Ketika Nafas Mereka Berakhir di Lembah Baliem - FloresPos Net - Page 3

Ketika Nafas Mereka Berakhir di Lembah Baliem

- Jurnalis

Jumat, 11 September 2026 - 16:23 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bupati Sikka mengecam. Wagub NTT murka. Kapolda berjanji mengusut tuntas. Satgas Damai Cartenz memburu pelaku. Semua itu perlu. Semua itu harus. Namun, di balik semua pernyataan resmi itu, ada tiga keluarga yang ‘tidak bisa dipulihkan dengan kata-kata’.

Ada seorang kakak yang tidak akan pernah bisa menjawab pertanyaan Alfonsius tentang korban gempa. Ada lima bersaudara yang kehilangan adik bungsu untuk kedua kalinya. Ada masyarakat Toraja dan Maumere yang kehilangan anak terbaiknya.

Sebagai seorang anak NTT, saya menulis kisah ini bukan sebagai jurnalis yang mencari sensasi, melainkan sebagai sesama orang NTT yang merasa kehilangan. Wajah mereka belum pernah saya jumpai. Namun, nuraniku diam terkesima ketika membaca kisah mereka. Sejatinya, mereka adalah kita, orang-orang timur yang merantau bukan untuk menaklukkan tanah orang, melainkan untuk melayani tanah orang sebagai tanah sendiri.

Baca Juga :  Catatan ETMC XXXIV Ende, Sepakbola Amatir NTT: Masih Bolehkah Kami Bermimpi?

Karena itu, ketika peluru memisahkan mereka dari rekan-rekan asli Papua, yang terluka bukan hanya keluarga ketiga korban. Yang terluka adalah gagasan tentang Indonesia, tanah tumpah darah kita. Gagasan bahwa kita adalah satu bangsa, satu tanah air, satu bahasa. Gagasan bahwa pengabdian kepada negara tidak mengenal suku, tidak mengenal asal, tidak mengenal agama.

Baca Juga :  Surat Cinta untuk Nagekeo

Kepada Aprida, Alfonsius, dan Willi, saya hanya bisa bilang ‘beristirahatlah dengan tenang’. Kalian pergi dalam menjalankan tugas, dan tugas itu telah kalian tunaikan dengan darah kalian sendiri.

Semoga di sana, di rumah Bapa yang sesungguhnya, tidak ada lagi peluru yang memisahkan, tidak ada lagi garis yang membelah, tidak ada lagi ‘kita’ dan ‘mereka’. Yang ada hanyalah ‘kita’.

Selamat jalan, saudari-saudaraku. Namamu harum di lembah Baliem, dan air matamu menjadi doa bagi Indonesia yang masih belajar mencintai.*

Penulis adalah Staf Pengajar Stipar Ende

Berita Terkait

Dari Tenda Tidur ke Tenda Belajar
Solidaritas yang Terluka di Tengah Bencana Gempa Flores
Gempa dan Gempar: Dari Guncangan Alam Menuju Gerakan Meningkatkan Pendapatan Asli Rakyat Flores
Catatan Kemanusiaan Pascagempa Flores 2026: Tenda Pengungsian Bukan Tempat Aman bagi Perempuan dan Anak
Peran Strategis Inpres Jalan Daerah untuk Pemerataan Ekonomi dan Kawasan 3TP
Bencana, Apakah Membawa Berkah?
Gempa Tektonik Flores, Jurnalisme Terlibat, dan Pers Sebagai Pilar Keempat Demokrasi
Menghubungkan Titik Terluar: Urgensi Transportasi Publik di Perbatasan Kalimantan Barat
Berita ini 14 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 12 September 2026 - 12:58 WITA

Dari Tenda Tidur ke Tenda Belajar

Jumat, 11 September 2026 - 16:23 WITA

Ketika Nafas Mereka Berakhir di Lembah Baliem

Kamis, 10 September 2026 - 19:11 WITA

Solidaritas yang Terluka di Tengah Bencana Gempa Flores

Senin, 7 September 2026 - 09:18 WITA

Gempa dan Gempar: Dari Guncangan Alam Menuju Gerakan Meningkatkan Pendapatan Asli Rakyat Flores

Senin, 7 September 2026 - 08:03 WITA

Catatan Kemanusiaan Pascagempa Flores 2026: Tenda Pengungsian Bukan Tempat Aman bagi Perempuan dan Anak

Berita Terbaru

Opini

Dari Tenda Tidur ke Tenda Belajar

Sabtu, 12 Sep 2026 - 12:58 WITA

Nusa Bunga

Polwan Polres Ende Berikan Trauma Healing di SD Inpres Tetandara

Sabtu, 12 Sep 2026 - 12:24 WITA

Advertorial

BPOLBF Dampingi Ratusan UMKM di NTT

Sabtu, 12 Sep 2026 - 12:21 WITA

Bentara Net

BENTARA NET: Di Balik Status yang Berakhir

Sabtu, 12 Sep 2026 - 10:57 WITA