Oleh: Ansel Atasoge
MASA tanggap darurat bencana gempa bumi Flores di Kabupaten Ende akan resmi ditutup pada tanggal 12 September 2026. Namun, realitas di lapangan menceritakan kisah yang sangat berbeda.
Ratusan warga Dusun Nioniba, Desa Kebirangga, Kecamatan Maukaro, masih bertahan di posko pengungsian dan tenda-tenda darurat. Kini mereka menunggu kepastian di tengah ketidakpastian yang menyelimuti masa depan mereka.
Namun, ada hal yang mesti ‘dipastikan’ kembali. Mengapa? Terdapat kesenjangan mencolok antara data administratif dan kondisi faktual di lapangan. Laporan resmi menyebutkan angka nol untuk pengungsi di posko terpusat.
Padahal, fakta di lapangan berteriak lantang. Sekitar 500 warga dari 158 Kepala Keluarga masih memilih bertahan di tenda pengungsian mandiri. Mereka bertahan karena pilihan itu adalah satu-satunya benteng pertahanan yang mereka miliki saat ini.
Angka-angka statistik ini sering kali tak utuh menangkap derita manusia yang sesungguhnya. Rumah-rumah mereka retak atau hancur. Mereka takut kembali ke bangunan yang rapuh. Ketakutan ini sangat beralasan dan memerlukan respons yang nyata dari para pemangku kebijakan.
Penanganan pascabencana harus melampaui distribusi bantuan logistik semata. Pemenuhan kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, dan selimut memang penting.
Akan tetapi, pemulihan trauma dan jaminan tempat tinggal yang layak merupakan hak mendasar yang wajib dipenuhi. Manusia tidak hidup hanya dari beras dan mie instan. Mereka hidup dari rasa aman dan harapan.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya









