Ketika Air Mata Menjadi Berita: Membaca Kembali Gagasan Walburgus Abulat tentang Jurnalisme Terlibat - FloresPos Net - Page 2

Ketika Air Mata Menjadi Berita: Membaca Kembali Gagasan Walburgus Abulat tentang Jurnalisme Terlibat

- Jurnalis

Selasa, 8 September 2026 - 15:16 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Namun, mereka juga mengingatkan bahwa ada jarak antara gagasan tentang apa yang diinginkan publik dan kenyataan tentang bagaimana publik benar-benar berpartisipasi.

Artinya, wartawan tidak boleh menganggap bahwa semua bentuk partisipasi otomatis baik. Keterlibatan tetap membutuhkan pertimbangan, profesionalisme, dan pemahaman terhadap masyarakat yang dilayani.

Gagasan ini menjadi semakin penting ketika kita berbicara tentang persoalan kemanusiaan. Dalam situasi bencana gempa bumi di Flores, misalnya, media biasanya bergerak cepat. Jumlah korban diberitakan, rumah yang rusak dihitung, pengungsi dicatat, dan bantuan dilaporkan. Semua itu penting. Tetapi Wal mengajak kita melihat sesuatu yang lebih dalam: di balik angka ada manusia.

Baca Juga :  Koperasi Merah Putih di NTT: Peluang atau Ancaman bagi BUMDes?

Di balik jumlah korban ada keluarga yang kehilangan anggota keluarganya. Di balik rumah yang rusak ada orang yang kehilangan tempat tinggal. Di balik seorang pengungsi ada kehidupan yang tiba-tiba berubah. Karena itu, berita tidak boleh berhenti pada angka dan fakta permukaan.

Wartawan perlu masuk lebih jauh untuk memahami kehidupan orang-orang yang diberitakan.
Cara pandang ini juga berkaitan dengan gagasan tentang active audience atau audiens aktif. Dalam perkembangan teori komunikasi modern, masyarakat tidak lagi dipandang sebagai penerima pesan yang pasif.

Baca Juga :  Narasi dan Realita, Framing Media dalam Konflik dan Harmoni Sosial

Mereka menafsirkan, merespons, memproduksi, dan ikut membentuk arus informasi. Pemikiran Henry Jenkins tentang participatory culture, misalnya, menunjukkan bagaimana masyarakat dalam budaya media baru semakin terlibat dalam proses produksi dan sirkulasi pesan.

Dalam konteks jurnalistik, perubahan ini mengingatkan media bahwa masyarakat bukan hanya orang yang membaca berita, tetapi juga memiliki pengalaman, pengetahuan lokal, dan perspektif yang dapat memperkaya proses pemberitaan.

Namun, keterlibatan masyarakat tidak berarti wartawan menyerahkan begitu saja proses jurnalistik kepada publik. Justru di sinilah profesionalisme jurnalistik tetap dibutuhkan.

Berita Terkait

Peringati Sumpah Pemuda ke-98, Pemuda Sikka Diminta Teladani Semangat 1928
Empat Pelajar SMAN 2 Maumere Lolos Mengikuti Festival Sains Nasional di Bandung
Longsor Terjadi di Bola, Wabup Sikka Himbau Warga Selalu Waspada
Camino de Flores Tutup Perjalanan Ziarah 70 Kilometer, Tinggalkan Jejak Kepedulian bagi Flores
Dari Seminar Nasional: STIPAS St. Sirilus Ruteng Bangun Komitmen Teknologi Harus Disertai Etika, Integritas Akademik, dan Penghormatan Martabat Manusia
Warga Keluhkan Limbah dan Bau dari Industri Tahu Tempe Milik Krakatau di Lokoboko
Banyak Irigasi Tanah, Tanaman Padi di Manggarai Barat Alami Kekeringan
Kekeringan ‘Memaksa’ Manggarai Barat Kehilangan Produksi Padi 423,4 Ton
Berita ini 581 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 20:20 WITA

Peringati Sumpah Pemuda ke-98, Pemuda Sikka Diminta Teladani Semangat 1928

Rabu, 28 Oktober 2026 - 19:54 WITA

Empat Pelajar SMAN 2 Maumere Lolos Mengikuti Festival Sains Nasional di Bandung

Rabu, 28 Oktober 2026 - 19:51 WITA

Longsor Terjadi di Bola, Wabup Sikka Himbau Warga Selalu Waspada

Rabu, 28 Oktober 2026 - 19:36 WITA

Camino de Flores Tutup Perjalanan Ziarah 70 Kilometer, Tinggalkan Jejak Kepedulian bagi Flores

Rabu, 28 Oktober 2026 - 17:08 WITA

Warga Keluhkan Limbah dan Bau dari Industri Tahu Tempe Milik Krakatau di Lokoboko

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Longsor Terjadi di Bola, Wabup Sikka Himbau Warga Selalu Waspada

Rabu, 28 Okt 2026 - 19:51 WITA