Namun, mereka juga mengingatkan bahwa ada jarak antara gagasan tentang apa yang diinginkan publik dan kenyataan tentang bagaimana publik benar-benar berpartisipasi.
Artinya, wartawan tidak boleh menganggap bahwa semua bentuk partisipasi otomatis baik. Keterlibatan tetap membutuhkan pertimbangan, profesionalisme, dan pemahaman terhadap masyarakat yang dilayani.
Gagasan ini menjadi semakin penting ketika kita berbicara tentang persoalan kemanusiaan. Dalam situasi bencana gempa bumi di Flores, misalnya, media biasanya bergerak cepat. Jumlah korban diberitakan, rumah yang rusak dihitung, pengungsi dicatat, dan bantuan dilaporkan. Semua itu penting. Tetapi Wal mengajak kita melihat sesuatu yang lebih dalam: di balik angka ada manusia.
Di balik jumlah korban ada keluarga yang kehilangan anggota keluarganya. Di balik rumah yang rusak ada orang yang kehilangan tempat tinggal. Di balik seorang pengungsi ada kehidupan yang tiba-tiba berubah. Karena itu, berita tidak boleh berhenti pada angka dan fakta permukaan.
Wartawan perlu masuk lebih jauh untuk memahami kehidupan orang-orang yang diberitakan.
Cara pandang ini juga berkaitan dengan gagasan tentang active audience atau audiens aktif. Dalam perkembangan teori komunikasi modern, masyarakat tidak lagi dipandang sebagai penerima pesan yang pasif.
Mereka menafsirkan, merespons, memproduksi, dan ikut membentuk arus informasi. Pemikiran Henry Jenkins tentang participatory culture, misalnya, menunjukkan bagaimana masyarakat dalam budaya media baru semakin terlibat dalam proses produksi dan sirkulasi pesan.
Dalam konteks jurnalistik, perubahan ini mengingatkan media bahwa masyarakat bukan hanya orang yang membaca berita, tetapi juga memiliki pengalaman, pengetahuan lokal, dan perspektif yang dapat memperkaya proses pemberitaan.
Namun, keterlibatan masyarakat tidak berarti wartawan menyerahkan begitu saja proses jurnalistik kepada publik. Justru di sinilah profesionalisme jurnalistik tetap dibutuhkan.










