Tindakan mengakhiri hidup merupakan puncak akumulasi dari tekanan ekonomi, disfungsi keluarga, dan stigma yang membungkam penderitaan emosional. Oleh karena itu, penyelesaiannya tidak boleh dibebankan pada pundak individu semata.
Diperlukan rekayasa sosial yang konkret dan penuh empati. Kita perlu memperkuat kembali jaring pengaman komunitas. Kita harus membangun sistem dukungan yang inklusif di tingkat desa maupun sekolah.
Setiap nyawa berharga. Setiap jeritan sunyi layak didengar sebelum terlambat. Mari kita hadirkan kembali kepekaan kemanusiaan di tengah-tengah kita. *
Penulis adalah Staf Pengajar Stipar Ende










