakan warna dirinya luntur agar sang anak bisa tumbuh berwarna.

Analogi ini merefleksikan realitas eksistensial seorang ibu yang sering kali mengalokasikan waktu, energi, hingga sebagian besar “serpihan jati dirinya” demi pertumbuhan anak. Kelelahan fisik dan emosional yang muncul kemudian menciptakan persepsi bahwa diri yang dulu bercahaya kini telah meredup.

Namun, secara ilmiah, perasaan “kehilangan diri sendiri” ini divalidasi melalui konsep Matrescence. Istilah yang diperkenalkan oleh antropolog Dana Raphael ini menjelaskan bahwa transisi menjadi ibu adalah perubahan identitas paling drastis dalam siklus hidup manusia, dengan intensitas yang setara dengan masa remaja.

Baca Juga :  Pandangan Gereja Terhadap Perbedaan Agama Dalam Terang Nostra Aetate

Hal ini diperkuat oleh teori psikoanalis Donald Winnicott mengenai Primary Maternal Preoccupation, sebuah kondisi di mana fokus seorang ibu menyempit secara alami agar ia bisa fokus sepenuhnya pada kebutuhan bayi.

Dengan demikian, pudarnya warna diri bukanlah indikasi kehancuran identitas, melainkan sebuah tugas evolusi besar di mana seorang ibu meminjamkan “pigmen” jiwanya untuk membangun fondasi mental manusia baru.

Penting untuk disadari bahwa Flamingo Era merupakan fase yang bersifat temporer. Sebagaimana burung Flamingo akan mendapatkan kembali warna merah mudanya setelah anak-anak mereka mandiri, seorang ibu pun akan melalui proses yang disebut sebagai Integrasi Identitas.

Berita Terkait

Gempa dan Gempar: Dari Guncangan Alam Menuju Gerakan Meningkatkan Pendapatan Asli Rakyat Flores
Catatan Kemanusiaan Pascagempa Flores 2026: Tenda Pengungsian Bukan Tempat Aman bagi Perempuan dan Anak
Peran Strategis Inpres Jalan Daerah untuk Pemerataan Ekonomi dan Kawasan 3TP
Bencana, Apakah Membawa Berkah?
Gempa Tektonik Flores, Jurnalisme Terlibat, dan Pers Sebagai Pilar Keempat Demokrasi
Menghubungkan Titik Terluar: Urgensi Transportasi Publik di Perbatasan Kalimantan Barat
Urgensitas Solidaritas Kemanusiaan Gempa Tektonik Flores dan Manajemen Kesiapsiagaan Bencana
‘Ketika Gempa Berlalu, Siapa yang Peduli pada Mama Imelda?’
Berita ini 87 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 7 September 2026 - 09:18 WITA

Gempa dan Gempar: Dari Guncangan Alam Menuju Gerakan Meningkatkan Pendapatan Asli Rakyat Flores

Senin, 7 September 2026 - 08:03 WITA

Catatan Kemanusiaan Pascagempa Flores 2026: Tenda Pengungsian Bukan Tempat Aman bagi Perempuan dan Anak

Kamis, 3 September 2026 - 17:41 WITA

Peran Strategis Inpres Jalan Daerah untuk Pemerataan Ekonomi dan Kawasan 3TP

Rabu, 2 September 2026 - 19:43 WITA

Bencana, Apakah Membawa Berkah?

Selasa, 1 September 2026 - 18:16 WITA

Gempa Tektonik Flores, Jurnalisme Terlibat, dan Pers Sebagai Pilar Keempat Demokrasi

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Jumlah Korban Jiwa Gempa Flores Capai 135 Orang

Selasa, 8 Sep 2026 - 20:23 WITA