BENTARA NET: Perempuan, Kelapa, dan Matahari - FloresPos Net

BENTARA NET: Perempuan, Kelapa, dan Matahari

- Jurnalis

Sabtu, 11 Juli 2026 - 08:04 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Ansel Atasoge

PULAU Adonara dan Desa Bantala di Kabupaten Flores Timur memiliki satu kesamaan yang mencolok: hamparan kebun kelapa yang membentang luas di setiap sudut desa.

Tanaman kelapa menjadi tanaman spesial bagi mereka. Tanaman ini adalah sumber kehidupan, penghasil kopra, dan kini menjadi bukti bahwa teknologi sederhana mampu mengubah wajah ekonomi desa.

Dua kelompok masyarakat, Konten Kaka Rindu di Desa Adobala dan Wolosina Watoboki di Desa Bantala, menunjukkan bagaimana pengolahan kelapa bisa dilakukan dengan cara yang berbeda.

Mereka tidak lagi menjemur kelapa di halaman rumah yang bergantung pada cuaca. Mereka kini menggunakan Rumah Energi Matahari (REM), sebuah rumah jemur beratapkan plastik Ultra Violet yang memanfaatkan panas matahari secara optimal.

Perubahan ini membawa dampak besar. Mama Rina, Ketua Konten Kaka Rindu, bercerita bahwa dengan REM, kopra putih bisa dihasilkan dalam waktu empat hingga lima hari. Kualitasnya pun lebih baik. Berwarna putih bersih dan terlindung dari hujan serta gangguan ternak. Sebelumnya, proses penjemuran tradisional memakan waktu lama dan hasilnya sering kali tidak maksimal.

Di Desa Bantala, cerita serupa disampaikan Elisabet Fuer. Kelompok Wolosina Watoboki yang beranggotakan mayoritas perempuan, termasuk penyandang difabel, kini memproduksi kopra putih dan briket dari tempurung kelapa dengan bantuan REM. Mereka tidak perlu lagi was-was mengangkat kelapa saat mendung datang.

Baca Juga :  ‘Presidensi untuk Semua’ dan Ikhtiar Menjaga Martabat Manusia

Yang menarik dari kedua kelompok ini adalah peran perempuan sebagai aktor utama. Melalui program We for JET yang digagas Yayasan Pengkajian dan Pengembangan Sosial (YPPS) bersama Oxfam dan Penabulu, perempuan didorong menjadi penggerak ekonomi hijau dan energi terbarukan di tingkat komunitas. Mereka bukan lagi pelengkap, melainkan pemimpin yang mengambil keputusan tentang penggunaan energi bersih dan pengelolaan usaha.

Dampaknya terasa hingga ke urusan keuangan rumah tangga. Kedua kelompok ini juga menjalankan sistem simpan pinjam bernama SILC (Savings and Internal Lending Communities).

Setiap minggu, anggota berkumpul dan menyetor tabungan dengan jumlah yang mereka sepakati sendiri. Bunga pinjaman pun ditentukan bersama, bukan dipatok oleh lembaga keuangan. Berkat SILC, anggota kelompok bisa membeli kebutuhan sehari-hari dan menyekolahkan anak tanpa harus berutang ke rentenir.

Ada pula nilai lingkungan yang tidak bisa diabaikan. Tempurung kelapa yang dulu dibuang, kini diolah menjadi arang dan briket. Arang dari tempurung kelapa dihargai Rp13 ribu per kilogram dan dibeli langsung oleh pedagang di desa.

Briket digunakan anggota untuk memasak, sehingga mereka hemat biaya minyak tanah dan kompor tidak berasap. Konten Kaka Rindu bahkan meraih penghargaan atas penanaman kembali 1.288 pohon kelapa untuk peremajaan kebun.

Baca Juga :  BENTARA NET: Euforia Petasan

Data BPS NTT tahun 2025 mencatat, produksi kelapa Kabupaten Flores Timur mencapai 18.639,13 ton. Itu terbesar di NTT. Sebagian besar pasokan ini berasal dari Pulau Adonara.

Potensi ini sangat besar, tetapi selama ini nilai ekonominya belum sepenuhnya dinikmati oleh petani sendiri. Banyak kelapa gelondongan justru dibeli dan dibawa ke wilayah lain untuk diolah di pabrik-pabrik besar.

Kisah dari Adobala dan Bantala menawarkan jawaban atas persoalan itu. Dengan teknologi tepat guna seperti REM, kelompok simpan pinjam mandiri seperti SILC, dan keberanian perempuan untuk memimpin, desa-desa penghasil kelapa bisa bertransformasi. Mereka tidak hanya menjual bahan mentah, tetapi mengolahnya menjadi produk bernilai tinggi: kopra putih, arang, dan briket.

Pemerintah daerah dan berbagai pihak perlu memperhatikan model ini. Dukungan tidak harus selalu berupa bantuan modal besar. Yang dibutuhkan adalah penguatan kapasitas, pendampingan, dan kepercayaan kepada masyarakat untuk mengelola potensi mereka sendiri.

REM dan SILC adalah bukti bahwa kemandirian ekonomi desa bisa dimulai dari hal yang paling dekat: kelapa, matahari, dan gotong royong warga.

Flores Timur memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Yang tidak kalah luar biasa adalah semangat perempuan-perempuan di Adobala dan Bantala yang membuktikan bahwa perubahan bisa dimulai dari desa, oleh warga desa, dan untuk kesejahteraan warga desa. *

Berita Terkait

BENTARA NET: Dignitas Sang Penjual Bawang
BENTARA NET: Mitos Energi Bersih dan Ancaman Ekologis
BENTARA NET: Memilih Berdiri Bersama ‘Rumah Bersama’
BENTARA NET: Di Atas Nisan Sang Ayah
BENTARA NET: Memulihkan Jiwa Masa Depan
BENTARA NET: Merajut Asa di Atas Puing
BENTARA NET: Di Balik Status yang Berakhir
BENTARA NET: Menanti Aksi untuk ‘Ruang Suci’
Berita ini 54 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 19:53 WITA

BENTARA NET: Dignitas Sang Penjual Bawang

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 10:03 WITA

BENTARA NET: Mitos Energi Bersih dan Ancaman Ekologis

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 10:27 WITA

BENTARA NET: Memilih Berdiri Bersama ‘Rumah Bersama’

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 09:29 WITA

BENTARA NET: Di Atas Nisan Sang Ayah

Sabtu, 26 September 2026 - 10:59 WITA

BENTARA NET: Memulihkan Jiwa Masa Depan

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Longsor Terjadi di Bola, Wabup Sikka Himbau Warga Selalu Waspada

Rabu, 28 Okt 2026 - 19:51 WITA