Bupati Sikka mengecam. Wagub NTT murka. Kapolda berjanji mengusut tuntas. Satgas Damai Cartenz memburu pelaku. Semua itu perlu. Semua itu harus. Namun, di balik semua pernyataan resmi itu, ada tiga keluarga yang ‘tidak bisa dipulihkan dengan kata-kata’.
Ada seorang kakak yang tidak akan pernah bisa menjawab pertanyaan Alfonsius tentang korban gempa. Ada lima bersaudara yang kehilangan adik bungsu untuk kedua kalinya. Ada masyarakat Toraja dan Maumere yang kehilangan anak terbaiknya.
Sebagai seorang anak NTT, saya menulis kisah ini bukan sebagai jurnalis yang mencari sensasi, melainkan sebagai sesama orang NTT yang merasa kehilangan. Wajah mereka belum pernah saya jumpai. Namun, nuraniku diam terkesima ketika membaca kisah mereka. Sejatinya, mereka adalah kita, orang-orang timur yang merantau bukan untuk menaklukkan tanah orang, melainkan untuk melayani tanah orang sebagai tanah sendiri.
Karena itu, ketika peluru memisahkan mereka dari rekan-rekan asli Papua, yang terluka bukan hanya keluarga ketiga korban. Yang terluka adalah gagasan tentang Indonesia, tanah tumpah darah kita. Gagasan bahwa kita adalah satu bangsa, satu tanah air, satu bahasa. Gagasan bahwa pengabdian kepada negara tidak mengenal suku, tidak mengenal asal, tidak mengenal agama.
Kepada Aprida, Alfonsius, dan Willi, saya hanya bisa bilang ‘beristirahatlah dengan tenang’. Kalian pergi dalam menjalankan tugas, dan tugas itu telah kalian tunaikan dengan darah kalian sendiri.
Semoga di sana, di rumah Bapa yang sesungguhnya, tidak ada lagi peluru yang memisahkan, tidak ada lagi garis yang membelah, tidak ada lagi ‘kita’ dan ‘mereka’. Yang ada hanyalah ‘kita’.
Selamat jalan, saudari-saudaraku. Namamu harum di lembah Baliem, dan air matamu menjadi doa bagi Indonesia yang masih belajar mencintai.*
Penulis adalah Staf Pengajar Stipar Ende










