Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, Bhk, M. Pd
DEWASA ini, tuntutan menjadi seorang pendidik yang kompeten dan profesional menjadi sangat penting, mengingat dunia IPTEK semakin hari semakin berkembang begitu cepat.
Belum lagi tuntutan kurikulum saat ini, mengharuskan setiap pendidik harus kreatif dan inovatif, sehingga si pebelajar juga lebih bersemangat dalam mengikuti proses pembelajaran.
Penddik yang kurang kreatif dan inovatif, hanya akan membuat peserta didik jenuh dan bosan di kelas atau di sekolah.
Dan inilah tantangan bagi para pendidik saat ini, yang harus disikapi dengan ‘Kemauan’ (will) untuk mengubah habitus lama ke habitus baru. Kemauan saja tidak cukup tetapi harus ada ‘Komitmen’ (commitment) untuk memulai.
Komitmen tidaklah cukup, melainkan harus ada ‘Kesungguhan’ (seriousness) untuk berubah. Jadi, jika ingin menjadi pendidik yang kreatif dan inovatif, ingatlah 3K (Kemauan, Komitmen, Kesungguhan) untuk belajar dan terus belajar, serta untuk berubah dan terus berubah, sehingga menghasilkan buah kompetensi dan profesional.
Dan dalam episode merdeka belajar 5 tentang guru penggerak, dikatakan bahwa pendidikan yang berkualitas sangat dibutuhkan untuk mempersiapkan generasi muda dalam menghadapi tantangan masa depan. Oleh karena itu, peran guru penggerak sangat penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah.
Guru penggerak memiliki tugas yang tidak hanya mengajar, tetapi juga memotivasi peserta didik, untuk belajar dengan semangat dan tekun.
Guru penggerak juga bertanggung jawab untuk membantu peserta didik mengembangkan keterampilan yang berkelanjutan, seperti keterampilan pembelajaran abad 21, yang di cirikan dengan 4C (Communication, collaboration, creativity and inovatif, serta critical thingking.
Mereka harus memiliki kemampuan untuk merancang strategi pembelajaran yang efektif dan menarik, serta memfasilitasi diskusi dan interaksi yang menginspirasi antara peserta didik dan pendidik.
Namun, pertanyaan yang mendasar adalah apakah guru penggerak yang ada di tiap sekolah menjamin dapat mengubah kualitas wajah pendidikan di Indonesia?
Sebab, kecenderungan pada umumnya, kebanyakan para guru termasuk guru penggerak, hanya belajar saat sedang mengikuti pendidikan atau diklat, setelah itu kembali pada habitus lama, termasuk dalam implementasi pembelajaran di kelas, yang seharusnya pembelajaran berpusat pada peserta didik melalui diferensiasi, tetapi kenyataannya kebanyakan guru penggerak juga menerapkan metode ceramah yang berpusat pada guru, sama seperti guru yang bukan guru penggerak.
Jika demikian, apa bedanya guru penggerak dan yang bukan guru penggerak? Itu artinya status guru penggerak hanya sekedar nama tanpa makna.
Artinya guru penggerak hanya gagah gagahan diatas kertas, atau hanya casingnya saja, tetapi isinya atau kualitas sama saja, dan tidak akan mengubah kuaalitas wajah pendidikan di Indonesia.
Jika itu yang terjadi, maka uang triliunan rupiah untuk proyek ini, menjadi mubasir. Padahal yang diharapkan seorang alumni guru penggerak, harus bisa tampil beda dalam pembelajaran melalui diferensiasi pembelajaran, dan juga harus lebih kreatif dan inovatif dalam membelajarkan peserta didik di kelas dibandingkan dengan guru yang bukan guru penggerak.
Dan menurut hemat saya, ini sebagai salah satu pembeda di dalam kurikulum merdeka antara guru penggerak dan yang bukan guru penggerak. Mengapa?
Karena, guru penggerak lahir untuk memenuhi atau menjawabi kebutuhan atau tuntutan dalam kurikulum merdeka, khususnya untuk melahirkan peserta didik yang sejahtera dan bahagia (student wellbeing) sebagai generasi Z dan generasi emas 2045.
Guru penggerak, sesuai kompetensinya harus: Mengembangkan diri dan guru lain dengan refleksi, berbagi dan kolaborasi secara mandiri.
Pada segmen ini, guru penggerak harus terus mengupdate dan mengupgrade diri dengan rajin login ke PMM (Platform Merdeka Mengajar). Jika tidak sama saja dengan guru yang bukan guru penggerak.
Guru penggerak harus bisa menggerak dan mendorong, serta menginspirasi guru yang bukan guru penggerak. Memiliki kematangan moral, emosi dan spiritual untuk berperilaku sesuai kode etik.
Pada poin ini, seorang guru penggerak harus bisa memberikan contoh hidup yang baik, antara kata dan perbuatan harus sinkron. Ada ungkapan latin: verba movent, exempla trahunt, yang artinya kata kata menggerakan, namun teladan hidup lebih memikat atau menarik.
Merencanakan, menjalankan, merefleksikan dan mengevaluasi pembelajaran yang berpusat pada murid dengan melibatkan orang tua.
Pada bagian ini, seorang guru penggerak harus mampu mempersiapkan diri dengan baik, melalui pembelajaran berdiferensiasi dengan cara yang kreatif dan inovatif.
Berkolaborasi dengan orang tua dan komunitas untuk mengembangkan sekolah dan menumbuhkan kepemimpinan murid.
Pada tataran ini, seorang guru penggerak harus dapat bereksplorasi, berelaborasi dan berkonfirmasi, serta berkolaborasi dengan rekan sejawat, orang tua peserta didik, terkait bahan dan sumber belajar.
Bahwa keberhasilan dalam membelajarkan peserta didik tidak terlepas dari tri pusat pendidikkan, keluarga, sekolah dan masyarakat.
Ada ungkapan latin: Nemo Dat Quod Non Habet, artinya tak seorang pun mampu memberikan hal yang tak dia miliki. Oleh karena itu, seorang guru penggerak harus terus “move on” dalam mengkualitaskan diri.
Mengembangkan dan memimpin upaya mewujudkan visi sekolah yang berpihak pada murid dan relevan dengan kebutuhan komunitas di sekitar sekolah.
Terkait dengan kompetensi ini, seorang guru penggerak harus sungguh sungguh berperan sebagai agen perubahan yang di mulai dengan penyusunan visi dan misi sekolah, dengan melibatkan stakeholder sesuai kebutuhan peserta didik dan dunia sekitar, serta karakteristik satuan pendidikan.
Inilah kompetensi yang harus dimiliki dan dikuasai oleh seorang guru penggerak. Jika tidak memiliki dan menguasai kompetensi ini, maka ia bukanlah guru penggerak yang berkualitas. Melainkan guru penggerak penggembira.
Di eja lebih jauh, bahwa seorang guru penggerak, selain memiliki kompetensi sebagai guru penggerak, juga harus memiliki sejumlah keterampilan, yakni Berkomunikasi.
Seorang guru, apalagi guru penggerak harus memiliki keterampilan komunikasi yang baik, dan efektif, artinya pesan (message) yang disampaikan harus jelas, tidak membingungkan peserta didik.
Dengan demikian kunci keberhasilan dalam proses pembelajaran adalah komunikasi. Komunikas yang efektif adalah komunikasi yang tidak berbelit belit, tetapi singkat padat dan jelas.
Atau komunikasi yang efektif adalah keterampilan dan kemampuan menyederhanakan bahasa yang rumit, ribet, sulit dipahami peserta didik, tetapi para guru mampu menyederhanakan, sehingga mudah dipahami atau dicerna oleh peserta didik.
Atau dengan kata lain, materi yang sulit akan menjadi gampang, asyik dan menyenangkan (gasing). Oleh karena itu, salah satu dari 4C keterampilan abad 21, yang harus dimiliki dan dikuasai oleh seorang guru, apalagi sebagai guru penggerak adalah communication.
Apalagi komunikasi adalah keterampilan dasar yang harus dimiliki dan dikuasai oleh seorang guru. Selain keterampilan communication, 3C yang lain adalah collaboration, critical thinking, creativity and inovation.
Mendengarkan
Seorang guru, apalagi guru penggerak , juga harus memiliki keterampilan untuk mendengarkan. Tampaknya sederhana, tetapi kebanyakan guru, sulit untuk mendengarkan peserta didik.
Hal ini ditunjukkan lewat pembelajaran ceramah terus tanpa memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berkomunikasi dua arah atau untuk berinteraksi.
Keterampilan mendengarkan, berarti guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berbicara, untuk menyampaikan pendapat, ide, gagasan, dan guru mendengarkan.
Mengelola Kelas
Mengelola kelas adalah keterampilan yang sangat penting bagi seorang guru, apalagi sebagai guru penggerak. Keberhasilan seorang guru, apalagi guru penggerak dalam Proses Belajar Mengajar (PBM) juga sangat ditentukan oleh pengelolaan kelas yang baik.
Artinya seorang guru penggerak harus mampu memanage ataupun menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi peserta didik. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengatur tempat duduk peserta didik di kelas, membuat keyakinan kelas bersama peserta didik, serta mengatur waktu pembelajaran dengan baik.
Seorang guru, apalagi sebagai guru penggerak juga harus mampu mengorganisir peserta didik selama pembelajaran, sehingga peserta didik dapat mengikuti pembelajaran dengan baik.
Merancang dan Mengembangkan Materi Pembelajaran
Merancang dan mengembangkan materi pembelajaran adalah keterampilan penting yang harus dimiliki oleh seorang guru, apalagi sebagai guru penggerak.
Seorang guru penggerak harus mampu untuk selalu berkreatif dan berinovatif dalam membuat materi pembelajaran yang menarik dan relevan dengan kebutuhan peserta didik.
Hal ini dapat dilakukan dengan mengintegrasikan teknologi pada materi pembelajaran, menggunakan media pembelajaran yang menarik, serta membuat aktivitas pembelajaran yang interaktif dan menantang, sehingga pembelajaran menjadi menyenangkan bagi peserta didik.
Mengelola Waktu
Mengelola waktu adalah keterampilan yang perlu dimiliki oleh seorang guru, apalagi sebagai guru penggerak.
Seorang guru penggerak harus mampu memanage waktu pembelajaran dengan baik, mulai dari pembuka sampai refleksi pada bagian penutup, sehingga peserta didik dapat memperoleh pemahaman dan pengalaman belajar yang lebih baik tentang materi pelajaran.
Menggunakan Teknologi
Menggunakan teknologi adalah keterampilan yang sangat penting bagi seorang guru, apalagi guru penggerak di era digital. Seorang guru penggerak harus mampu memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, seperti menggunakan presentasi slide, video pembelajaran atau gambar interaktif.
Selain itu, seorang guru penggerak juga harus mampu memanfaatkan dan rajin mengunjungi Platform Merdeka Mengajar (PMM), sebagai sumber dan bahan ajar.
Dengan keterampilan menggunakan IT, maka seorang guru penggerak akan membuat pembelajaran di kelas akan semakin asyik dan menarik.
Memberikan Umpan Balik (feedback)
Memberikan umpan balik adalah keterampilan yang perlu dimiliki oleh seorang guru, apalagi sebagai guru penggerak.
Seorang guru, apalagi satu guru penggerak harus mampu memberikan umpan balik (feedback) yang jelas kepada peserta didik, sehingga peserta didik dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang materi pembelajaran.
Setiap guru harus memberikan kesempatan yang seluas luasnya kepada peserta didik, untuk melakukan umpan balik (feedback).
Bekerjasama (Kolaborasi).
Bekerjasama (kolaborasi) adalah keterampilan yang penting bagi seorang guru. Seorang guru penggerak harus mampu bekerja sama dengan rekan kerja, dalam membangun lingkungan belajar yang kondusif.
Dan yang tidak kalah penting adalah seorang guru penggerak harus selalu rendah hati didalam bekerjasama. Ibarat falsafah ilmu padi, semakin berisi, semakin merunduk.
Selain itu, seorang guru penggerak juga harus mampu bekerja sama dengan orangtua peserta didik dalam memperoleh dukungan dan kerjasama dalam memfasilitasi pembelajaran. Dan juga harus memiliki jejaring yang luas dengan rekan sejawat di sekolah lain.
Namun, apalah artinya memiliki kompetensi guru penggerak dan keterampilan, kalau tidak selalu mengupdate dan mengupgrade diri dengan terus belajar dan belajar sepanjang hayat.
Dengan belajar sepanjang hayat, maka spirit keilmuan akan tetap terjaga. Yakinlah seorang guru penggerak, yang terus “bergerak”, alias proaktif mengembangkan diri, pasti akan meraih kesuksesan dalam membelajarkan peserta didik.
Sebab, sebuah proses tidak mungkin mengkhianati hasil. Thomas Alva Edison, pernah berujar bahwa kesuksesan itu 1% itu hasil ide (inspiration) dan 99 % adalah hasil keringat (perspiration).
So, ide saja belum cukup untuk menjadikan seorang guru penggerak yang kreatif dan inovatif yang sukses, melainkan harus disertakan dengan tindakan “keringat” dalam mendesaign pembelajaran.
Perlu diingat, bahwa kesuksesan tidak datang dengan sendirinya, tetapi melalui usaha kerja keras yang namanya ‘Belajar’. Sebab, kebanyakan para guru merasa diri sudah tahu semuanya, apalagi sudah menjadi guru bertahun-tahun, sehingga tidak perlu lagi belajar, karena sudah ada pada zona yang nyaman.
Oleh karena itu, menjadi guru penggerak harus dapat “tampil beda”, yang kreatif dan inovatif dalam pembelajaran, dan itu sangat ditentukan oleh guru sendiri, sebab kesuksesan dalam pembelajaran hanya diperoleh melalui usaha kerja keras, yang akan menunjukan kualitas diri guru.
Bagi seorang pendidik kesuksesan tercermin pada`perubahan sikap atau perilaku peserta didik setelah mereka belajar bersama guru. Jadi bukan pertama-tama lulus 100%, tetapi bagaimana hasil 100% itu diikuti oleh perubahan.
sikap/perilaku/karakter peserta didik. Sekolah yang sukses adalah sekolah yang mampu menjadikan peserta didiknya memiliki karakter yang baik.
Lebih lanjut, bahwa sekolah yang bermutu adalah sekolah yang memiliki pendidik yang bermutu pula, yang mampu memproses peserta didik (input) yang tidak bermutu menjadi output (keluaran) yang bermutu, dan itu baru luar biasa dan itulah sekolah yang berkualitas/bermutu.
Jadilah guru penggerak yang selalu “tampil beda” yang kreatif dan inovatif, niscaya sekolah akan menghasilkan peserta didik yang berkualitas/bermutu.
Menjadi Guru Penggerak Yang Kreatif
Kreatif merupakan suatu kondisi dimana seorang guru memiliki kemampuan daya cipta. Seorang guru penggerak yang ’Kreatif’ berarti juga seorang guru yang (Konsisten, Refleksi, Efektif, Atraktif, Tekun, Inspiratif, Fleksibel).
Konsisten: seorang guru penggerak harus memiliki konsistensi dalam etos kerja, dalam membelajarkan peserta didik. Konsistensi atau konsisten adalah ketetapan, keteguhan, profesional.
Menurut KBBI Konsisten berarti: tetap (tidak berubah-ubah); taat asas; ajek; selaras; sesuai (perbuatan dengan ucapan). Jadi jika diuraikan, konsisten dapat berarti sifat yang selalu memegang teguh pada prinsip yang telah dicanangkan dalam diri seseorang.
Dengan demikian, guru penggerak yang konsisten adalah guru yang profesional, yang taat asas terhadap tuntutan perubahan, serta memiliki sifat yang memegang teguh pada prinsip pembelajaran yang aktual dan up to date.
Reflektif: seorang guru penggerak harus selalu melakukan refleksi atas kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan.
Refleksi bermakna sebagai pikiran, gagasan, pandangan yang terbentuk atau catatan yang dibuat berdasarkan hasil pertimbangan atau pemikiran yang serius.
Dalam bahasa sehari hari kata refleksi sering diartikan sama seperti instropeksi atau berkaca-diri.
Dalam bidang pendidikan Boud, dkk (1989: 19) memberi batasan refleksi sebagai kegiatan intelektual dan afektif di mana individu – individu terlibat dalam upaya mengeksplorasi pengalaman mereka dalam rangka mencapai pemahaman dan apresiasi-apresiasi baru.
Refleksi itu bisa dilakukan secara mandiri maupun bersama orang lain (peserta didik). Hal itu bisa dilakukan dengan baik ataupun buruk, bisa berhasil namun juga bisa gagal.
Namun dalam proses pendidikan semestinya diupayakan agar refleksi menjadi kegiatan yang produktif, karena akan menghasilkan kreasi dan inovasi dalam pembelajaran selanjutnya.
Jadi, guru penggerak yang kreatif, harus selau melakukan refleksi dalam selama proses pembelajaran, dan itu suatu keharusan serta sangat baik baginya (ingat PPR: Paradigma Pedagogi Reflektif ), terlebih bagi si pembelajar.
Bagi guru penggerak kemampuan untuk melakukan refleksi merupakan salah satu indikator dari guru yang profesional. Slavin (2000: 8) menyebutkan bahwa refleksi merupakan salah satu dari empat kemampuan pokok yang harus dikuasai oleh guru.
Tiga kemampuan lainnya adalah kemampuan mengambil keputusan, penguasaan bahan ajar dan pengaturan diri, serta kemampuan menerapkan hasil penelitian di bidang kependidikan.
Efektif: seorang guru penggerak harus efektif dalam melaksanakan PBM. Menurut KBBI ( Kamus Besar Bahasa Indonesia): kata efektif berarti ada efeknya (akibatnya, pengaruhnya, kesannya); dapat membawa hasil; berhasil guna (tt usaha, tindakan); mulai berlaku (tt undang-undang, peraturan).
Sedangkan definisi dari kata efektif yaitu suatu pencapaian tujuan secara tepat atau memilih tujuan-tujuan yang tepat dari serangkaian alternatif atau pilihan cara dan menentukan pilihan dari beberapa pilihan lainnya. Jadi, efektif berarti melakukan sesuatu yang benar (do the right thing).
Dengan demikian, guru penggerak yang efektif adalah guru yang melakukan PBM yang benar atau dapat membawa hasil yang memuaskan bagi peserta didik, bukan sebaliknya membuat peserta didik bingung.
Atraktif: seorang guru penggerak harus memiliki daya tarik (performance) dalam membelajarkan peserta didik; juga harus bersifat menyenangkan peserta didik.
Pembelajaran atraktif adalah suatu proses pembelajaran yang mempesona, menarik, mengasyikkan, menyenangkan, dan tidak membosankan.
Keterpesonaan peserta didik dalam proses pembelajaran sangat ditentukan oleh keterampilan guru dalam meramu /mengemas/ mendesaign materi pembelajaran.
Tekun: seorang guru penggerak yang kreatif haruslah seorang tekun, dan bersungguh-sungguh, dalam membelajarkan peserta didik, melalui mendidik dan mengajar.
Jadi, tugas pendidik tidak hanya mengajar tetapi juga mendidik. Tekun dan bersungguh-sungguh dalam hal ini, adalah tekun membaca dan menyiapkan bahan ajar dengan baik, serta bersungguh-sungguh dalam PBM bukan asal masuk kelas dan muatan amat lemah (MuAL).
Ketekunan seorang guru penggerak akan berdampak pada kesungguhan peserta didik, sebaliknya penddik yang santai/malas akan membuat peserta didik tidak bergairah/bersemangat, dalam mengikuti proses belajar mengajar.
Inspiratif: seorang guru penggerak yang kreatif haruslah bisa menginspirasi bagi orang lain (peserta didik dan rekan sejawat).
Inspiratif adalah sebuah pemikiran yang muncul sebagai akibat dari adanya ilham. Inspiratif bukan tindakan, tetapi sebuah pemikiran baru yang muncul dalam benak seseorang untuk menyatakan sebuah situasi baru, yang ingin diciptakan.
Dengan kata lain, inspiratif adalah “menginspirasi” yang punya arti “menimbulkan inspirasi atau mengilhami”. Dengan demikian, guru penggerak yang kreatif, harus bisa menimbulkan daya cipta bagi peserta didik dan rekan sejawat.
Fleksibilitas: seorang guru penggerak juga harus mampu bersikap fleksibel/tidak kaku. Sikap fleksibel yaitu: dapat beradaptasi dengan cepat tanggap, dalam keadaan darurat sekalipun, tanpa kehilangan kendali merupakan ketrampilan yang signifikan dalam mencapai tujuan.
Dengan bersikap fleksibel, seorang guru penggerak mudah beradaptasi dengan lingkungan apapun dan dengan siapapun. Dan untuk menjadi fleksibel caranya tidak merombak prinsip dan kepribadian.
Fleksibilitas (Flexibility) adalah kemampuan untuk beradaptasi dan bekerja dengan efektif dalam situasi yang berbeda, dan dengan berbagai individu atau kelompok.
Fleksibilitas membutuhkan kemampuan memahami dan menghargai pandangan yang berbeda serta bertentangan, mengenai suatu isu menyesuaikan pendekatannya, karena suatu perubahan situasi dan dapat menerima dengan mudah menerima masukan dari orang lain (peserta didik dan rekan sejawat).
Ingat tidak selamanya guru itu benar, ilmu bersifat tentatif (belum pasti; masih dapat berubah).
Menjadi Guru Penggerak Yang Inovatif
Guru Penggerak yang inovatif berarti seorang guru yang memiliki (Intelektual, Niat, Optimis, Variatif, Arif, Terampil, Imajinatif, Favorit).
Intelektual: seorang guru penggerak tentunya seorang yang berintelek dalam arti cerdas, berakal dan berpikiran jernih berdasarkan ilmu pengetahuan; daya atau proses pemikiran yang lebih tinggi yang berkenaan dengan pengetahuan; daya akal budi; kecerdasan berpikir; Dengan inteleknya, dia akan melakukan berbagai kreativitas dan inovasi dalam pembelajaran.
Dr. Catherine Jackson, psikolog klinis resmi dan dewan ahli neuroterapi, menjelaskan, orang yang memiliki kecerdasan intelektual adalah orang yang fleksibel dalam pemikiran, dapat beradaptasi dengan perubahan, berpikir sebelum berbicara, atau bertindak, dan mampu secara efektif mengelola emosinya. Itulah guru penggerak yang berintelek.
Niat: seorang guru penggerak yang inovatif harus memiliki maksud, tujuan, kehendak (keinginan dalam hati) untuk melakukan sesuatu yang bermakna bagi orang lain, khususnya dalam membelajarkan peserta didik. Niat yang tulus sangat penting dalam membelajarkan peserta didik.
Namun niat saja tidak cukup, melainkan harus diwujudkan dalam sebuah tindakan, berupa persiapan diri, mulai dari perencanaan sampai refleksi; Juga persiapan metode/model pembelajaran yang menyenangkan, menarik, bagi peserta didik, sesuai dengan bahan ajar yang akan di sajikan.
Optimis: seorang guru penggerak yang inovatif harus memiliki sikap optimisme dalam dirinya, dalam arti selalu berpengharapan (berpandangan) baik, dalam melakukan atau menghadapi segala hal. Oxford Dictionary mendefinisikan optimisme sebagai memiliki “harapan dan keyakinan tentang masa depan atau hasil yang sukses dari sesuatu;
Dengan demikian, seorang guru penggerak harus selalu optimis dalam membelajarkan peserta didik. Sikap optimis seorang guru penggerak juga berarti menunjukan rasa percaya diri, asal jangan sampai percaya diri yang berlebihan (Excessive confidence).
Hilangkan keraguan atau pun pesimistis dalam membelajarkan peserta didik., dan sebaliknya harus mampu tampil prima.
Variatif: seorang guru penggerak yang inovatif. harus memiliki metode/model yang variasi dalam membelajarkan peserta didik, agar peserta didik tidak bosan dalam mengikuti PBM (Proses Belajar Mengajar).
Metode mengajar yang variatif adalah penggunaan beberapa metode yang dipakai oleh seorang guru penggerak untuk mendapatkan hasil yang optimum. Seorang guru penggerak harus dapat membedakan antara metode dan model dalam pembelajaran.
Apalagi dalam kurikulum merdeka, pembelajaran berdiferensiasi menjadi salah satu opsi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik.
Apresiatif: seorang guru penggerak yang inovatif harus bersikap apresiasi, dalam artian mampu menilai (menghargai) sesuatu, khususnya terhadap peserta didik. Apresiasi berasal dari bahasa Inggris, appreciation yang berarti penghargaan yang positif. Apresiasi terbagi menjadi 3, yaitu kritik, pujian, dan saran. Efek dari pemberian apresiasi bagi seseorang (peserta didik) adalah orang tersebut akan lebih terpacu.
Dalam konteks guru di sekolah, maka guru penggerak sedapat mungkin memberikan apresiasi kepada setiap peserta didik yang “aktif” selama PBM (Proses Belajar Belajar) di kelas, sehingga peserta didik lebih termotivasi lagi.Apresiasi harus diberikan pada tempat, saat dan orang yang tepat, hilangkan unsur like or dislike ataupun pilih kasih.
Terampil: seorang guru penggerak yang inovatif harus terampil dalam memainkan perannya, teristimewa dalam membelajarkan peserta didik. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata terampil adalah cakap dalam menyelesaikan tugas. Atau arti lainnya adalah mampu dan cekatan.
Oleh karena itu, sebagai seorang guru penggerak terampil adalah harga mati dan merupakan suatu keharusan yang ada dalam diri guru penggerak. Terampil harus merupakan faktor pembeda antara guru penggerak dan yang bukan penggerak dalam mengelola pembelajaran, memimpin dan memanage sekolah.
Interaktif: seorang guru penggerak yang inovatif harus memiliki kemampuan berinteraksi dengan peserta didik saat PBM (Proses Belajar Mengajar), melalui dialog interaktif.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata dialog adalah karya tulis yang disajikan dalam bentuk percakapan antara dua tokoh atau lebih.
Sementara pengertian Interaktif adalah bersifat saling melakukan aksi. Dalam konteks PBM (Proses Belajar Mengajar), maka dialog interaktif adalah percakapan/komunikasi dua arah antara guru dan peserta didik. Dan dalam interaksi itulah, maka akan terjadi take and give, dalam koridor belajar antara pendidik dan peserta didik.
Dan dalam tindakan belajar itulah, akan terjadinya kegiatan mengajar. Dalam kurikulum merdeka, ruang atau panggung diberi seluas luas bagi guru dan peserta didik untuk belajar bersama sama dan bersama sama belajar. Dan di saat yang bersamaan terjadilah kegiatan mengajar.
Dengan demikian, benarlah arti KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) dan bukan KMB (Kegiatan Mengajar Belajar).
Fokus: seorang guru penggerak yang inovatif harus memiliki target pencapaian dalam membelajarkan peserta didik, yakni peserta didik yang cerdas dan berkarakter atau terciptanya profil pelajar pancasila.
Oleh karena itu, seorang guru penggerak harus fokus pada tujuan pencapaian itu, yakni berpusat pada peserta didik. Itu artinya seorang guru penggerak, hati dan pikirannya terarah pada keberhasilan peserta didiknya, terarah pada kesejahteraan dan kebahagiaan peserta didik.
Maka, singkirkan dan kesampingkan hal hal yang tidak ada hubungannya dengan peserta didik, sekalipun itu keluarga. Seorang guru penggerak harus bertindak dan bersikap profesional.
Akhirnya, sekali lagi seorang guru penggerak harus fokus pada tujuan utamanya terciptanya P3 (Profil Pelajar Pancasila) melalui kegiatan intrakurikuler, kurikuler (P5) dan ekstrakurikuler.
Fokus pada tugas utama adalah ciri guru penggerak yang profesional dan sudah tentu hasil kinerjanya pasti sangat memuaskan, maka layak diberi apresiasi (penghargaan). ***










